• Nusa Tenggara Timur

Kafegama-JPIC OFM Salurkan 390 Paket Bantuan untuk Korban Gempa Manggarai Timur

Wilibrodus Jatam | Senin, 07/09/2026 20:31 WIB
Kafegama-JPIC OFM Salurkan 390 Paket Bantuan untuk Korban Gempa Manggarai Timur Keluarga Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (Kafegama) bersama JPIC OFM Indonesia saat menyalurkan bantuan di Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Senin, 7 September 2026 (Foto: Dok. JPIC OFM Indonesia).

KATANTT.COM---Keluarga Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (Kafegama) bersama JPIC OFM Indonesia menyalurkan 390 paket bantuan kepada warga terdampak gempa di Kecamatan Sambi Rampas, Senin, 7 September 2026.

Bantuan tersebut menyasar sejumlah wilayah yang mengalami dampak cukup parah akibat guncangan gempa. Penyaluran dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang hingga kini masih berjuang memulihkan kehidupan setelah bencana.

Pater Yohanes Kristo Tara, OFM dari JPIC OFM Indonesia, mengatakan bantuan difokuskan pada wilayah yang mengalami kerusakan berat, termasuk kawasan yang sejumlah rumah warganya dilaporkan rata dengan tanah.

Sebanyak 74 paket disalurkan di Sambi Mese, 30 paket di Nanga Rema, 30 paket di Ndili, serta 128 paket masing-masing di Kelurahan Nanga Mbaras, Mbaru Jawa, dan Desa Nanga Mbaling.

"Banyak keluarga masih bertahan di tenda pengungsian dengan segala keterbatasan setiap hari," kata Pater Kristo.

Menurut dia, bantuan Kafegama bersama JPIC OFM Indonesia tidak sekadar ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Kehadiran relawan dan donatur juga menjadi bentuk solidaritas sekaligus dukungan moral bagi warga yang sedang melewati masa sulit pascabencana.

Dukungan tersebut, kata dia, diharapkan membuat masyarakat terdampak tidak merasa sendirian dalam menghadapi proses pemulihan.

Masyarakat penerima bantuan pun menyampaikan terima kasih kepada Kafegama dan JPIC OFM Indonesia. Bantuan dinilai bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi tanda perhatian terhadap keluarga yang hingga kini masih bertahan di lokasi pengungsian.

Hunian Layak Jadi Kebutuhan Mendesak

Di tengah proses pemulihan, persoalan hunian menjadi salah satu kebutuhan yang paling mendesak. Warga yang kehilangan atau mengalami kerusakan rumah masih membutuhkan tempat tinggal yang aman dan layak, terutama menjelang datangnya musim hujan.

Pater Kristo menegaskan, pemerintah perlu mempercepat realisasi pembangunan rumah bagi warga yang rumahnya rusak maupun hancur akibat gempa.

"Pembangunan hunian layak semakin mendesak karena musim hujan segera tiba," tegasnya.

Kata dia, penyediaan hunian yang layak bukan hanya persoalan tempat tinggal, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat terdampak.

Warga yang terlalu lama tinggal di tenda pengungsian menghadapi berbagai keterbatasan. Karena itu, percepatan pembangunan rumah diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih baik sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan.

Pater Kristo menambahkan, pemulihan pascabencana tidak boleh hanya dimaknai sebagai pembangunan kembali rumah yang rusak.

Lebih dari itu, proses pemulihan harus memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal, membangun kembali harapan, serta menata masa depan setelah kehilangan akibat bencana.

"Pemulihan bukan hanya membangun kembali rumah, tetapi memulihkan kehidupan dan masa depan masyarakat," ujarnya.

FOLLOW US