Relawan Aliansi Pemuda Nabire menyerahkan bantuan logistik untuk korban gempa Flores di Manggarai.
KATANTT.COM---Solidaritas untuk warga terdampak gempa bumi di Pulau Flores terus mengalir, bahkan dari luar daerah. Kali ini, kepedulian datang dari Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah.
Komunitas Peduli Nabire (Kopena) berkolaborasi dengan Pemuda Flobamora Nabire dan Pemuda Katolik Kabupaten Nabire menyalurkan bantuan logistik bagi warga yang terdampak gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh perwakilan organisasi dari Nabire, Gery dan Abrahama Agapa, yang kemudian bergandengan tangan dengan relawan Pemuda Katolik Kabupaten Manggarai untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat terdampak.
Aksi kemanusiaan ini menjadi wujud nyata bahwa bencana yang melanda Flores tidak hanya mengetuk kepedulian masyarakat di wilayah terdampak, tetapi juga menggerakkan solidaritas masyarakat Indonesia hingga ke Papua Tengah.
Gempa berkekuatan M 7,7 yang mengguncang Flores menimbulkan dampak luas di berbagai wilayah. Hingga awal September 2026, BNPB mencatat lebih dari 11 ribu gempa susulan. Rentetan gempa tersebut mengakibatkan kerusakan pada rumah warga dan sejumlah fasilitas publik serta memaksa puluhan ribu warga bertahan di berbagai posko pengungsian.
Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan pangan menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak bagi masyarakat yang masih berada di lokasi pengungsian.
Komunitas Peduli Nabire bersama Pemuda Flobamora Nabire dan Pemuda Katolik Kabupaten Nabire kemudian menggalang kepedulian dan menghimpun bantuan dari masyarakat di Nabire untuk disalurkan kepada warga terdampak gempa di Flores.
Paket bantuan yang dibawa meliputi sejumlah kebutuhan pangan pokok, antara lain beras, minyak goreng, telur, dan mi instan. Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan harian warga yang masih bertahan di posko-posko pengungsian.
Perwakilan tim relawan, Gery, mengatakan aksi kemanusiaan tersebut lahir dari rasa empati dan persaudaraan masyarakat Nabire terhadap warga Flores yang sedang menghadapi musibah.
Gery menyebut, masyarakat dan komunitas di Nabire merasa terpanggil untuk ikut membantu setelah melihat besarnya dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa utama dan gempa-gempa susulan.
"Kami datang membawa amanah dan kepedulian dari teman-teman di Nabire. Mungkin bantuan ini tidak besar, tetapi kami berharap dapat meringankan beban saudara-saudara kami yang sedang menghadapi masa sulit," ujar Gery.
Ia menegaskan, kehadiran relawan dari Nabire langsung di lokasi terdampak juga merupakan bentuk komitmen untuk memastikan bantuan benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bersama jaringan relawan Pemuda Katolik Kabupaten Manggarai, tim melakukan penyaluran langsung ke masyarakat terdampak agar distribusi bantuan dapat berlangsung secara transparan dan tepat sasaran.
"Kami ingin memastikan bantuan ini sampai langsung kepada warga. Karena itu, kami bekerja bersama relawan lokal yang memahami kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan," ucap Gery.
Sementara itu, perwakilan Pemuda Katolik Kabupaten Nabire, Abrahama Agapa, menegaskan penyaluran bantuan di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur bukan merupakan akhir dari aksi kemanusiaan yang dilakukan oleh komunitas dan pemuda asal Nabire.
Abrahama juga mengungkapkan, bantuan yang telah disalurkan merupakan tahap awal dari rangkaian gerakan solidaritas untuk warga terdampak gempa di Pulau Flores.
Saat ini, tim relawan dari Nabire bersama jaringan Pemuda Katolik Kabupaten Manggarai masih terus melakukan pemetaan kondisi di lapangan. Pemetaan tersebut dilakukan untuk mengetahui wilayah-wilayah yang masih membutuhkan bantuan logistik serta memperluas jangkauan distribusi ke daerah terdampak lainnya.
"Aksi ini tidak berhenti di Manggarai dan Manggarai Timur. Kami terus berkoordinasi dan memetakan kebutuhan agar bantuan berikutnya bisa menjangkau wilayah terdampak lainnya," jelasnya.
Ia mengatakan, rencana penyaluran bantuan selanjutnya akan diarahkan ke kabupaten-kabupaten lain di Pulau Flores yang turut merasakan dampak gempa.
Gerakan kemanusiaan dari Nabire tersebut memperlihatkan kuatnya ikatan persaudaraan lintas daerah. Jarak antara Papua Tengah dan Flores tidak menjadi penghalang bagi masyarakat untuk saling membantu ketika bencana melanda.
Di tengah ribuan warga yang masih menjalani kehidupan di pengungsian dan menghadapi ketidakpastian akibat gempa susulan, bantuan dari berbagai kelompok masyarakat menjadi penopang penting bagi proses pemulihan.
Bagi para relawan dari Nabire, bantuan logistik yang dibawa bukan sekadar beras, minyak goreng, telur, dan mi instan. Lebih dari itu, bantuan tersebut membawa pesan bahwa warga Flores tidak menghadapi masa sulit ini sendirian.