• Nusa Tenggara Timur

305 KK Korban Gempa Paralando Terima Bantuan dari Keerom, GRPD Soroti Kebutuhan Huntara

Wilibrodus Jatam | Minggu, 08/11/2026 19:43 WIB
305 KK Korban Gempa Paralando Terima Bantuan dari Keerom, GRPD Soroti Kebutuhan Huntara Penyerahan bantuan sembako kepada korban gempa Desa Paralando oleh GRPD bersama Pemerintah Kabupaten Keerom.

KATANTT.COM---Kepedulian terhadap korban gempa bumi di Kabupaten Manggarai, terus mengalir dari berbagai daerah di Indonesia. Kali ini, bantuan kemanusiaan datang dari Pemerintah Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, melalui Gerakan Rakyat Peduli Desa (GRDP).

Bantuan tersebut berupa uang tunai sebesar Rp65 juta dan satu mobil dump truck berisi sembako yang diperuntukkan bagi masyarakat terdampak gempa bumi, khususnya warga Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat.

Bantuan kemanusiaan itu diterima GRPD pada Kamis, 5 November 2026. Penyerahan dilakukan oleh Asisten II Pemerintah Kabupaten Keerom bersama Ketua DPRD dan Ketua Flobamora Kabupaten Keerom, didampingi rombongan.

Yohanes Hendra Gahor, yang akrab disapa Yohan, selaku Bidang Humas dan Media GRPD, mengatakan kepercayaan Pemerintah Kabupaten Keerom kepada organisasinya didasarkan pada jaringan relawan yang dimiliki GRPD serta kemampuan organisasi tersebut menjangkau masyarakat terdampak secara langsung.

Menurut Yohan, GRPD tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memastikan seluruh bantuan disalurkan kepada warga yang benar-benar membutuhkan.

"GRPD menjadi jembatan agar bantuan ini benar-benar sampai kepada masyarakat terdampak gempa, terutama warga Desa Paralando yang masih membutuhkan perhatian," ungkap Yohan kepada media ini pada Minggu, (8/11/2026).

Ia juga menjelaskan, proses penyaluran dilakukan dengan mendatangi langsung tenda-tenda pengungsian dan tempat pengungsian mandiri warga. Langkah tersebut diambil karena hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum dapat kembali hidup di rumah yang layak setelah gempa bumi melanda wilayah Manggarai.

Dalam penyaluran bantuan, GRPD mencatat sebanyak 305 kepala keluarga (KK) di Desa Paralando menjadi sasaran penerima manfaat.

Yohan menegaskan, penentuan penerima bantuan tidak dilakukan secara sembarangan. GRPD mempertimbangkan tingkat kerusakan dan dampak gempa yang dialami masyarakat, dengan memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, seperti lanjut usia dan penyandang disabilitas.

"Prioritas kami adalah warga yang mengalami dampak paling parah, terutama lansia dan penyandang disabilitas. Mereka harus mendapat perhatian lebih karena berada dalam kondisi yang lebih rentan," jelasnya.

Masih Tinggal di Tenda, Korban Membutuhkan Hunian Layak

Di balik bantuan sembako dan uang tunai yang diterima, persoalan kemanusiaan di Desa Paralando masih menyisakan pekerjaan besar.

Yohan mengungkapkan, kebutuhan paling mendesak yang ditemukan GRPD ketika mengunjungi warga adalah ketersediaan hunian sementara (huntara) yang layak. Sebab, masih terdapat masyarakat yang bertahan di tenda-tenda pengungsian dengan kondisi yang jauh dari kata memadai.

Selain tempat tinggal, kebutuhan pangan dan sembako juga masih menjadi persoalan yang harus diperhatikan.

"Banyak warga masih tinggal di tenda pengungsian yang tidak layak. Mereka sangat membutuhkan hunian sementara yang layak, selain sembako dan kebutuhan pangan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari," tuturnya.

Ia mengakui, bantuan yang telah diterima masyarakat cukup membantu meringankan beban korban gempa. Namun, bantuan tersebut belum sepenuhnya menjawab seluruh kebutuhan warga yang terdampak.

Menurutnya, hampir seluruh warga telah menerima bantuan dalam berbagai kesempatan. Kendati demikian, besarnya kebutuhan pascabencana membuat dukungan kemanusiaan masih sangat diperlukan.

"Untuk sementara bantuan memang membantu, tetapi belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat. Karena itu, perhatian dan kepedulian semua pihak masih sangat dibutuhkan," katanya.

Dalam menjalankan misi kemanusiaan tersebut, GRPD juga menghadapi tantangan, terutama keterbatasan transportasi ketika harus mendatangi satu per satu lokasi pengungsian mandiri warga.

Yohan mengatakan, kondisi geografis dan tersebarnya tempat pengungsian membuat proses distribusi membutuhkan tenaga serta sarana transportasi yang memadai.

GRPD Janji Transparan, Bantuan Harus Sampai kepada Korban

Di tengah besarnya kepercayaan masyarakat dan para donatur, GRPD menegaskan bahwa transparansi menjadi prinsip utama dalam mengelola dan menyalurkan bantuan kemanusiaan.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat luas, seluruh kegiatan penyaluran bantuan GRPD dipublikasikan melalui akun Facebook Yohan GRPD.

Publikasi tersebut menjadi bagian dari keterbukaan organisasi dalam memperlihatkan proses kegiatan kemanusiaan, mulai dari penyaluran hingga dokumentasi di lapangan.

Yohan menegaskan, bantuan yang diterima organisasi bukanlah milik pengurus, melainkan amanah yang harus dipastikan sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

"Bagi kami, bantuan kemanusiaan adalah amanah. GRPD hanya menjadi jembatan kebaikan, bukan tujuan akhir bantuan. Karena itu, setiap bantuan harus didata, disalurkan sesuai kebutuhan, didokumentasikan, dan dipertanggungjawabkan secara terbuka," tegasnya.

Lebih jauh, GRPD berharap Pemerintah Kabupaten Manggarai, Pemerintah Provinsi NTT, pemerintah pusat, serta seluruh pihak terkait tidak mengendurkan perhatian terhadap pemulihan kehidupan masyarakat pascagempa.

Menurut Yohan, pemulihan tidak boleh hanya berorientasi pada penyaluran bantuan sesaat, tetapi harus menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat, terutama pembangunan hunian sementara dan hunian tetap, pemulihan fasilitas pendidikan, kesehatan, penyediaan air bersih, serta infrastruktur penunjang kehidupan warga.

Ia mengingatkan agar masyarakat yang telah menjadi korban bencana tidak kembali menanggung penderitaan akibat lambatnya proses pemulihan.

"Jangan sampai masyarakat yang sudah menjadi korban bencana harus kembali menjadi korban karena lambatnya proses pemulihan. Kami ingin masyarakat bisa kembali hidup dengan aman, layak, dan bermartabat," pungkas Yohan.

Bagi GRPD, bantuan dari Kabupaten Keerom bukan sekadar dukungan berupa uang dan bahan pangan. Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi bukti bahwa solidaritas kemanusiaan tidak mengenal batas wilayah. Ketika masyarakat masih berjuang bangkit dari bencana, kepedulian dari sesama menjadi kekuatan untuk menjaga harapan agar kehidupan dapat kembali berjalan dengan layak.

FOLLOW US