Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, meninjau langsung kerusakan Gereja Paroki Santu Fransiskus Assisi Karot pada Jumat (23/10/2026).
KATANTT.COM---Dampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang pada 15 Agustus 2026 masih menyisakan nestapa bagi masyarakat. Di tengah upaya pemulihan pascabencana, sekitar 3.000 umat Gereja Paroki Santu Fransiskus Assisi Karot, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa beribadah di luar gedung setelah gereja yang baru dibangun mengalami kerusakan berat pada bagian plafon.
Kondisi tersebut membuat gedung gereja sama sekali tidak aman untuk digunakan. Persoalan ini semakin mendesak karena masyarakat kini menghadapi ancaman musim hujan, sementara kepastian penanganan kerusakan bangunan belum diperoleh.
Di tengah kebutuhan umat untuk kembali beribadah dengan aman dan nyaman, bantuan yang diharapkan belum menunjukkan kepastian realisasi. Padahal, proposal penanganan kerusakan telah diajukan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan peninjauan langsung sebelumnya juga telah dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Kondisi memprihatinkan tersebut mendapat perhatian Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, yang meninjau langsung kerusakan Gereja Paroki Santu Fransiskus Assisi Karot pada Jumat (23/10/2026).
Dalam kunjungan itu, Andreas menyoroti belum adanya kejelasan tindak lanjut atas usulan bantuan yang telah diajukan. Menurutnya, kerusakan pada plafon membuat gereja yang baru dibangun tersebut praktis tidak dapat digunakan untuk kegiatan peribadatan.
"Gereja ini baru dibangun, tetapi kerusakan plafonnya membuat bangunan praktis tidak bisa digunakan. Usulan ke BNPB sudah diajukan, tetapi sampai sekarang belum ada kejelasan realisasinya," tegas Hugo di lokasi peninjauan.
Bagi sekitar 3.000 umat, kerusakan tersebut bukan sekadar persoalan bangunan. Mereka kehilangan tempat ibadah yang aman dan terpaksa menjalankan kegiatan keagamaan di luar gedung, meskipun cuaca semakin tidak menentu.
Hugo mendesak BNPB agar segera mengambil langkah konkret untuk menangani kerusakan gereja tersebut, termasuk membantu lokasi-lokasi lain yang membutuhkan penanganan pascabencana.
"Saya akan minta BNPB segera melakukan tindakan penanganan bantuan. Ada sekitar 3.000 umat yang tidak bisa menggunakan gereja dan selama ini harus beribadah di luar. Menjelang musim hujan, harus ada jalan agar mereka bisa kembali beribadah di dalam gereja," ujarnya.
Desakan tersebut menjadi penting karena kebutuhan umat tidak bisa terus menunggu di tengah ketidakpastian penanganan. Selain memastikan keselamatan jemaat, perbaikan gereja juga diperlukan agar kegiatan peribadatan dapat kembali berlangsung secara layak, terutama ketika musim hujan mulai mengancam.
Selain lambatnya kepastian penanganan, keterbatasan waktu pelaksanaan anggaran pemerintah menjadi tantangan tersendiri. Andreas menyoroti bahwa tahun anggaran 2026 segera berakhir, sehingga peluang merealisasikan bantuan melalui anggaran berjalan perlu segera ditelusuri.
Ia mengakui belum mengetahui secara pasti apakah perbaikan Gereja Paroki Karot telah dimasukkan dalam anggaran PUPR tahun ini. Namun, ia berharap kemungkinan pemanfaatan sisa lebih anggaran dapat menjadi salah satu jalan untuk membantu mempercepat penanganan.
"Anggaran sudah mendekati penutupan tahun. Kalau ada sisa lebih anggaran yang tidak terpakai, mudah-mudahan bisa dimanfaatkan. Saya belum tahu apakah perbaikan ini sudah masuk anggaran PUPR tahun ini atau belum, tetapi kita akan melihat dan mencari jalan lain," kata Hugo.
Ia berharap ada solusi agar kerusakan gereja tidak terus dibiarkan tanpa kepastian, sementara ribuan umat masih harus beribadah di luar gedung.
Persoalan Gereja Paroki Santu Fransiskus Assisi Karot kini menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut perbaikan rumah dan infrastruktur umum, tetapi juga fasilitas keagamaan yang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat.
Bagi ribuan umat di Karot, harapan mereka sederhana: gereja kembali aman digunakan, sehingga mereka dapat beribadah dengan tenang tanpa dihantui ancaman kerusakan bangunan maupun cuaca buruk.
Hugo pun mengajak semua pihak untuk berharap dan mendoakan agar jalan keluar bagi penanganan kerusakan gereja tersebut segera ditemukan.
“Mohon doanya,” imbuhnya.
Sementara Pastor Paroki St. Fransiskus Asisi Karot, Pater Boniventura Yulius Lelo, OFM, berharap BNPB dan Kementerian PUPR segera merealisasikan perbaikan gedung gereja yang rusak akibat gempa. Pasalnya, bangunan tersebut telah diobservasi pascagempa dan dijanjikan untuk diperbaiki pada tahun ini.
"Kami berharap BNPB dan PUPR segera merealisasikan perbaikan gereja ini. Gedung sudah diobservasi pascagempa dan dijanjikan diperbaiki tahun ini. Kami berharap janji itu benar-benar terwujud demi kenyamanan dan keselamatan umat dalam beribadah," ungkapnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada anggota DPR RI, Andre Hugo, yang telah meninjau langsung kondisi Gereja Karot. Ia berharap kunjungan tersebut menjadi pintu masuk bagi percepatan penanganan, sehingga aspirasi umat Paroki Karot mendapat perhatian dan jawaban nyata.
"Terima kasih kepada Bapak Andre Hugo yang telah melihat langsung kondisi gereja kami. Kami berharap melalui beliau dan timnya di Senayan, kerinduan umat Paroki Karot untuk beribadah dengan aman di gereja yang layak dapat segera terjawab," tutupnya.