• Nusa Tenggara Timur

Hampir Dua Bulan di Pengungsian, Lansia Sakit di Paralando Menanti Obat dan Tenda Layak

Wilibrodus Jatam | Jum'at, 09/10/2026 15:08 WIB
Hampir Dua Bulan di Pengungsian, Lansia Sakit di Paralando Menanti Obat dan Tenda Layak Kondisi salah satu tenda pengungsian warga terdampak gempa di Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai.

KATANTT.COM---Hampir dua bulan lebih setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026, kehidupan warga terdampak di sejumlah wilayah belum sepenuhnya pulih. 

Di Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, para pengungsi, terutama lanjut usia (lansia) yang sedang sakit, masih berjuang menghadapi keterbatasan pelayanan kesehatan, obat-obatan, dan tempat tinggal yang layak.

Di tengah upaya pemerintah memasuki fase pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, sebagian warga masih bertahan di tenda pengungsian. Bagi mereka, bencana belum benar-benar berakhir. 

Guncangan gempa memang telah berlalu, tetapi rasa takut, kondisi kesehatan yang menurun, serta ketidakpastian untuk kembali ke rumah masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Tak lama setelah gempa terjadi, pemerintah menjanjikan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, penyaluran bantuan logistik, dan keberlangsungan layanan pendidikan. 

Namun, berdasarkan penelusuran media ini di sejumlah wilayah Desa Paralando hingga awal Oktober 2026, pemulihan belum sepenuhnya dirasakan oleh warga yang masih tinggal di pengungsian.

Kondisi tersebut terutama dirasakan para lansia dan warga yang sedang sakit. Mereka tidak hanya membutuhkan makanan dan tempat berlindung, tetapi juga pemeriksaan kesehatan secara berkala, obat-obatan yang sesuai dengan keluhan, serta sarana transportasi untuk menjangkau fasilitas kesehatan.

Salah seorang warga, Fransiskus Babel, yang berusia 67 tahun berdasarkan pengakuannya, tinggal di Dusun Piso, Desa Paralando. Sejak gempa mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026, ia terpaksa meninggalkan rumah dan tinggal di tenda pengungsian bersama warga lainnya.

Hampir dua bulan berlalu, kondisi kesehatannya justru menjadi beban yang semakin berat.

Sakit di Pengungsian, Obat yang Dibutuhkan Belum Terpenuhi

Fransiskus mengaku mengalami sejumlah keluhan kesehatan, mulai dari demam, batuk berat, flu, sakit kepala, kolesterol tinggi, asam urat, hingga sakit pinggang.

Kondisi fisiknya membuat aktivitas sederhana, seperti duduk, berdiri, dan berjalan, menjadi semakin sulit. Nyeri pada lutut serta persendian tangan dan kaki turut membatasi geraknya.

"Sekarang saya sakit. Saya mengalami demam, batuk keras, flu, sakit kepala, kolesterol, asam urat, dan sakit pinggang," tutur Franciscus saat diwawancarai di lokasi pengungsian pada Jumat, (9/10/2026).

Ia mengatakan, dirinya pernah mendapatkan kunjungan tenaga medis. Namun, menurut pengalamannya, pelayanan saat itu lebih banyak berupa tanya jawab mengenai keluhan yang dirasakan.

Petugas juga melakukan pemeriksaan darah. Dari pemeriksaan tersebut, ia mengetahui kadar kolesterolnya mencapai 256 dan asam uratnya 10, sesuai angka yang disampaikan kepada media ini.

Fransikus mengaku tidak memperoleh obat yang dibutuhkan saat kunjungan tersebut. Dalam kunjungan berikutnya ke pos kesehatan, ia baru mendapatkan obat untuk mengatasi batuk dan sakit kepala.

“Waktu itu dokter hanya menanyakan keluhan dan memeriksa darah. Kolesterol saya 256, asam urat 10. Namun, saat itu tidak ada obat yang diberikan,” ungkapnya.

Keterbatasan obat membuat Franciskus berharap pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian tidak berhenti pada pemeriksaan awal, tetapi dilanjutkan dengan penanganan yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien.

Bagi warga lansia yang memiliki lebih dari satu keluhan kesehatan, ketersediaan obat dan pemeriksaan lanjutan menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.

Tenda Pengungsian Belum Memberikan Rasa Aman

Selain persoalan kesehatan, kondisi tempat tinggal sementara juga menjadi perhatian Fransiskus.

Sejak gempa terjadi, ia pertama kali mengungsi di lokasi yang berjarak sekitar 200 meter ke arah barat dari tempat pengungsian yang ditempatinya sekarang. Ia kemudian berpindah ke tenda yang lebih dekat dengan rumahnya.

