• Nusa Tenggara Timur

Sekolah Aman, Belajar Nyaman, Diskominfo Manggarai Bekali Siswa Mitigasi Gempa

Wilibrodus Jatam | Rabu, 23/09/2026 19:58 WIB
Sekolah Aman, Belajar Nyaman, Diskominfo Manggarai Bekali Siswa Mitigasi Gempa Diskominfo Manggarai edukasi siswa tentang kesiapsiagaan gempa (Foto. Dok. Diskominfo Manggarai).

KATANTT.COM---Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Manggarai membekali siswa SD Inpres Wase Wengke, Desa Beo Rahong, Kecamatan Ruteng, dengan pengetahuan mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi.

Edukasi bertema "Menjadi Pasukan Siaga Gempa! Sekolah Aman, Belajar Nyaman di Manggarai" itu diberikan Kepala Diskominfo Manggarai, Paulus Jeramun, M.Si., Rabu (23/9/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pemulihan pascagempa bumi yang mengguncang wilayah Manggarai pada 15 Agustus 2026. Selain membangun kembali keceriaan anak melalui trauma healing, kegiatan diarahkan untuk memberikan pengetahuan praktis agar siswa mampu melindungi diri ketika gempa terjadi.

Di hadapan para siswa, Paulus menegaskan bahwa gempa merupakan fenomena alam yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, anak-anak tidak perlu hidup dalam ketakutan, tetapi harus memiliki pengetahuan dan kesiapan untuk menyelamatkan diri.

"Gempa itu alami. Kita tidak perlu takut, tetapi kita harus siap. Jadilah Pasukan Siaga Gempa!," pesan Paulus kepada para siswa.

Anak-Anak Diajak Menjadi Pasukan Siaga

Paulus menyampaikan materi dengan bahasa sederhana dan pendekatan yang dekat dengan dunia anak. Para siswa diajak membayangkan diri sebagai "Pasukan Siaga Gempa", yakni anak-anak yang memiliki pengetahuan, mampu tetap tenang dan tahu tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi gempa.

Mereka diajak mengenali tempat yang relatif aman di lingkungan sekolah maupun rumah, termasuk memahami pentingnya mengetahui jalur evakuasi.

Para siswa juga diperkenalkan dengan prinsip Drop, Cover and Hold On atau merunduk, berlindung dan bertahan.

Ketika gempa terjadi, anak-anak diarahkan untuk segera berlindung di bawah meja yang kokoh, melindungi kepala dan leher serta berpegangan pada kaki meja hingga guncangan berhenti.

Penyampaian materi berlangsung interaktif. Paulus sesekali memberikan pertanyaan sederhana untuk menguji pemahaman sekaligus mendorong siswa berpikir cepat.

Respons siswa pun beragam. Ada yang spontan mengangkat tangan karena ingin menjadi yang pertama menjawab. Ada yang menjawab dengan suara lantang, sementara sebagian lainnya masih malu-malu dan memilih memperhatikan teman-temannya.

Ketika pertanyaan diberikan kepada seluruh siswa, suasana menjadi lebih ramai. Sejumlah anak menjawab bersamaan, disusul tawa dan tepuk tangan teman-temannya.

Beberapa siswa bahkan menghubungkan materi dengan pengalaman mereka saat merasakan gempa. Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari percakapan untuk memperkuat pemahaman tentang tindakan yang tepat ketika guncangan terjadi.

Saat diajak mempraktikkan gerakan perlindungan diri, sebagian siswa langsung mengikuti instruksi. Sebagian lainnya terlebih dahulu memperhatikan gerakan teman di sampingnya sebelum ikut mempraktikkan.

Ketika dijelaskan pentingnya melindungi kepala dan leher, sejumlah siswa langsung memperagakan cara menutup bagian tersebut dengan tangan. Gerakan sederhana itu dilakukan bersama-sama sehingga pembelajaran terasa seperti permainan.

Simulasi Gempa, Pengetahuan Menjadi Aksi

Pada bagian akhir, para siswa mengikuti simulasi sederhana menghadapi gempa. Simulasi dikemas dalam bentuk permainan agar mudah dipahami dan diingat.

Simulasi diawali hitungan pertama sebagai tanda gempa mulai terjadi. Guru atau pendamping memberikan aba-aba:

"Gempa datang! Jadi Tupai Siaga!"

Mendengar aba-aba tersebut, siswa diminta melakukan aksi refleks dalam waktu sekitar tiga detik. Pada hitungan kedua, mereka segera merunduk, masuk ke bawah meja yang kokoh, memegang kaki meja serta melindungi kepala dan leher.

Setelah guncangan dianggap mereda, hitungan ketiga menjadi tanda evakuasi. Pendamping memberikan aba-aba:

"Gempa mereda! Pasukan Semut, keluar!"

