Wakil Bupati Manggarai, Fabianus Abu, berfoto bersama usai meresmikan Mbaru Gendang Nanga di Desa Bere, Kecamatan Cibal Barat, pada Selasa (23/6/2026).
KATANTT.COM---Wakil Bupati Manggarai, Fabianus Abu, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Manggarai untuk terus menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah meskipun di tengah berbagai keterbatasan anggaran.
Komitmen tersebut disampaikan saat meresmikan pemanfaatan Mbaru Gendang Nanga di Desa Bere, Kecamatan Cibal Barat, Selasa (23/6/2026).
Peresmian rumah adat itu menjadi momentum penting dalam upaya pelestarian identitas budaya Manggarai yang diwariskan secara turun-temurun.
"Pelestarian rumah adat dan nilai-nilai budaya merupakan investasi penting untuk menjaga identitas masyarakat Manggarai di tengah perkembangan zaman," tegas Wabup Fabi.
Peresmian Diawali Ritus Adat
Peresmian Mbaru Gendang Nanga ditandai dengan pengguntingan pita setelah rombongan Wakil Bupati disambut melalui ritus Curu atau penjemputan adat oleh masyarakat setempat.
Selanjutnya, Wabup Fabianus memasuki rumah adat untuk mengikuti ritus Kapu atau penerimaan tamu, yang kemudian dilanjutkan dengan ritus inti Kebeng Mbaru Gendang sebagai bagian dari rangkaian peresmian rumah adat tersebut.
Sebelum rumah adat resmi digunakan, masyarakat adat terlebih dahulu melaksanakan ritus Kebeng atau Pukang, yakni upacara adat yang secara turun-temurun menjadi syarat wajib sebelum menempati atau menggunakan bangunan baru.
Dalam prosesi tersebut, tetua adat mempersembahkan hewan kurban berupa manuk (ayam) dan ela (babi) sebagai bagian dari ritual permohonan restu kepada leluhur.
Kebeng, Simbol Penyempurnaan Rumah Adat
Prosesi Kebeng dipimpin oleh juru bicara adat utama yang melantunkan doa-doa adat atau renge, yakni bentuk doa yang dipadukan dengan nyanyian tradisional.
Setiap bagian doa yang selesai dilantunkan disambut oleh peserta dengan seruan panjang "Eeee..." sebagai bentuk penghormatan dan keterlibatan dalam ritus adat.
Melalui doa-doa tersebut, masyarakat memohon perlindungan para leluhur agar Mbaru Gendang yang direvitalisasi dapat menjadi tempat yang aman, membawa berkat, serta terhindar dari berbagai pengaruh negatif.
Dalam tradisi Manggarai, Kebeng atau Pukang memiliki makna penting sebagai simbol penyempurnaan pembangunan rumah adat sekaligus bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.
Masyarakat adat meyakini bahwa pelaksanaan Kebeng merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penggunaan bangunan baru. Karena itu, seluruh tahapan ritual harus dijalankan dengan baik sesuai adat yang berlaku sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Pemkab Manggarai Terus Dukung Pelestarian Budaya
Dalam sambutannya, Fabianus Abu mengapresiasi semangat masyarakat yang terus menjaga dan merawat warisan budaya leluhur.
Beliau menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Manggarai akan terus mendukung berbagai upaya pelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah yang berkelanjutan.
“Pelestarian budaya bukan hanya menjaga bangunan fisik, tetapi juga menjaga identitas, nilai-nilai, dan jati diri masyarakat Manggarai,” ujarnya.
Selain itu, Wakil Bupati juga mengajak masyarakat untuk membangun budaya hidup hemat, baik dalam lingkup keluarga maupun kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, tantangan ekonomi saat ini menuntut semua pihak untuk lebih bijak dalam mengelola sumber daya yang dimiliki.
Masyarakat Gendang Nanga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai serta seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan rumah adat tersebut.
Diketahui, Mbaru Gendang Nanga merupakan satu dari 92 rumah adat di Kabupaten Manggarai yang menerima bantuan revitalisasi pada tahun 2025.
Program revitalisasi tersebut dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai sejak Agustus 2025 dengan alokasi anggaran sebesar Rp200 juta untuk setiap rumah adat.
Program revitalisasi rumah adat ini menjadi salah satu wujud nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Manggarai dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya, memperkuat identitas daerah, serta mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi mendatang.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Camat Cibal Barat Yohanes Regon, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aloisius Jebarut, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Robertus Syukur, Kabag Prokopim Metodius Santosa Jemat, Kabag Umum Fransiskus Makarius Beka, serta Kepala Desa Bere Kornelis Palu.