• Nusa Tenggara Timur

WVI Perkuat Respons Gempa Manggarai, Fokus Air Bersih, Psikososial Anak dan Gizi Balita

Wilibrodus Jatam | Rabu, 26/08/2026 18:30 WIB
WVI Perkuat Respons Gempa Manggarai, Fokus Air Bersih, Psikososial Anak dan Gizi Balita WVI memberikan dukungan psikososial kepada anak-anak terdampak gempa Manggarai.

KATANTT.COM---Wahana Visi Indonesia (WVI) Area Program Manggarai terus memperkuat respons kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Penanganan tidak hanya difokuskan pada distribusi bantuan kebutuhan dasar, tetapi diperluas pada pemenuhan air bersih, dukungan psikososial bagi anak-anak, serta pemantauan layanan kesehatan dan gizi balita.

Manajer Wahana Visi Indonesia Area Program Manggarai, Ignatius Anggoro Suryo, mengatakan respons WVI telah dilakukan sejak hari pertama pascagempa melalui koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemerintah daerah.

"Sejak hari pertama kami melakukan respons berdasarkan koordinasi dan arahan BPBD serta pemerintah daerah," kata Anggoro saat ditemui media ini pada Selasa, (25/8/2026).

Pada tahap awal, WVI menyalurkan 100 paket bantuan keluarga kepada masyarakat terdampak di Kecamatan Cibal. Bantuan tersebut menjadi bagian dari respons awal untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga setelah bencana.

Setelah bantuan tahap awal disalurkan, WVI mengarahkan dukungan ke sejumlah lokasi pengungsian dengan memprioritaskan kebutuhan berupa tenda, terpal, selimut, dan air bersih.

Untuk kebutuhan air, WVI tidak hanya melakukan distribusi, tetapi juga mulai mengidentifikasi wilayah perkampungan yang mengalami kesulitan mendapatkan air dengan menghubungkan kebutuhan warga dengan sumber mata air terdekat.

Salah satu skema yang disiapkan adalah pipanisasi sederhana, yakni mengalirkan air dari mata air terdekat menuju permukiman warga di desa-desa terdampak.

Anggoro menjelaskan, pola tersebut dinilai lebih efektif dan berkelanjutan dibandingkan hanya mengandalkan pengiriman air dari luar wilayah secara terus-menerus.

"Pipanisasi menjadi salah satu pilihan agar kebutuhan air warga bisa dipenuhi secara lebih berkelanjutan," ujarnya.

Anak Korban Gempa Jadi Perhatian Utama

Selain kebutuhan dasar, WVI memberikan perhatian serius terhadap kondisi psikologis anak-anak yang berada di lokasi pengungsian.

Gempa tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan kehilangan tempat tinggal, tetapi juga dapat meninggalkan rasa takut serta trauma, terutama pada anak-anak.

Dalam empat hari terakhir, WVI bersama tim dari Universitas Nusa Nipa (UNIPA) melaksanakan kegiatan dukungan psikososial di sejumlah lokasi pengungsian.

Pendampingan tersebut diarahkan untuk membantu anak-anak menghadapi rasa takut, mengurangi dampak trauma, serta menyediakan ruang aman agar mereka dapat kembali bermain, beraktivitas, dan berinteraksi secara positif di tengah situasi bencana.

"Anak-anak membutuhkan ruang aman untuk bermain, berinteraksi, sekaligus memulihkan kondisi psikologis mereka," ucap Anggoro.

25 Relawan Dikerahkan di Tiga Kabupaten

Untuk memperkuat pelaksanaan respons, WVI mengerahkan 25 relawan yang menjalankan kegiatan di tiga kabupaten wilayah kerja WVI, yakni Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.

Khusus di Kabupaten Manggarai, pendampingan dilakukan di sejumlah wilayah, antara lain Kecamatan Rahong Utara, Kecamatan Cibal, Kecamatan Ruteng, serta sejumlah titik di Kota Ruteng.

Di Kota Ruteng, WVI turut mendorong pemanfaatan pos-pos pengungsian sebagai pusat komunikasi sekaligus lokasi pelayanan psikososial bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan keberadaan posko tidak hanya berfungsi sebagai tempat berkumpulnya warga, tetapi juga menjadi ruang pelayanan dan perlindungan bagi kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.

