• Nasional

Seminar Kongres PMKRI XXXIV: Dr. Stepi Anriani Ingatkan Ancaman Hibrida dan Perang Informasi

Wilibrodus Jatam | Rabu, 22/07/2026 14:09 WIB
Seminar Kongres PMKRI XXXIV: Dr. Stepi Anriani Ingatkan Ancaman Hibrida dan Perang Informasi Dr. Stepi Anriani menyampaikan materi tentang ancaman hibrida dan perang informasi dalam Studium Generale Kongres Nasional XXXIV PMKRI di Ruteng, Selasa (21/7/2026).

KATANTT.COM---Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional sekaligus Direktur INSS, Stepi Anriani, S.IP., M.Si., menegaskan bahwa ancaman terhadap keamanan nasional Indonesia tidak lagi hanya berasal dari kekuatan militer, tetapi telah berkembang menjadi ancaman multidimensi yang dipengaruhi dinamika geopolitik global, revolusi teknologi, serangan siber, hingga perang informasi. Karena itu, penguatan ketahanan nasional harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan seluruh elemen bangsa, termasuk generasi muda.

Pandangan tersebut disampaikan Dr. Stepi saat menjadi pemateri dalam Studium Generale bertajuk Menakar Keamanan Nasional di Tengah Ketidakpastian Dinamika Global yang merupakan rangkaian Kongres Nasional XXXIV dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII PMKRI Sanctus Thomas Aquinas Tahun 2026 di  Kampus Unika Santu Palus Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Selasa (21/7/2026).

"Keamanan nasional hari ini tidak lagi hanya berbicara tentang ancaman militer, tetapi juga ancaman siber, disinformasi, hingga perang kognitif yang memengaruhi cara berpikir masyarakat," tegas Dr. Stepi.

Keamanan Nasional Memasuki Era Ancaman Multidimensi

Dalam pemaparannya, Dr. Stepi menjelaskan bahwa dunia kini memasuki era Great Fragmentation, yakni kondisi ketika konflik global semakin banyak, saling berkaitan, dan semakin kompleks akibat perkembangan teknologi yang jauh melampaui kemampuan hukum maupun diplomasi internasional.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan keberagaman suku, agama, dan budaya menghadapi tantangan yang semakin beragam, mulai dari ancaman fisik hingga ancaman nonfisik seperti radikalisme, disinformasi digital, serangan siber, ketimpangan ekonomi, dan tekanan geopolitik kawasan.

Ia mengungkapkan, Global Peace Index 2026 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-69 dari 163 negara. Sementara itu, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sekitar 3,64 juta anomali serangan siber sepanjang Januari–Juli 2025. Di sisi lain, Indeks Ketahanan Nasional 2025 menempatkan Indonesia dalam kategori "cukup tangguh."

Untuk menghadapi situasi tersebut, Dr. Stepi menawarkan empat strategi utama, yakni pemetaan ancaman berbasis data, penguatan ketahanan nasional melalui konsep Astagatra, penerapan pendekatan human security, serta penguatan stabilitas dan integrasi bangsa.

Geopolitik dan Geostrategi Menentukan Posisi Indonesia

Dr. Stepi menjelaskan bahwa geopolitik merupakan kajian mengenai pengaruh faktor geografis terhadap kekuatan politik dan hubungan antarnegara. Ia mengaitkan konsep tersebut dengan teori Heartland Mackinder dan Rimland Spykman, serta menjelaskan bahwa dunia kini memasuki era Geopolitik 5.0 yang ditandai meningkatnya peran cyber power.

Sementara itu, geostrategi dipahami sebagai implementasi praktis geopolitik melalui pemanfaatan ruang-ruang strategis dalam mencapai tujuan nasional.

Ia juga memaparkan tiga paradigma utama hubungan internasional, yakni realisme, liberalisme, dan konstruktivisme, yang menjadi dasar memahami dinamika keamanan global saat ini.

Perjalanan Doktrin Pertahanan Indonesia

Materi juga mengulas perkembangan konsep perang semesta di Indonesia sejak masa Perang Kemerdekaan hingga era Reformasi.

Dr. Stepi menjelaskan bahwa gagasan tersebut berawal dari pemikiran Jenderal Sudirman yang meyakini kemenangan tidak mungkin dicapai hanya oleh militer tanpa keterlibatan rakyat. Konsep tersebut kemudian dikembangkan Jenderal A.H. Nasution melalui strategi gerilya rakyat semesta dan diterapkan kembali dalam Operasi Dwikora.

Setelah Reformasi, konsep itu disempurnakan menjadi Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 dan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004.

Ia juga menjelaskan konsep Trinitas Clausewitz yang menempatkan sinergi pemerintah, militer, dan rakyat sebagai kunci kemenangan perang, sejalan dengan prinsip kerakyatan, kesemestaan, dan kewilayahan dalam sistem pertahanan Indonesia.

