Proses simulasi penerapan pembelajaran mendalam (Deep Learning) pada hari kedua Bimtek Guru PAUD Non-Formal Kabupaten Manggarai di Aula Dinas PPO Manggarai, Jumat (9/5/2026).
KATANTT.COM---HIMPAUDI Kabupaten Manggarai bersama Alumni PG PAUD Unika Santu Paulus Ruteng menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Berbasis Kurikulum Merdeka di Aula Dinas PPO Kabupaten Manggarai pada 8–9 Mei 2026.
Kegiatan ini menjadi gerakan bersama para pendidik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) non-formal di Kabupaten Manggarai untuk meningkatkan kualitas sekaligus menegakkan martabat profesi guru PAUD melalui penguatan kompetensi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan anak usia dini.
Tiga narasumber utama hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Beata Palmin, Emilia Gracia Megataran, dan Yustina Iman.
Deep Learning PAUD: Belajar yang Bermakna dan Menggembirakan
Dalam sesi materi bertajuk Menghidupkan Pembelajaran Mendalam di Kelas PAUD, Beata Palmin dan Emilia Gracia Megataran menegaskan bahwa pendekatan deep learning bukan sekadar metode belajar, tetapi cara memuliakan anak melalui pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.
Menurut Beata Palmin, pembelajaran mendalam harus membuat anak tidak hanya mengetahui sesuatu, tetapi benar-benar memahami dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Pembelajaran mendalam di PAUD bukan mengejar anak cepat bisa membaca atau berhitung, tetapi bagaimana anak memahami pengalaman belajarnya melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik,” jelas Beata Palmin.
Ketua Program Studi PG PAUD Unika Santu Palus Ruteng itu juga menjelaskan, modul ajar dalam pendekatan deep learning bukan lagi sekadar dokumen administratif, melainkan panduan sistematis bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang hidup dan bermakna di kelas.
Menurutnya, modul ajar disusun untuk membantu guru membangun kompetensi abad 21 pada anak sejak usia dini, seperti kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi.
“Modul ajar harus membantu guru mengenali kebutuhan anak, merancang strategi pembelajaran, menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan, dan melakukan asesmen tanpa tekanan,” ujar Beata.
Dalam pemaparannya, Beata menjelaskan empat komponen utama modul ajar deep learning, yakni identifikasi kebutuhan anak, desain pembelajaran, pengalaman belajar, dan asesmen.
Pada tahap identifikasi, guru diminta memahami kesiapan serta kebutuhan perkembangan anak melalui asesmen awal. Guru juga diarahkan memilih karakter yang ingin dikuatkan, seperti kreativitas dan penalaran kritis.
Sementara pada tahap desain pembelajaran, guru menyusun tujuan pembelajaran dan menentukan praktik pedagogis yang sesuai, seperti bermain peran, pembelajaran kontekstual, dan inkuiri.
Selain itu, guru juga didorong membangun ekosistem belajar melalui kemitraan dengan orang tua, menciptakan lingkungan bermain yang aman dan menantang, serta memanfaatkan media digital sebagai sumber inspirasi belajar.
Siklus Belajar Anak: Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi
Beata yang juga sebagai Koordinator Alumni PG PAUD Unika Santu Palus Ruteng itu menegaskan bahwa pembelajaran mendalam merupakan sebuah siklus, bukan proses satu arah.
Tahapan pertama adalah memahami, yakni membangun fondasi pengetahuan melalui eksplorasi berbagai sumber belajar seperti buku, video, maupun wawancara sederhana.
Tahapan kedua adalah mengaplikasi, di mana anak belajar melalui praktik langsung dan permainan bermakna, misalnya bermain peran menjadi koki atau membuat karya dari bahan bekas.
Sedangkan tahap terakhir adalah merefleksi, yakni membantu anak menemukan makna pembelajaran melalui circle time, bercerita tentang hasil karya, hingga mengungkapkan perasaan selama proses belajar.
“Anak-anak perlu diberi ruang untuk mencoba, salah, lalu belajar lagi. Dari situlah pembelajaran bermakna terbentuk,” tambah Beata.
Ia juga menekankan bahwa asesmen dalam PAUD tidak boleh menekan anak dengan tes tertulis maupun lisan. Guru diminta menggunakan observasi, portofolio hasil karya, dan catatan anekdot sebagai cara melihat perkembangan anak secara alami.
Yustina Iman: Guru PAUD Harus Memiliki Growth Mindset
Sementara itu, Ketua HIMPAUDI Kabupaten Manggarai, Yustina Iman, membawakan materi tentang Growth Mindset atau pola pikir bertumbuh bagi para guru PAUD non-formal.
Yustina menjelaskan bahwa growth mindset merupakan keyakinan bahwa kecerdasan, bakat, dan kemampuan dapat terus berkembang melalui kerja keras, strategi yang tepat, dan proses belajar yang konsisten.
Dia mengutip pesan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Abdul Mu’ti, bahwa setiap persoalan selalu memiliki jalan keluar sehingga guru tidak boleh mudah menyerah menghadapi tantangan pendidikan.
“Guru PAUD non-formal tidak boleh merasa kecil atau terbatas. Kapasitas diri akan terus bertumbuh kalau kita mau belajar dan terbuka terhadap perubahan,” kata Yustina Iman.
Menurutnya, ada empat ciri utama pola pikir bertumbuh yang wajib dimiliki pendidik, yakni memandang kegagalan sebagai pelajaran, mencintai tantangan, menghargai proses, dan terbuka terhadap kritik.
Yustina menilai pola pikir tersebut sangat penting karena guru PAUD memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak sejak dini.
“Anak perlu dipuji karena usahanya, bukan hanya karena hasilnya. Ketika anak terus mencoba, di situlah keberanian dan rasa percaya dirinya tumbuh,” ujarnya.
Ia juga memperkenalkan konsep kata belum kepada peserta bimtek. Menurutnya, ketika seseorang belum bisa melakukan sesuatu, bukan berarti tidak mampu, tetapi sedang berada dalam proses belajar menuju penguasaan.
Selain growth mindset, Yustina turut memperkenalkan pola pikir terbuka (open mindset), pola pikir solutif (solution mindset), dan pola pikir berkelimpahan yang mendorong guru saling berbagi ilmu tanpa takut tersaingi.
Hari Kedua Bimtek Diisi Simulasi Implementasi Deep Learning
Pada hari kedua, peserta bimtek mengikuti simulasi penerapan materi pembelajaran mendalam di kelas PAUD. Simulasi dilakukan agar para guru tidak hanya memahami teori, tetapi benar-benar mampu mengimplementasikan model deep learning di sekolah masing-masing.
Melalui praktik langsung tersebut, peserta diajak menyusun modul ajar, merancang pengalaman belajar anak, hingga melakukan asesmen berbasis pengamatan dan dokumentasi perkembangan anak.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa guru PAUD non-formal di Kabupaten Manggarai terus bergerak meningkatkan profesionalisme dan kualitas layanan pendidikan anak usia dini melalui pembelajaran yang humanis, reflektif, dan berpusat pada anak.