Siswa SDI Wae Belang mengikuti pembelajaran di kelas darurat pascagempa.
KATANTT.COM---Aktivitas belajar mengajar di SDI Wae Belang, Kelurahan Wae Belang, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, kembali berjalan di tengah keterbatasan fasilitas pascagempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.
Sebanyak 303 siswa sekolah tersebut kini mengikuti pembelajaran secara bergiliran di tiga ruang kelas darurat berupa tenda, setelah enam ruang kelas mengalami kerusakan berat dan empat ruang lainnya rusak sedang.
Kondisi tersebut mendorong Babinsa Koramil 1612-01/Ruteng, Koptu Neri Dani, bersama pihak sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid dan masyarakat bergotong royong mendirikan tiga tenda kelas darurat pada Minggu (30/8/2026).
Sekitar 20 orang terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka berbagi tugas mulai dari menyiapkan material, mendirikan tenda hingga menata ruang yang akan digunakan untuk kegiatan pembelajaran.
Kepala SDI Wae Belang, Metodius Makul, menyampaikan apresiasi kepada TNI, khususnya Babinsa, serta seluruh pihak yang ikut membantu sekolah mempertahankan keberlangsungan pendidikan setelah bencana.
"Kami berterima kasih kepada TNI, Komite Sekolah, orang tua dan masyarakat yang bersama-sama mendirikan kelas darurat agar proses belajar anak-anak tetap berjalan,” ujarnya.
Kepala Sekolah SDI Wae Belang yang akrab disapa Pak Teri menjelaskan bahwa kerusakan enam ruang kelas kategori berat serta empat ruang kelas kategori sedang menyebabkan sekolah belum dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara normal.
Karena keterbatasan ruang kelas, lanjut Teri, sekolah menerapkan sistem pembelajaran bergiliran dengan pola 2-1. Siswa kelas I dan II mengikuti pembelajaran pada Senin dan Kamis, kelas III dan IV pada Selasa dan Jumat, sedangkan kelas V dan VI pada Rabu dan Sabtu.
Pola tersebut diterapkan untuk menghindari kepadatan sekaligus menyesuaikan dengan kapasitas ruang belajar darurat yang tersedia.
"Ruang yang dapat digunakan sangat terbatas. Karena itu, siswa dan guru kami atur secara bergiliran agar pembelajaran tetap berjalan dan tidak terjadi kepadatan," jelas Teri.
Ia juga menjelaskan, dalam kondisi darurat, pembelajaran juga tidak sepenuhnya menggunakan pola pembelajaran reguler. Sekolah menerapkan pembelajaran terbatas selama tiga jam setiap hari dengan satu jam pelajaran (JP) berlangsung selama 35 menit.
Materi pembelajaran diprioritaskan pada materi esensial, literasi dasar dan numerasi dasar. Pendekatan tersebut disesuaikan dengan kondisi siswa dan situasi pascabencana.
Selain mengejar pemenuhan kebutuhan akademik dasar, sekolah memberikan perhatian khusus terhadap kondisi psikologis siswa melalui kegiatan interaktif, trauma healing dan dukungan psikososial.
Teri mengatakan pendekatan tersebut penting karena anak-anak tidak hanya kehilangan kenyamanan ruang belajar, tetapi juga mengalami perubahan situasi setelah gempa.
"Prioritas kami bukan hanya pembelajaran, tetapi juga mengembalikan kondisi psikologis anak agar mereka kembali ceria dan siap belajar," katanya.
Penerapan kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari respons sekolah terhadap situasi darurat serta instruksi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Manggarai.
Menurut Tedi, perubahan suasana belajar mulai terlihat ketika siswa kembali hadir di sekolah. Anak-anak tampak lebih ceria setelah dapat bertemu kembali dengan teman-teman dan guru mereka.
"Anak-anak terlihat ceria. Mungkin karena mereka bisa bertemu kembali dengan teman-teman dan gurunya. Mereka tampak bahagia berada di sekolah," ungkapnya.
Saat ini SDI Wae Belang memiliki 19 guru dan satu tenaga kependidikan. Jadwal guru juga disesuaikan dengan jadwal kehadiran siswa agar proses pembelajaran di kelas darurat dapat berlangsung secara efektif.
Di tengah keterbatasan tersebut, pembangunan tiga tenda kelas darurat menjadi bagian penting dari upaya sekolah mempertahankan hak anak untuk memperoleh pendidikan selama masa tanggap darurat pascagempa.
Teri berharap kondisi bencana segera berakhir sehingga seluruh siswa dan guru dapat kembali menjalankan proses pendidikan dalam suasana normal.
"Kami berharap bencana ini segera berakhir. Semoga pembelajaran di tenda darurat dapat mengembalikan keceriaan dan harapan anak-anak terhadap masa depan mereka," pungkasnya.
Sementara itu, Babinsa Koramil 1612-01/Ruteng, Koptu Neri Dani, menegaskan bahwa keterlibatan TNI dalam pembangunan kelas darurat merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat di wilayah binaannya.
"Kami hadir bukan hanya dalam persoalan keamanan. Pendidikan anak-anak adalah tanggung jawab kita bersama," tegas Koptu Neri .
Ia juga berharap keberadaan ruang belajar darurat dapat membantu guru dan siswa melanjutkan kegiatan pendidikan sekaligus memberikan semangat kepada anak-anak yang terdampak bencana.
"semoga tenda darurat yang dibangun bisa memantau kegiatan belajar mengajar dengan menyenangkan," tutup Koptu Neri.