Polemik Proyek Panas Bumi Flores : Gubernur NTT Bongkar `Pemain Misterius` & Desak Dialog
Wilibrodus Jatam | Minggu, 20/07/2025 15:17 WIB
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena
KATANTT.COM---Proyek energi panas bumi (geotermal) di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Mataloko dan Poco Leok, terus menjadi sorotan dan memicu kontroversi. Di tengah gelombang penolakan dari sebagian masyarakat,
Gubernur NTT, Melkiades Laka Lena, dengan tegas menyuarakan pentingnya dialog terbuka dan menyoroti dugaan adanya pihak-pihak yang sengaja menunggangi isu ini untuk kepentingan tertentu.
Pernyataan ini disampaikan Gubernur Melkiades saat berdialog dalam acara "Re+Industrialisasi dan Ketahanan Energi Menuju Indonesia Emas" yang diselenggarakan oleh Forum Dialog Nusantara (FDN) di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta Selatan, pada Jumat (18/7/2025).
Melki Laka Lena mengungkapkan keprihatinannya mendalam atas kondisi di lapangan. Ia melihat narasi pro dan kontra proyek panas bumi begitu mendominasi, namun esensi dialog, kebersamaan, dan persaudaraan masyarakat justru tergerus. Ia menyayangkan adanya upaya adu domba dan "permainan di belakang layar" yang menurutnya tidak adil.
"Paling gampang dicek ajalah, susah amat. Rakyat diadu domba, kemudian pemainnya pemain di belakang layar semua ini. Kan ini enggak fair menurut saya," ujar Melki, menekankan bahwa tudingan penerimaan uang dari pengembang panas bumi adalah isu yang sangat mudah diverifikasi.
NTT Menuju Pusat Energi Terbarukan: Tantangan Transisi Energi
Melki menjelaskan, isu energi terbarukan sangat relevan mengingat Indonesia, khususnya NTT, sedang dalam transformasi energi besar-besaran. NTT sendiri telah ditetapkan sebagai provinsi energi terbarukan, dengan seluruh potensi energi di wilayah ini didorong untuk dikembangkan secara optimal.
"Di NTT sendiri kami sekarang mulai masuk bukan cuma menumbuhkan energi, tapi pada kemandirian energi, sesuai dengan apa yang menjadi desain pusat," jelasnya. Ia mengakui bahwa proses perubahan ini tidak mudah, karena pasti ada pihak yang merasa dirugikan dan diuntungkan, sebuah dinamika yang lazim terjadi dalam setiap pembangunan.
Pentingnya Verifikasi Lapangan dan Dialog Inklusif: Jangan Sampai Perpecahan Merusak Harmoni
Gubernur menyoroti bagaimana konflik terkait proyek geotermal ini seringkali menarik masyarakat ke dalam pertikaian tanpa pemahaman yang utuh. Pihak yang merasa dirugikan, katanya, seringkali kurang memahami duduk perkara di lapangan.
"Yang saya takut ini, yang dukung, yang kontra, yang netral itu mungkin belum pernah turun ke lokasi," ujarnya prihatin. Ia mengusulkan agar semua pihak, baik yang pro maupun kontra, turun langsung ke lokasi, berdiskusi, dan mengajak masyarakat bicara dari hati ke hati. "Lebih baik coba turun, ajak rakyat bicara, diskusi, ngobrol. Kita dorong biar itu dialog jalan terus."
Menurut Melki, jika masyarakat diyakinkan melalui dialog yang transparan dan inklusif, mereka akan menerima keputusan yang ada secara bersama-sama, baik itu melanjutkan proyek maupun tidak. Namun, ia memperingatkan keras agar jangan sampai perpecahan merusak harmoni sosial yang telah terbangun di Flores.
Belajar dari Ulumbu: Contoh Positif yang Sudah Berjalan 13 Tahun
Melki kemudian memberikan contoh proyek panas bumi Ulumbu yang sudah beroperasi selama 13 tahun. Ia mengklaim tidak menemukan isu lingkungan yang signifikan. Bahkan, kata Melki, pembagian hasilnya baik, isu teknis pengeboran bagus, keamanan terjamin, dan program CSR berjalan efektif.
"Kalau dia kurang bagus, kita perbaiki. Kalau dia benar-benar itu tidak bisa diharapkan lagi, ya tutup. Jadi kita fair saja terhadap kondisi ini," saran Melki. Ia menambahkan bahwa lokasi proyek Poco Leok tidak terlalu jauh dari Ulumbu, dan masyarakat di Ulumbu hidup damai. Ironisnya, bahkan ada masyarakat di sekitar Ulumbu yang justru meminta PLN segera membuka proyek di tempat mereka, menunjukkan adanya penerimaan positif di lokasi lain.
Kerugian Terbesar: Hilangnya Kebersamaan dan Persaudaraan di Flores
Melki menyimpulkan bahwa hal yang paling menyedihkan dari polemik geotermal di Flores adalah hilangnya dialog dan rusaknya tatanan sosial. "Kemarin dan hari ini semua orang bicara pro kontra, tapi orang lupa bahwa yang luka itu bukan soal pro kontra geotermal. Tapi yang luka itu kan kebersamaan, persaudaraan, keluarga, itu yang hancur sekarang ini di Flores," pungkasnya dengan nada prihatin.
Ia menyerukan agar kebersamaan dan persaudaraan masyarakat dapat dirajut kembali melalui dialog yang jujur dan terbuka, sebelum mengambil keputusan final terkait proyek panas bumi. "Jangan sampai yang tolak itu juga mungkin dia belum tahu ini panas bumi kayak gimana," tutupnya.
Gubernur juga menuding adanya "pemain di belakang layar" yang membuat masyarakat terpecah belah, dan secara terbuka mengkritik pihak yang memanfaatkan keributan di media sosial tanpa mendorong dialog konstruktif. Menurutnya, persoalan Poco Leok bukan hanya tentang pembangunan panas bumi, tetapi tentang kebersamaan masyarakat yang hancur akibat manipulasi isu.
"Ini bisa didialogkan. Dan kalaupun Poco Leok tidak bisa, bisa pindah tempat lain lagi yang memang orang itu mungkin terima, tidak ada masalah," tegasnya, berharap tidak ada pihak yang menunggangi rakyat untuk kepentingan pribadi, karena hal itu akan menghambat kemajuan NTT secara keseluruhan.
TAGS : Polemik Proyek Bumi Flores Gubernur NTT Pemain Misterius