Ancaman Siber hingga Perang Kognitif

Menurut Dr. Stepi, ancaman keamanan saat ini didominasi ancaman hibrida, yakni kombinasi ancaman militer dan nonmiliter.

Ancaman militer meliputi agresi, pelanggaran wilayah, spionase, sabotase, terorisme, pemberontakan bersenjata, hingga perang saudara. Sementara ancaman nonmiliter mencakup persoalan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, teknologi informasi, dan keselamatan umum.

Ia mengelompokkan ancaman tersebut ke dalam lima klaster utama, yakni terorisme dan ekstremisme, ancaman siber, disinformasi digital, rivalitas geopolitik dan ancaman hibrida, serta ancaman nontradisional seperti krisis pangan, energi, perubahan iklim, kejahatan transnasional, dan kesehatan.

Dr. Stepi juga menyoroti perubahan karakter peperangan yang kini memasuki perang generasi keenam, yaitu perang yang memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), perang informasi, dan cognitive warfare.

"Perang modern tidak hanya menghancurkan wilayah, tetapi juga menyerang pikiran, persepsi, emosi, dan cara masyarakat mengambil keputusan," ujarnya.

Rivalitas Global Mengubah Peta Dunia

Dalam paparannya, Dr. Stepi menyebut rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok sebagai poros utama geopolitik global.

Belanja militer dunia pada 2025 mencapai sekitar US$2,9 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia.

Ia juga mengidentifikasi lima isu global yang menjadi perhatian pada 2026, yakni perang tarif Amerika Serikat–Tiongkok, persaingan kecerdasan buatan dan semikonduktor, konflik Israel–Palestina, perang Israel–Iran, perang Rusia–Ukraina, serta perlambatan ekonomi global dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 3 persen menurut IMF.

Selain itu, kawasan Indo-Pasifik disebut sebagai pusat gravitasi ekonomi dan geopolitik dunia karena dihuni sekitar 60 persen populasi dunia dan menyumbang dua pertiga pertumbuhan ekonomi global. Laut Cina Selatan, termasuk wilayah Natuna, menjadi salah satu kawasan paling strategis akibat dinamika klaim ten-dash line Tiongkok.

Indonesia Memiliki Posisi Geostrategis Penting

Dr. Stepi menilai Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis karena berada di persimpangan dua benua dan dua samudra serta memiliki lebih dari 17.000 pulau.

Empat Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) menjadi jalur penting yang dilalui sekitar 45 persen perdagangan dunia.

Dari sisi ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I Tahun 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan, sementara IMF memproyeksikan pertumbuhan sebesar 5 persen sepanjang 2026.

Menurutnya, posisi tersebut didukung oleh empat modal utama bangsa, yakni bonus demografi, kekayaan sumber daya alam strategis, kepemimpinan Indonesia di ASEAN, serta politik luar negeri bebas aktif.

Delapan Tantangan Generasi Muda

Dr. Stepi mengidentifikasi delapan tantangan utama yang akan dihadapi generasi muda Indonesia, meliputi perkembangan kecerdasan buatan, dinamika Laut Cina Selatan, ketahanan energi, perubahan iklim, perubahan sistem keuangan global, keamanan siber, kesenjangan literasi digital, krisis pangan, serta meningkatnya perang informasi dan perang kognitif.

Sebagai contoh penerapan konsep perang semesta, ia menyoroti keberhasilan penanganan pandemi COVID-19 melalui kolaborasi pemerintah, TNI, tenaga kesehatan, dan masyarakat, serta respons Indonesia terhadap dinamika Laut Cina Selatan dan AUKUS melalui strategi pertahanan aktif dan nonagresif.

PMKRI Diminta Perkuat Ketahanan Bangsa

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Stepi menegaskan bahwa kader PMKRI memiliki delapan peran strategis dalam menjaga persatuan Indonesia, antara lain memperkuat Pancasila sebagai ideologi pemersatu, menjaga kerukunan nasional, mengamalkan semangat Pro Ecclesia et Patria, membangun jejaring lintas daerah, menangkal politik identitas, meningkatkan literasi digital, menghidupi ajaran sosial Gereja, serta berpartisipasi aktif dalam bela negara dan penguatan human security melalui pendidikan, penanggulangan bencana, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.

Menutup paparannya, Dr. Stepi menegaskan bahwa krisis kebangsaan saat ini bersifat multidimensional sehingga membutuhkan sinergi seluruh elemen bangsa.

"Generasi muda yang memiliki kecerdasan geopolitik adalah jaminan bagi kedaulatan Indonesia dalam menghadapi dinamika dunia yang semakin kompleks," pungkasnya.

FOLLOW US