KATANTT.COM---Setiap tahun, kita merayakan nama Raden Ajeng Kartini dengan cara yang hampir seragam: kebaya, lomba, dan kata-kata yang diulang tanpa sempat direnungkan. Namun, Kartini tidak pernah lahir dari keramaian. Ia tumbuh dari kesunyian dari ruang terbatas, dari tubuh yang dikurung adat, dari pikiran yang gelisah mencari cahaya. Maka, memperingati Kartini seharusnya bukan tentang kemeriahan, melainkan tentang keberanian membaca kembali sunyi yang masih hidup hingga hari ini.