Meski tempat tidurnya sudah dilengkapi kasur spons, ia menilai kondisi tenda belum memberikan kenyamanan dan rasa aman yang memadai, terutama bagi lansia yang sedang sakit.

Menurutnya, angin yang bertiup cukup kencang pada malam hari menjadi salah satu kesulitan yang harus dihadapi para pengungsi.

"Menurut saya, tenda ini sebenarnya kurang layak untuk ditempati manusia. Banyak faktor yang membuat saya merasa tidak aman, terutama ketika angin bertiup kencang pada malam hari," katanya.

Ia juga mengaku kondisi kesehatannya terasa semakin berat selama tinggal di pengungsian.

Untuk warga yang sehat, bertahan di tenda mungkin sudah menjadi perjuangan tersendiri. Namun, bagi lansia yang tubuhnya sedang melemah, kondisi tersebut menghadirkan tantangan yang lebih besar.

Fransiskus harus menghadapi penyakitnya di tengah keterbatasan tempat tinggal. Pada saat yang sama, ia masih dibayangi trauma akibat gempa yang merusak rumah-rumah warga dan menelan korban jiwa.

Hingga kini, rumah miliknya masih mengalami keretakan. Karena itu, ia belum berani kembali menempatinya dan memilih tetap tinggal di pengungsian.

Trauma Belum Hilang, Guncangan Kecil Masih Menakutkan

Bagi Fransiskus, gempa 15 Agustus 2026 bukan sekadar peristiwa yang merusak bangunan. Bencana itu meninggalkan ketakutan yang masih dirasakan hingga sekarang.

Ia mengingat kembali kuatnya guncangan yang terjadi ketika gempa melanda Flores. Kerusakan rumah warga dan adanya korban meninggal dunia menambah beban psikologis masyarakat yang terdampak.

"Sejak gempa terjadi, kami merasa trauma dengan guncangan yang begitu hebat. Banyak rumah masyarakat rusak, bahkan ada manusia yang meninggal. Sampai hari ini kami masih merasa trauma. Begitu terasa goyangan sedikit saja, kami langsung takut," tuturnya.

Ketakutan tersebut membuat kehidupan di pengungsian tidak sepenuhnya menghadirkan ketenangan. Setiap perubahan kondisi yang mengingatkan mereka pada gempa dapat kembali memunculkan rasa cemas.

Bagi lansia yang sedang sakit, beban itu semakin berat karena harus menghadapi ketidaknyamanan tempat tinggal sekaligus memikirkan kondisi kesehatan yang belum pulih.

Mereka membutuhkan bukan hanya bantuan fisik, tetapi juga perhatian terhadap rasa aman dan pemulihan psikologis setelah bencana.

Pelayanan Kesehatan Sulit Dijangkau

Persoalan lain yang disoroti Fransiskus adalah belum tersedianya kendaraan yang dapat membantu warga sakit menjangkau fasilitas kesehatan.

Ia mengatakan, jarak menuju tempat pemeriksaan kesehatan cukup jauh, sementara kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk bergerak dengan mudah.

Jika penyakitnya memburuk, ia tidak mengetahui adanya kendaraan yang siap membantu mengantarkannya mendapatkan pertolongan medis.

"Kalau kondisi kami memburuk, tidak ada kendaraan yang tersedia untuk membawa kami ke tempat pemeriksaan kesehatan. Padahal, jaraknya cukup jauh," ujarnya.

Menurut Fransiskus, situasi tersebut membuat warga lansia dan pasien yang sedang sakit berada dalam kondisi rentan, terutama ketika membutuhkan penanganan segera.

Ia berharap pemerintah dan dinas kesehatan dapat mendekatkan pelayanan medis ke tenda-tenda pengungsian, bukan hanya menunggu warga datang ke fasilitas kesehatan.

Kunjungan petugas kesehatan secara berkala, menurutnya, sangat penting untuk memantau kondisi lansia, memastikan kebutuhan obat terpenuhi, serta mengetahui lebih awal apabila ada warga yang membutuhkan penanganan lanjutan.

"Yang kami butuhkan adalah pelayanan kesehatan yang lebih dekat. Kalau bisa, petugas kesehatan mengunjungi tenda-tenda warga, terutama tenda yang dihuni lansia dan orang sakit," katanya.

Di tengah kondisi kesehatan yang menurun, Fransiskus juga menyebut sejumlah kebutuhan sehari-hari yang masih harus diperhatikan.

Ia menyoroti kebutuhan makanan, sayur-sayuran, lauk-pauk, air minum yang aman, obat-obatan, dan tempat tinggal sementara yang layak.

Menurutnya, kebutuhan tersebut sangat penting bagi lansia yang tidak lagi memiliki kekuatan fisik seperti warga usia muda.