Para siswa kemudian keluar dari bawah meja secara tertib. Mereka mengambil tas untuk digunakan sebagai pelindung kepala dan berjalan berbaris menuju titik evakuasi.

Dalam simulasi tersebut, siswa diingatkan untuk tidak berlari, tidak saling mendorong dan tetap mengikuti arahan guru atau pendamping selama proses evakuasi.

Setelah seluruh tahapan selesai, tepuk tangan meriah diberikan kepada para siswa. Tim Diskominfo memberikan apresiasi atas keberanian mereka mengikuti simulasi dengan tenang dan tertib.

Anak-anak kembali menunjukkan wajah ceria. Materi mitigasi yang sebelumnya disampaikan secara lisan dapat langsung mereka praktikkan dalam suasana belajar yang menyenangkan.

Sekolah Harus Menjadi Ruang Aman

Menurut Paulus, sekolah memiliki peran penting dalam membangun budaya kesiapsiagaan bencana sejak usia dini.

Anak-anak perlu dibekali pengetahuan sederhana yang dapat membantu mereka mengambil keputusan ketika menghadapi situasi darurat.

Pengetahuan tersebut juga diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah. Para siswa dapat membawa pesan kesiapsiagaan itu ke rumah dan membagikannya kepada orang tua, saudara maupun teman.

"Kalau kalian sudah tahu apa yang harus dilakukan ketika gempa, kalian bisa membantu mengingatkan teman, orang tua dan keluarga. Kalian adalah Pasukan Siaga Gempa."

Edukasi ini menjadi bagian dari upaya membangun kembali rasa aman bagi anak-anak setelah gempa bumi yang mengguncang Manggarai pada 15 Agustus 2026.

Sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk belajar menjaga keselamatan diri dan orang lain.

Karena itu, pesan “Sekolah Aman, Belajar Nyaman” menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Anak-anak yang memiliki pengetahuan mitigasi diharapkan dapat kembali belajar dengan lebih percaya diri sekaligus memiliki kesiapan menghadapi potensi bencana.

Kegiatan edukasi tersebut melengkapi rangkaian trauma healing yang dilaksanakan Diskominfo Manggarai di SD Inpres Wase Wengke.

Setelah anak-anak diajak bermain, bernyanyi dan membangun kembali keceriaan, mereka kemudian dibekali pengetahuan praktis tentang cara menghadapi gempa.

Dengan demikian, pemulihan tidak hanya diarahkan untuk mengembalikan keceriaan anak-anak, tetapi juga membangun ketangguhan dan kesiapsiagaan mereka menghadapi potensi bencana di masa mendatang.

Dari keberanian mengangkat tangan, jawaban spontan, tawa, praktik perlindungan diri hingga simulasi evakuasi, kegiatan tersebut menjadi pengalaman belajar yang dekat dengan dunia anak.

Pesan “Menjadi Pasukan Siaga Gempa! Sekolah Aman, Belajar Nyaman di Manggarai” diharapkan melekat dalam ingatan para siswa dan menjadi kebiasaan yang dapat diterapkan ketika menghadapi situasi darurat.

Menjadi Pasukan Siaga Gempa bukan berarti harus takut terhadap gempa. Dengan pengetahuan, kesiapan dan keberanian untuk bertindak benar, anak-anak dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan sekolah yang aman dan masyarakat Manggarai yang semakin tangguh menghadapi bencana.

Kepala Sekolah Apresiasi Edukasi Kesiapsiagaan

Kepala SD Inpres Wase Wengke, Rofinus Beat, menyampaikan apresiasi kepada Diskominfo Kabupaten Manggarai yang telah memberikan edukasi mitigasi dan kesiapsiagaan gempa kepada para siswa.

Menurut Rofinus, edukasi tersebut penting bagi anak-anak, terutama setelah gempa bumi berdampak pada kehidupan masyarakat Manggarai.

Pengetahuan sederhana mengenai apa yang harus dilakukan ketika gempa dapat membantu siswa tetap tenang dan mengambil tindakan yang tepat.

Ia menilai pendekatan yang digunakan tim Diskominfo mudah diterima anak-anak karena materi disampaikan melalui cerita, permainan, gerakan, nyanyian hingga simulasi.

Rofinus berharap edukasi kebencanaan dapat dilakukan secara berkelanjutan di sekolah sehingga kesiapsiagaan tidak berhenti sebagai pengetahuan sesaat, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan dan budaya keselamatan warga sekolah.

"Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Anak-anak tidak hanya diberikan pengetahuan, tetapi juga diajak mempraktikkan secara langsung apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa," ujar Rofinus.

Ia juga mengajak para guru untuk terus mengingatkan siswa mengenai pentingnya mengenali titik aman, jalur evakuasi serta tindakan merunduk, berlindung dan bertahan ketika gempa terjadi.

"Sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi anak-anak. Karena itu, pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana perlu terus ditanamkan sejak dini," tambahnya.

FOLLOW US