WVI Siapkan Ruang Ramah Anak

Ke depan, WVI akan mempertahankan fokus pada pemulihan kondisi psikologis anak-anak terdampak bencana.

Program dukungan psikososial akan diperluas melalui berbagai kegiatan yang memberikan rasa aman sekaligus membuka ruang interaksi bagi anak-anak di lokasi pengungsian.

Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah Child Friendly Space atau ruang ramah anak di tenda-tenda pengungsian.

Ruang tersebut akan menjadi tempat bagi anak-anak untuk bermain, beraktivitas, berinteraksi, sekaligus memperoleh pendampingan psikososial selama berada dalam situasi pengungsian.

"Ruang ramah anak penting agar anak-anak tetap memiliki tempat untuk bermain, belajar, dan merasa aman selama berada di pengungsian," jelasnya.

Posyandu dan Gizi Balita Dipantau

Perhatian WVI juga diarahkan pada keberlangsungan pelayanan Posyandu di wilayah terdampak.

Keberadaan Posyandu dinilai sangat penting dalam situasi bencana karena balita merupakan salah satu kelompok paling rentan. Gangguan terhadap akses pangan bergizi dan layanan kesehatan dapat meningkatkan risiko masalah gizi apabila tidak segera ditangani.

Karena itu, WVI akan membangun koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan pihak terkait, termasuk PT IGA, untuk mendukung keberlangsungan pelayanan Posyandu di wilayah terdampak.

Pemantauan mencakup keberlanjutan pelayanan kesehatan serta pemenuhan kebutuhan gizi balita. Langkah ini diperlukan agar kondisi bencana tidak berkembang menjadi persoalan kesehatan baru dalam jangka panjang.

"Balita merupakan kelompok rentan. Pelayanan Posyandu dan pemenuhan gizinya harus tetap berjalan meski dalam kondisi bencana," tegas Anggoro 

Data dan Pengungsian Mandiri Jadi Tantangan

Dalam pelaksanaan respons di lapangan, dinamika data masyarakat terdampak menjadi salah satu tantangan utama.

Data penerima bantuan terus berubah mengikuti perkembangan kondisi serta perpindahan masyarakat. Meski demikian, WVI menilai data tetap menjadi instrumen penting untuk memastikan bantuan diberikan secara tepat sasaran.

Namun, dalam situasi darurat, penanganan tidak dapat sepenuhnya menunggu pembaruan data.

Karena itu, tim WVI melakukan pemantauan langsung di lapangan dan berkoordinasi dengan BPBD, pemerintah kecamatan, pemerintah kabupaten, serta berbagai pihak terkait untuk memastikan kebutuhan masyarakat dapat segera diidentifikasi dan ditangani.

Tantangan lainnya adalah keberadaan tenda-tenda pengungsian mandiri yang dibangun masyarakat dan keluarga secara tersebar.

Kondisi tersebut membuat titik-titik kebutuhan bantuan semakin luas dan tidak terkonsentrasi pada satu lokasi. Akibatnya, distribusi bantuan menjadi lebih kompleks karena pemerintah dan lembaga kemanusiaan harus memastikan bantuan benar-benar diterima keluarga yang membutuhkan.

Situasi ini sekaligus menuntut koordinasi yang lebih kuat antara pemerintah, WVI, relawan, dan berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan bencana.

Koordinasi diperlukan agar tidak terjadi tumpang tindih bantuan, sekaligus memastikan kelompok rentan tetap menjadi prioritas.

Respons Tidak Berhenti pada Bantuan Darurat

WVI menegaskan respons kemanusiaan di Manggarai tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam fase tanggap darurat.

Pemenuhan air bersih melalui pengembangan pipanisasi sederhana, dukungan psikososial bagi anak, penguatan ruang ramah anak, serta keberlanjutan pelayanan Posyandu menjadi bagian dari strategi penanganan lanjutan.

Pendekatan tersebut diarahkan agar masyarakat terdampak gempa tidak hanya mendapatkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi juga memperoleh dukungan dalam proses pemulihan kehidupan sosial, kesehatan, dan kondisi psikologis.

Anak-anak dan balita menjadi perhatian utama karena kedua kelompok tersebut memiliki tingkat kerentanan tinggi dalam situasi bencana.

"Respons kami bukan hanya soal bantuan darurat, tetapi bagaimana masyarakat bisa pulih dan kelompok rentan tetap terlindungi," pungkasnya.

FOLLOW US