Ia mengakui bahwa kondisi fasilitas dasar di lokasi pengungsian saat ini lebih baik dibandingkan lokasi pertama. Toilet sudah lebih layak dan ketersediaan air juga dinilai lebih baik. Namun, ia masih memiliki kekhawatiran mengenai kelayakan air minum yang dikonsumsi warga.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perbaikan fasilitas pengungsian perlu terus dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan warga yang paling rentan.

Bagi Fransiskus, bantuan tidak cukup hanya berupa tempat berteduh dan makanan. Warga juga membutuhkan kepastian bahwa mereka dapat menjalani hari-hari di pengungsian tanpa harus terus-menerus mengkhawatirkan kesehatan dan keselamatan.

Menanti Hunian Sementara yang Layak

Salah satu harapan utama Fransiskus adalah pembangunan hunian sementara yang layak bagi warga yang rumahnya rusak akibat gempa.

Ia berulang kali menyebut kebutuhan tersebut sebagai hal mendesak. Baginya, tenda yang ditempati sekarang belum cukup memberikan perlindungan dan kenyamanan, terutama bagi lansia yang sakit.

Ia ingin pemerintah segera menghadirkan tempat tinggal sementara yang lebih aman agar warga dapat beristirahat dengan lebih baik sambil menunggu proses pemulihan rumah mereka.

"Harapan kami, pemerintah segera membangun hunian sementara yang layak. Sampai hari ini kami belum mendapatkannya. Kami ingin merasa aman dari situasi pascagempa ini," ungkapnya.

Katanya hunian sementara bukan sekadar bangunan pengganti tenda. Tempat itu menjadi harapan agar warga bisa beristirahat dengan lebih tenang, menjaga kesehatan, dan perlahan-lahan memulihkan kehidupan setelah bencana.

Ia juga meminta agar perhatian terhadap lansia tidak berhenti setelah bantuan awal disalurkan. Warga yang sudah lanjut usia, terlebih mereka yang sedang sakit, membutuhkan pendampingan yang lebih serius dan berkelanjutan.

Dalam wawancara tersebut, dia juga menyampaikan pesan langsung kepada pemerintah agar segera mengambil langkah konkret untuk menjawab kebutuhan warga pengungsian.

Ia berharap pembangunan hunian sementara dipercepat, pelayanan kesehatan didekatkan ke lokasi pengungsian, dan ketersediaan obat-obatan ditingkatkan.

Selain itu, ia meminta agar bantuan kebutuhan pokok seperti beras, sayur-sayuran, lauk-pauk, dan kebutuhan sehari-hari lainnya tetap diperhatikan, terutama bagi lansia yang kesulitan memenuhi kebutuhannya secara mandiri.

"Segera bangun hunian sementara, dekatkan pelayanan kesehatan ke tenda-tenda warga, terutama lansia, dan penuhi obat-obatan serta kebutuhan pokok kami," tegasnya.

Ia menilai kunjungan tenaga kesehatan ke lokasi pengungsian sangat diperlukan untuk memastikan warga yang sakit tidak luput dari perhatian.

Bagi lansia yang mengalami kesulitan berjalan, pelayanan yang datang langsung ke tempat mereka tinggal dapat membantu mengurangi hambatan untuk memperoleh pemeriksaan dan pengobatan.

Daftar Warga Sakit Menambah Perhatian terhadap Kondisi Pengungsian

Di lokasi pengungsian Desa Paralando, terdapat daftar 18 warga yang dilaporkan sedang sakit, mulai dari lansia hingga bayi dan anak-anak.

Daftar tersebut mencakup Matias Suling (70 tahun), Ignasius Romi Karno (26 tahun), Frasiskа Diana Ntihung (25 tahun), Aulian Anjela Naus (5 tahun), Zuleha Adafa Karno (2 bulan), Fransiskus Babel (69 tahun dalam daftar warga sakit), Kristina Jita (63 tahun), Eusebet Ngijul (66 tahun), Ismaila (6 bulan), Muhamat Ifan (5 bulan), Hasan Nudin (70-an tahun), Yohanes Ancong (72 tahun), Maria Ibun (71 tahun), Matius Oman (80 tahun), Berna Deta Mis (43 tahun), Fransiskus Danto (46 tahun), Dafiano Ancong (2 tahun), serta Maksalena Mijum.

Keberadaan bayi berusia dua hingga enam bulan, anak-anak, dan sejumlah warga lanjut usia dalam daftar tersebut memperlihatkan pentingnya perhatian terhadap kelompok rentan di pengungsian.

Namun, daftar nama itu belum menjelaskan diagnosis, tingkat keparahan penyakit, maupun kebutuhan pengobatan setiap orang. Karena itu, pemeriksaan langsung oleh tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi masing-masing warga dan menentukan penanganan yang sesuai.

FOLLOW US