• Nusa Tenggara Timur

Menelusuri Karut-Marut Proyek Air Bersih di Desa Paralando Manggarai

Wilibrodus Jatam | Rabu, 20/05/2026 04:23 WIB
Menelusuri Karut-Marut Proyek Air Bersih di Desa Paralando Manggarai Penelusuran lapangan GMNI Cabang Manggarai bersama GRD dan masyarakat Desa Paralando saat memeriksa sejumlah titik sumber air, bak penampung, hingga lokasi proyek air bersih bermasalah di Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, sekaligus berdiskusi dengan pemerintah desa dan menyerahkan bantuan kemanusiaan kepada warga penyandang disabilitas.

KATANTT.COM---Sebuah perjalanan panjang dan melelahkan demi kemanusiaan ditempuh oleh rombongan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Manggarai bersama Komite Gerakan Rakyat Demokratik (GRD) Manggarai

Pada Minggu, 17 Mei 2026, mereka turun langsung ke Desa Paralando, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai.

Langkah taktis ini diambil setelah sebelumnya GMNI, GRD, dan masyarakat Desa Paralando menggelar aksi demonstrasi di Kantor Bupati serta Kantor DPRD Manggarai

Aksi tersebut merupakan respons atas gejolak proyek pengerjaan air bersih di Desa Paralando yang mengakibatkan 22 rumah warga sama sekali tidak dapat menikmati air minum. Namun, di balik lelahnya perjuangan, kehangatan dan rasa kekeluargaan menyambut kedatangan mereka.

Penyambutan di Tengah Harapan

Sepanjang perjalanan yang menguras energi, rombongan selalu menjaga kebersamaan sembari menggantungkan harapan besar agar usaha advokasi ini membuahkan hasil. Tepat pukul 18.30 WITA, rombongan tiba di Desa Paralando.

Kedatangan mereka disambut meriah oleh masyarakat setempat yang tergabung dalam organisasi GRPD (Gerakan Rakyat Peduli Desa). Rombongan kemudian diterima dengan hangat di sekretariat organisasi tersebut untuk beristirahat.

Penelusuran Fakta Lapangan di Mata Air

Pada Senin, 18 Mei 2026, agenda utama dimulai. Rombongan bersama masyarakat GRPD menyambangi titik mata air yang menjadi pusat persoalan yang sedang diadvokasi. Meski jalur menuju lokasi sangat panjang, perjalanan yang dilakukan beramai-ramai membuat rasa penat terasa lebih santai.

Di tengah perjalanan, rombongan menemukan sebuah karung putih berisi sisa material. Berdasarkan informasi dari salah seorang warga Parlando, karung tersebut merupakan sisa material dari proyek pengerjaan air minum yang sedang dituju. 

Setelah singgah sejenak untuk memeriksa temuan tersebut, rombongan melanjutkan perjalanan ke beberapa titik krusial:

Titik Pertama (Bak Dana Alokasi Khusus):

Rombongan memeriksa bak air yang menurut warga dikerjakan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK). Di sana terlihat dua pipa yang dihubungkan ke dalam bak air. Mirisnya, salah satu pipa yang dialiri air lumpur tampak dibongkar dari bak.

Warga pemilik kerbau menjelaskan bahwa setiap kali hujan turun, pipa tersebut mengalirkan air lumpur karena sumbernya bukan dari mata air asli, melainkan dari gumpalan air bekas kubangan kerbau yang biasa digunakan untuk minum dan memandikan ternak. 

Menurut warga, ada pihak yang sengaja membongkar pipa tersebut saat hujan agar warga tidak dikejutkan oleh kondisi air yang kotor, sekaligus menyembunyikan kebusukan sistem pengerjaan proyek agar tidak terbongkar ke hulu.

Titik Kedua (Bak Penampung Pamsimas 2013):

Rombongan menemukan bak penampung yang dibangun melalui Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) pada tahun 2013. Di lokasi tersebut, terlihat beberapa pipa besi lama milik Pamsimas yang terbengkalai dan tergeletak begitu saja di sungai.

Bak tersebut bukan menampung air langsung dari sumbernya, melainkan mengambil air dari tengah kali, untuk kemudian disalurkan ke bak penampung ketiga yang dikerjakan menggunakan dana DAK.

