Anggota Komisi III DPR RI, Benny Kabur Harman (BKH) saat meninjau Rumah Sakit Lapangan di Kabupaten Manggarai, Jumat (23/10/2026).
KATANTT.COM---Di tengah keterbatasan fasilitas pascagempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang pada 15 Agustus 2026, tenaga kesehatan Rumah Sakit Lapangan Kabupaten Manggarai terus berjuang memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Namun, di balik dedikasi tersebut, kebutuhan akan fasilitas kesehatan yang lebih layak dan permanen menjadi pekerjaan mendesak, terutama menjelang puncak musim hujan.
Anggota Komisi III DPR RI, Benny Kabur Harman (BKH), mendesak pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat pembangunan rumah sakit permanen di Kabupaten Manggarai. Menurutnya, pemerintah tidak boleh membiarkan pelayanan kesehatan terus bergantung pada fasilitas darurat ketika ancaman hujan ekstrem dan angin kencang semakin dekat.
Desakan itu disampaikan BKH saat meninjau langsung Rumah Sakit Lapangan Manggarai sekaligus menyerahkan bantuan makanan cepat saji kepada tenaga kesehatan, Jumat (23/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, BKH mengapresiasi kualitas pelayanan tenaga medis yang tetap maksimal meskipun harus bekerja dengan sarana dan prasarana terbatas.
"Fasilitasnya memang darurat, tetapi pelayanannya luar biasa. Saya menyaksikan sendiri bagaimana tenaga kesehatan melayani pasien dengan sepenuh hati," ujar BKH.
Ia juga mengaku menerima banyak testimoni positif dari pasien yang merasakan langsung pelayanan di rumah sakit lapangan tersebut.
Bagi BKH, kualitas pelayanan yang ditunjukkan para tenaga kesehatan merupakan bukti komitmen mereka dalam menjaga keselamatan dan kesehatan masyarakat di tengah situasi pascabencana. Namun, dedikasi para tenaga medis itu perlu diimbangi dengan dukungan fasilitas yang memadai agar pelayanan tidak terganggu oleh kondisi cuaca.
Karena itu, legislator asal Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut berjanji mengawal aspirasi pembangunan rumah sakit definitif yang lebih modern melalui koordinasi dengan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kesehatan (Kemenkes), serta pemerintah provinsi dan kabupaten.
"Kita memasuki musim hujan. Potensi hujan ekstrem dan angin kencang harus diantisipasi agar tidak menimbulkan masalah baru. Ini akan kami komunikasikan ke pemerintah pusat bersama pemerintah provinsi dan kabupaten," tegasnya.
BKH meyakini pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menyelesaikan persoalan fasilitas kesehatan di Manggarai. Baginya, percepatan pembangunan bukan sekadar urusan infrastruktur, melainkan bagian penting dari upaya menjamin masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan berkesinambungan.
Kapasitas Tempat Tidur Menyusut, RS Lapangan Jadi Tumpuan
Dukungan terhadap perjuangan pembangunan fasilitas kesehatan permanen juga disampaikan Direktur RSUD Ruteng, dr. Oktavianus Yanuarius Ampur. Ia mengapresiasi kunjungan BKH yang dinilainya memberikan dukungan moral bagi para tenaga medis yang bekerja di rumah sakit lapangan dekat kawasan Bandara Ruteng.
"Kunjungan ini menjadi dukungan luar biasa bagi kami. Kami yakin Bapak BKH memiliki suara kuat di tingkat pusat untuk memperjuangkan aspirasi ini," kata dr. Vian.
Ia menjelaskan, gempa bumi yang mengguncang Manggarai telah berdampak langsung terhadap kapasitas pelayanan RSUD Ruteng. Sebelum bencana, rumah sakit tersebut memiliki 201 unit tempat tidur. Namun, kapasitas yang tersedia di rumah sakit lapangan saat ini hanya 143 unit.
Pengurangan kapasitas itu menjadi tantangan tersendiri karena RSUD Ruteng tetap memegang peran vital sebagai rumah sakit rujukan, sementara kunjungan pasien masih sangat tinggi.
Dalam kondisi tersebut, tenaga kesehatan harus memastikan pelayanan tetap berjalan di tengah keterbatasan ruang dan sarana. Mereka tidak hanya dituntut menjaga mutu pelayanan, tetapi juga memastikan kebutuhan kesehatan masyarakat tetap terpenuhi selama proses pemulihan pascagempa.
"Meskipun beroperasi di bawah tenda darurat, komitmen kami tetap memberikan pelayanan maksimal dan berkesinambungan sesuai standar bagi seluruh masyarakat Manggarai," ungkapnya.
Usulkan Bangunan Semipermanen Sambil Menunggu RS Definitif
Selain mendorong pembangunan rumah sakit permanen, pihak RSUD Ruteng juga telah menyampaikan usulan alternatif berupa bangunan semipermanen menggunakan kontainer atau sistem modular kepada BKH untuk diteruskan kepada Kementerian Kesehatan.
Usulan tersebut dipandang sebagai salah satu solusi sementara agar pelayanan kesehatan tidak terus bergantung pada tenda darurat sembari menunggu pembangunan rumah sakit definitif.
Kebutuhan fasilitas yang lebih aman semakin mendesak karena perubahan cuaca berpotensi mengganggu aktivitas pelayanan dan kenyamanan pasien maupun tenaga medis. Dengan fasilitas yang lebih memadai, pelayanan diharapkan dapat berlangsung lebih stabil sekalipun pembangunan rumah sakit permanen masih membutuhkan proses.
Bagi masyarakat Manggarai, keberadaan rumah sakit lapangan saat ini menjadi tumpuan penting untuk memperoleh layanan kesehatan setelah gempa merusak dan mengganggu fasilitas pelayanan yang tersedia.
Apresiasi terhadap tenaga kesehatan patut diberikan. Namun, perjuangan mereka juga harus disertai langkah nyata pemerintah dalam menyediakan tempat pelayanan yang layak, aman, dan berkelanjutan.
Kini, harapan tersebut bertumpu pada komitmen pemerintah pusat bersama pemerintah daerah untuk mempercepat penanganan kebutuhan fasilitas kesehatan di Manggarai, sehingga pelayanan bagi masyarakat tidak terus dibayangi keterbatasan bangunan darurat dan ancaman cuaca ekstrem menjelang puncak musim hujan.