Bantuan tersebut menjadi wujud solidaritas PATPI terhadap masyarakat yang masih menghadapi berbagai keterbatasan setelah bencana. Selain kebutuhan tempat beraktivitas, ketersediaan air menjadi salah satu persoalan penting yang perlu segera mendapatkan perhatian dalam situasi pascabencana.
Melalui bantuan tandon dan pompa air (8/9/2026), PATPI berupaya mendukung pemenuhan kebutuhan air masyarakat. Sementara itu, bantuan tenda untuk sekolah diharapkan dapat membantu menjaga keberlangsungan aktivitas pendidikan, khususnya bagi satuan pendidikan yang fasilitasnya terdampak gempa.
Bantuan tersebut disalurkan melalui kolaborasi dengan LPPM UNEJ. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari gerakan bersama untuk memastikan bantuan kemanusiaan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan di wilayah terdampak.
Anggota PATPI, Prof. Dr. Yuli Witono, S.TP., M.P., menyampaikan bahwa keterlibatan PATPI dalam penanganan dampak bencana merupakan bentuk kepedulian nyata organisasi profesi terhadap masyarakat.
“PATPI tidak hanya hadir dalam ruang akademik dan profesional, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan. Ketika masyarakat menghadapi bencana, kita perlu hadir sesuai dengan kemampuan yang kita miliki dan memberikan bantuan yang benar-benar dibutuhkan,” ujar Prof. Yuli Witono.
Menurutnya, bantuan tenda, tandon air, dan pompa air dipilih karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat dan keberlanjutan aktivitas sehari-hari.
“Air merupakan kebutuhan yang sangat mendasar. Karena itu, keberadaan tandon dan pompa air diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh dan mengelola kebutuhan air dengan lebih baik. Demikian pula tenda untuk sekolah, diharapkan dapat menjadi ruang sementara agar proses pendidikan tetap berjalan,” tambahnya.
Bagi PATPI, pemulihan pascabencana tidak semata-mata berkaitan dengan pembangunan kembali sarana fisik. Keberlangsungan kehidupan sosial, kesehatan, pendidikan, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat juga harus menjadi perhatian.
Karena itu, bantuan tenda bagi sekolah menjadi salah satu bentuk dukungan strategis. Di tengah kondisi pascabencana, sekolah memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan proses belajar sekaligus memberikan ruang aman bagi anak-anak untuk kembali beraktivitas.
PATPI memandang bahwa anak-anak merupakan kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dalam situasi bencana. Aktivitas belajar yang kembali berlangsung dapat membantu mengembalikan rutinitas sekaligus memberikan rasa aman dan harapan bagi mereka.
Penyaluran bantuan PATPI di Ngada dan Nagekeo juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam merespons bencana. Perguruan tinggi, organisasi profesi, pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat dapat mengambil peran sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Melalui kolaborasi tersebut, bantuan diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan darurat, tetapi menjadi bagian dari proses pemulihan masyarakat secara berkelanjutan.
Prof. Yuli menegaskan bahwa semangat gotong royong harus terus dipelihara selama masyarakat masih berada dalam masa pemulihan.
“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mengetahui bahwa mereka tidak sendiri. Bantuan mungkin sederhana, tetapi kepedulian dan kebersamaan yang menyertainya memiliki arti yang besar. Kami berharap dukungan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Ngada dan Nagekeo,” pungkasnya.
Dari tenda sekolah hingga tandon dan pompa air, bantuan PATPI menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan kembali ruang belajar, akses air, dan harapan bagi masyarakat yang sedang bangkit dari dampak gempa.
PATPI hadir bukan sekadar membawa bantuan, tetapi membawa pesan bahwa pemulihan adalah tanggung jawab bersama.