Suasana aktivitas di Kantor Grab Ruteng saat melayani pendaftaran dan pembinaan mitra (Dok. Dhyon).
KATANTT.COM---Kehadiran Grab di Ruteng tidak hanya menghadirkan layanan transportasi berbasis aplikasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi pengemudi, pelaku UMKM, dan masyarakat Manggarai melalui ekosistem digital yang lebih luas dan transparan.
Partner Engagement Officer Grab Ruteng, Leonardus D.H. Ngangu atau yang akrab disapa Dhyon, mengatakan seluruh sistem Grab dibangun dengan prinsip transparansi, baik dalam penetapan tarif maupun pembagian pendapatan kepada mitra pengemudi.
"Kami transparan. Tidak ada biaya yang kami tutupi, baik kepada pengguna maupun mitra driver," ungkap Dhyon kepada media ini pada Kamis, (23/7/2026).
Saat ini, Grab Ruteng telah memiliki sekitar 30 mitra GrabBike, termasuk empat pengemudi perempuan, serta 12 mitra GrabCar. Mayoritas pengemudi yang bergabung merupakan ojek pangkalan konvensional yang sebelumnya hanya mengandalkan pelanggan tetap.
Menurut Dhyon, Grab hadir untuk memperluas peluang mereka memperoleh penumpang melalui sistem digital tanpa menghilangkan pelanggan yang sudah dimiliki secara konvensional.
"Kami datang untuk membantu teman-teman ojek pangkalan agar memiliki pasar yang lebih luas, bukan menggantikan mata pencaharian mereka," ujarnya.
Tarif Mengacu Regulasi Pemerintah
Dhyon menegaskan tarif perjalanan Grab tidak ditentukan perusahaan, melainkan mengikuti ketentuan pemerintah melalui regulasi Kementerian Perhubungan.
"Tarif sudah diatur pemerintah. Grab tidak bisa menetapkan tarif sesuka hati. Semua mengikuti skema yang telah ditetapkan," katanya.
Menurutnya, sistem tersebut memberikan kepastian harga sekaligus menciptakan persaingan yang sehat karena seluruh tarif bersifat transparan.
Dhyon juga menjelaskan Grab Indonesia telah menerapkan skema pembagian hasil terbaru yang lebih berpihak kepada mitra pengemudi.
Untuk layanan GrabBike, sebanyak 92 persen pendapatan perjalanan diterima pengemudi, sedangkan 8 persen menjadi komisi aplikasi. Sementara GrabCar menerapkan pembagian 80 persen untuk pengemudi dan 20 persen untuk aplikator.
"Driver menerima bagian terbesar. Kami menyebut mereka partner, bukan bawahan. Karena mereka adalah mitra," jelasnya.
Selain memberikan peluang pendapatan, Grab juga menyediakan perlindungan bagi mitra selama menggunakan aplikasi.
Dhyon mengatakan setiap mitra telah dilindungi skema asuransi, termasuk apabila mengalami kecelakaan maupun menjadi korban penipuan atau pesanan fiktif.
"Kalau terjadi scam atau order fiktif, kami sudah siapkan mekanisme penggantian. Itu bentuk tanggung jawab kami kepada partner," ungkapnya.
Ia menambahkan seluruh operasional Grab Ruteng dijalankan oleh perusahaan lokal yang memperoleh lisensi resmi dari Grab Indonesia sehingga seluruh kegiatan tetap mengikuti regulasi pemerintah.
Prioritaskan Putra Daerah
Dalam proses perekrutan, Grab Ruteng memprioritaskan masyarakat lokal.
Menurut Dhyon, hasil survei Grab menunjukkan Manggarai memiliki potensi besar untuk pengembangan layanan digital sehingga ekspansi dilakukan secara bertahap setelah melalui kajian yang cukup panjang.
"Kami mengutamakan masyarakat lokal. Grab datang bukan untuk mengambil pekerjaan orang, tetapi menciptakan kesempatan baru," katanya.
Selain transportasi, Grab juga fokus memperkuat sektor UMKM melalui layanan GrabFood dan GrabMart.
Saat ini tercatat 124 mitra GrabFood dan 8 mitra GrabMart telah bergabung di Ruteng. Seluruh proses pendaftaran dilakukan secara gratis tanpa biaya.
Dhyon menilai digitalisasi menjadi peluang besar bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan pendapatan.
"UMKM Manggarai punya potensi besar. Grab hadir untuk membantu mereka go digital sehingga memiliki pasar yang lebih luas," ujarnya.
Ia menjelaskan aplikasi Grab juga menyediakan berbagai promo dan potongan harga yang dapat dimanfaatkan masyarakat sehingga tetap mampu bersaing dengan jaringan ritel modern.
Sistem Pembayaran Aman dan Terintegrasi
Grab juga menerapkan sistem pembayaran digital yang terintegrasi, terutama pada layanan GrabFood dan GrabMart.
Saat pelanggan melakukan pemesanan makanan atau barang, pembayaran kepada merchant diproses melalui sistem sehingga pengemudi tidak perlu lagi menggunakan uang pribadi untuk membayar pesanan.
Menurut Dhyon, sistem tersebut membuat transaksi lebih aman, mudah dilacak, dan meminimalkan risiko penipuan.
Sejak mulai beroperasi di Ruteng, Grab mengklaim memperoleh respons positif dari masyarakat.
Dhyon mengatakan kehadiran Grab dinilai membantu mobilitas warga sekaligus membuka peluang usaha baru bagi pengemudi dan pelaku UMKM.
"Sejauh ini respons masyarakat sangat positif. Mereka merasakan Grab benar-benar membantu aktivitas dan membuka peluang ekonomi baru," pungkasnya.