• Nusa Tenggara Timur

Jalan Poco-Dusun Bung Putus Total, Dewan Dedy Ongkor Dorong Buka Jalur Baru

Wilibrodus Jatam | Jum'at, 14/08/2026 18:19 WIB
Jalan Poco-Dusun Bung Putus Total, Dewan Dedy Ongkor Dorong Buka Jalur Baru Anggota DPRD Kabupaten Manggarai, Frederikus Andi Ongkor.

KATANTT.COM---Ruas jalan kabupaten dari Poco, Desa Poco menuju Dusun Bung, Desa Benteng Poco, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, putus total akibat longsor.

Putusnya akses tersebut membuat aktivitas warga setempat terganggu. Untuk tetap dapat melintas, warga secara swadaya membangun jembatan darurat menggunakan bambu.

Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Manggarai, Frederikus Andi Ongkor, meminta pemerintah segera mengambil langkah penanganan sebelum memasuki musim hujan.

Dedy Ongkor, sapaan akrab Frederikus Andi Ongkor, mengatakan ruas jalan tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat karena tidak hanya menjadi jalur ekonomi, tetapi juga akses utama menuju fasilitas kesehatan dan rumah sakit.

"Ini bukan hanya jalur ekonomi, tetapi sudah seperti nadi masyarakat, termasuk akses kesehatan dan rumah sakit," kata Dedy, Jumat, 14 Agustus 2026.

Menurutnya, kondisi jalan yang putus membuat kendaraan roda empat tidak dapat melintas. Saat ini, warga hanya mengandalkan sepeda motor melalui jembatan bambu yang dibangun secara swadaya.

Dedy menilai jembatan bambu tersebut sangat berisiko jika digunakan dalam jangka panjang, terlebih saat musim hujan.

"Jembatan bambu itu sangat sementara. Saya khawatir kalau dilalui dengan beban berat, bisa patah dan menimbulkan kecelakaan," tegasnya.

Ia mengatakan, lokasi longsor cukup panjang, lebar, dan dalam sehingga membutuhkan penanganan serius dan cepat.

"Penanganannya harus cepat, kalau bisa sebelum musim hujan," ujarnya.

Dedy mengaku telah melihat langsung kondisi jalan tersebut saat melakukan reses pada 6 Agustus 2026. Ia sengaja mendatangi lokasi setelah mendapat informasi mengenai putusnya akses jalan tersebut sekaligus menyerap aspirasi masyarakat.

"Saya langsung ke sana saat reses. Masyarakat meminta agar masalah ini segera ditangani," katanya.

Ia menjelaskan, ruas tersebut merupakan akses utama masyarakat menuju Ruteng dan rumah sakit serta menjadi jalur yang paling dekat. Sementara akses tembus menuju Belarang belum selesai dibangun.

Dedy mengatakan, dirinya telah menyampaikan persoalan tersebut kepada pemerintah daerah melalui Dinas Pekerjaan Umum. Namun, hingga kini belum ada kepastian waktu penanganan.

Ia menawarkan dua opsi penanganan. Pertama, membangun jembatan. Namun, opsi ini dinilai kurang tepat karena membutuhkan biaya besar dan lokasi tersebut masih berpotensi mengalami longsor.

"Kalau membangun jembatan, saya rasa tidak mungkin. Selain biayanya besar, lokasi itu masih rawan longsor," jelasnya.

Opsi kedua, kata dia, adalah membuka jalur baru sepanjang kurang lebih 250 meter yang nantinya kembali terhubung dengan jalan utama.

"Lebih masuk akal membuka jalur baru sekitar 250 meter. Itu solusi yang lebih jangka panjang," ujarnya.

Dedy memperkirakan pembangunan jalur baru tersebut membutuhkan biaya sekitar Rp200 juta hingga Rp300 juta. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan pembangunan jembatan yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

"Kalau jembatan bisa sampai sekitar Rp9 miliar. Kalau buka jalur baru sekitar 250 meter, mungkin Rp200 juta sampai Rp300 juta," ungkapnya.

Menurut Dedy, jalur baru tersebut juga dinilai lebih aman karena berada di bagian bawah. Jika kembali terjadi longsor, akses tersebut relatif lebih mudah dibersihkan dan difungsikan kembali.

"Kalau nanti ada longsor lagi, tinggal dibersihkan dan jalan bisa digunakan kembali," katanya.

Ia mengaku telah menyampaikan opsi tersebut kepada masyarakat. Menurutnya, warga telah sepakat dan diharapkan dapat memberikan masukan terkait rencana pembukaan jalur baru tersebut.

Dedy juga telah berkomunikasi langsung dengan Kepala Dinas PU dan pejabat terkait agar persoalan tersebut segera mendapatkan solusi.

"Saya sudah sampaikan kepada Kepala PU agar segera dicarikan solusi. Jangan sampai menunggu musim hujan," pungkasnya.

Ia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret mengingat jembatan bambu yang dibangun warga hanya bersifat sementara dan tidak dapat menjadi solusi permanen bagi akses masyarakat.

FOLLOW US