Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Parera (AHP) menekankan pentingnya penguatan karakter bangsa dan ketahanan budaya dalam kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila di Manggarai Barat, Sabtu (24/10/2026).
KATANTT.COM---Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Andreas Hugo Parera (AHP), menekankan pentingnya pembangunan karakter bangsa dan penguatan ketahanan budaya di tengah derasnya arus globalisasi. Menurutnya, pembentukan karakter harus dimulai sejak dini melalui lingkungan keluarga, dunia pendidikan, dan masyarakat.
Hal itu disampaikan Andreas saat menjawab pertanyaan peserta dalam kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila di Desa Dalong, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Sabtu (24/10/2026).
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi DPR RI dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI. Hadir dalam kegiatan itu sejumlah pejabat struktural BPIP, anggota DPRD Kabupaten Manggarai Barat Silverius Syukur dan Lasarus Pen, serta peserta dari berbagai unsur, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan hingga tokoh pemuda.
Dalam pemaparannya, Andreas mencontohkan Korea Selatan sebagai negara yang mampu berkembang menjadi negara maju meskipun memiliki keterbatasan sumber daya alam. Menurutnya, budaya kerja keras dan karakter masyarakat menjadi salah satu faktor penting yang mendukung kemajuan negara tersebut.
“Coba kita bandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Orang Korea Selatan itu orang-orangnya pekerja keras. Korea Selatan tidak banyak sumber daya alam, tetapi mereka menjadi bangsa yang maju. Kalau kita lihat, mengapa sampai seperti itu? Karena budaya,” ungkap Andreas.
Ia juga menyoroti kuatnya pengaruh budaya populer Korea Selatan di Indonesia, terutama melalui drama Korea (drakor), tren perawatan kulit atau skincare, serta berbagai produk budaya yang digemari masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurut Andreas, fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar identitas suatu bangsa, melainkan juga memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter, pola pikir, dan perilaku masyarakat.
“Sekarang, anak-anak muda itu justru lebih suka drakor. Ibu-ibu kalau nonton drakor tidak mau berhenti, tidak mau lepas dari channel drakor. Anak-anak juga, kalau skincare itu harus dari Korea,” katanya.
Fenomena tersebut, lanjut Andreas, perlu menjadi bahan refleksi bersama mengenai upaya membangun karakter bangsa sekaligus memperkuat ketahanan budaya Indonesia di tengah pengaruh budaya asing.
Ia juga mengingatkan kembali gagasan Presiden pertama RI, Soekarno, tentang nation and character building atau pembangunan bangsa dan karakter. Menurutnya, gagasan tersebut tetap relevan dalam menghadapi tantangan perubahan zaman.
“Bung Karno dulu sudah mengingatkan bahwa penting kita membangun karakter bangsa, nation and character building. Nah, ini penting tadi, mulai dari keluarga, dunia pendidikan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Andreas menegaskan bahwa penguatan ketahanan budaya bukan berarti menutup diri dari pengaruh budaya bangsa lain. Sebaliknya, masyarakat Indonesia harus tetap terbuka untuk berinteraksi dan belajar dari negara maupun kelompok masyarakat lain, tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia.
“Kita sedang tidak menutup diri dengan budaya bangsa lain, tetapi kita punya kepercayaan diri bahwa kita orang Indonesia. Kita bisa berkenalan, berhubungan dengan orang-orang dari bermacam-macam negara, bermacam-macam suku bangsa. Tapi tetap saya orang Indonesia,” ujarnya.
Ia menilai, kepercayaan diri terhadap identitas nasional merupakan salah satu indikator penting ketahanan budaya. Dengan karakter yang kuat, masyarakat diharapkan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kebangsaan yang menjadi landasan kehidupan bersama.
Karena itu, Andreas mengajak keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk berperan aktif dalam membentuk karakter anak sejak dini. Ketiga lingkungan tersebut memiliki posisi strategis dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila, membangun kepribadian, serta menumbuhkan kecintaan terhadap identitas dan budaya Indonesia.