Titik Ketiga (Sumber Air yang Diklaim Layak):

Rombongan menyaksikan langsung kondisi sumber air yang diklaim pemerintah layak konsumsi untuk warga Desa Paralando

Faktanya, air tersebut bukan berasal dari mata air langsung, melainkan gumpalan air di samping kali utama. Di bagian atasnya terdapat tebing yang mengalami erosi setiap kali hujan, membawa material tanah dan kotoran langsung ke dalam air.

Warga mempertegas bahwa lokasi gumpalan air ini dulunya sering dipakai untuk memandikan kerbau, bahkan tak jarang hewan tersebut membuang kotoran di sana.

Titik Keempat (Kubangan Kerbau di Hulu):

Tidak jauh dari posisi gumpalan air, tepatnya di bagian atas sumber air yang dialirkan ke bak penampung, rombongan menemukan kubangan kerbau. 

Di lokasi tersebut, terlihat jelas dua gumpalan kotoran kerbau lama di dalam air. Saat hujan turun, kotoran ini dipastikan terbawa air ke sumber utama yang mengalir ke bak penampung Pamsimas.

Melihat realita ini, rombongan bercakap-cakap dengan masyarakat Paralando yang menyatakan penyesalan mendalam atas proyek beranggaran besar namun menghasilkan kualitas yang sangat tidak memuaskan. 

Sebelum meninggalkan lokasi, perwakilan GMNI dan GRD menegaskan sikap mendesak pemerintah untuk segera turun ke lapangan melakukan monitoring dan menyelesaikan persoalan ini agar hak warga atas air bersih terpenuhi.

Diskusi Kekeluargaan dengan Pemerintah Desa

Setelah menyelesaikan agenda di mata air, rombongan kembali dengan tujuan menemui Kepala Desa Paralando untuk berdiskusi langsung di kantor desa. 

Saat tiba, rombongan awalnya hanya bertemu dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang menginformasikan bahwa Kepala Desa sedang ada agenda di luar.

Namun, tak lama setelah rombongan kembali ke sekretariat GRPD, mereka melihat Kepala Desa kembali ke kantornya disusul oleh seorang Babinsa setempat. Tanpa membuang waktu, rombongan langsung kembali ke kantor desa.

Diskusi berjalan cukup lama dalam suasana yang penuh kekeluargaan. Salah seorang perwakilan masyarakat turut masuk ke ruang kerja untuk mengikuti jalannya pertemuan. 

Dalam keterangannya, Kepala Desa menyampaikan bahwa pemerintah desa (Pemdes) tidak dilibatkan secara penuh dalam teknis pengerjaan proyek. 

Pemdes pada awalnya hanya mengusulkan kepada Pemerintah Daerah (Pemda) agar menurunkan program pembangunan air bersih sebagai kebutuhan primer masyarakat Desa Parlando. 

Oleh karena itu, Pemdes kurang mendapatkan informasi mendalam mengenai segala persoalan teknis yang terjadi di lapangan.

Penyerahan Bantuan untuk Penyandang Disabilitas

Usai berdiskusi dengan Kepala Desa, rombongan kembali ke sekretariat untuk beristirahat selama beberapa saat

Agenda kemudian dilanjutkan dengan aksi sosial mengunjungi rumah salah seorang warga penyandang disabilitas untuk menyerahkan bantuan sukarela. 

Bantuan tersebut bersumber dari aksi kemanusiaan yang digalang secara swadaya oleh Gerakan Rakyat Peduli Desa (GRPD).

Di rumah warga tersebut, rombongan merasakan langsung suasana lingkungan yang begitu asri, bersahaja, dan bersih. 

Meski hidup dalam kesederhanaan dan mengandalkan profesi sebagai nelayan (melaut) setiap harinya, kebersihan rumah sangat terjaga. 

Prosesi penyerahan bantuan kemanusiaan ini pun terasa semakin lengkap dan bermakna karena turut dihadiri dan disaksikan langsung oleh Kepala Desa Parlando.

Penulis: Florentianus Nadriyani Mbey

FOLLOW US