Pelatihan operator combine harvester saat panen raya simbolis di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.
KATANTT.COM---Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai, Lambertus Paput, secara resmi membuka kegiatan Pelatihan Operator Combine Harvester yang dirangkaikan dengan aksi panen raya simbolis di Kampung Nio, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, pada Kamis (07/05/2026).
Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk inovasi Pemerintah Kabupaten Manggarai dalam upaya meningkatkan efisiensi kerja serta pendapatan para petani melalui modernisasi alat mesin pertanian.
Dalam arahannya, Pj. Sekda Lambertus Paput menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan pilar utama stabilitas ekonomi daerah dengan kontribusi mencapai 80 persen.
Beliau menjelaskan bahwa kehadiran teknologi combine harvester bukan merupakan ancaman bagi tenaga kerja lokal, melainkan solusi nyata untuk menekan tingginya biaya produksi yang selama ini dibebankan kepada petani.
Melalui efisiensi biaya tersebut, pendapatan bersih yang diterima masyarakat diharapkan dapat meningkat secara signifikan.
"Penggunaan peralatan modern ini bukan bertujuan mengurangi tenaga kerja, melainkan untuk menghemat biaya produksi yang harus dikeluarkan petani," ujar Lambertus Paput di hadapan para peserta dan undangan.
Selain aspek operasional, Pj. Sekda juga memberikan instruksi khusus mengenai pentingnya pemeliharaan aset bantuan dari Kementerian Pertanian tahun 2025 tersebut agar memiliki usia pakai yang panjang.
Dia mengharapkan para operator mengikuti pelatihan secara serius agar mampu melakukan perawatan mandiri secara berkelanjutan.
"Saya minta para operator benar-benar menggali ilmu, termasuk cara merawat alat ini. Jangan sampai kita bisa menggunakan tapi tidak bisa memelihara," tegas Lambertus.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Manggarai, Ferdinandus Ampur, dalam laporan teknisnya mengungkapkan bahwa penggunaan mesin ini mampu memangkas biaya panen hingga 70 persen.
Berdasarkan kajian di wilayah Reok Barat, biaya panen manual yang mencapai Rp15 juta per hektar dapat ditekan menjadi hanya Rp3,5 juta per hektar dengan penggunaan combine harvester.
"Ini merupakan penghematan yang sangat luar biasa. Efisiensi ini secara otomatis akan meningkatkan keuntungan petani karena beban operasional berkurang drastis," jelas Ferdinandus.
Ferdinandus juga menambahkan bahwa pihak penyedia alat wajib memberikan pendampingan teknis kepada tenaga kerja lokal agar alat tersebut dapat dioperasikan secara mandiri tanpa ketergantungan pada teknisi luar.
Pelatihan ini menjadi krusial agar masyarakat lokal di Kecamatan Reok memiliki keahlian khusus dalam mengelola teknologi pertanian terbaru tersebut.
"Penyedia alat diwajibkan oleh Kementerian Pertanian untuk memberikan pelatihan teknis sampai alat itu benar-benar bisa dioperasionalkan oleh tenaga kerja lokal," pungkas Ferdinandus.
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah, di antaranya Kepala Dinas Perhubungan, Sekretaris Dinas Kominfo, Camat Reok, unsur Forkopimca yang diwakili Wakapolsek, para Lurah, serta perwakilan kelompok tani.