Meldyani Yolfa Jaya, Aktivis GMNI Cabang Manggarai
KATANTT.COM---Setiap tahun, kita merayakan nama Raden Ajeng Kartini dengan cara yang hampir seragam: kebaya, lomba, dan kata-kata yang diulang tanpa sempat direnungkan. Namun, Kartini tidak pernah lahir dari keramaian. Ia tumbuh dari kesunyian dari ruang terbatas, dari tubuh yang dikurung adat, dari pikiran yang gelisah mencari cahaya. Maka, memperingati Kartini seharusnya bukan tentang kemeriahan, melainkan tentang keberanian membaca kembali sunyi yang masih hidup hingga hari ini.
Kartini menulis, bukan karena dunia memberinya ruang, tetapi karena dunia menutup hampir semua pintu baginya. Dalam sunyi itulah ia merawat api kecil bernama harapan. Ia tahu, perubahan tidak selalu dimulai dari teriakan. Kadang ia tumbuh pelan, dalam diam, tetapi mengakar dalam.
Hari ini, perempuan Indonesia memang telah melangkah jauh. Mereka hadir di ruang-ruang pendidikan, politik, ekonomi, bahkan memimpin berbagai sektor kehidupan. Namun, di balik capaian itu, ada kenyataan yang tidak selalu tampak: perjuangan perempuan masih sering berjalan di jalan sunyi tidak selalu terlihat, tidak selalu diakui, bahkan kadang dipinggirkan.
Di desa-desa, perempuan masih memikul beban ganda: bekerja tanpa upah yang layak, sekaligus menjaga kehidupan keluarga. Di kota-kota, perempuan harus berhadapan dengan standar yang tak adil: dituntut kuat, tetapi tidak boleh terlalu bersuara; dituntut mandiri, tetapi tetap dibatasi oleh norma yang seringkali tidak berpihak. Di ruang digital, suara perempuan kerap dibungkam oleh kekerasan verbal, pelecehan, dan penghakiman yang brutal.
Ironisnya, di tengah arus modernitas, tubuh perempuan masih menjadi arena paling mudah untuk dikontrol baik oleh budaya, kekuasaan, maupun kepentingan ekonomi. Perempuan sering dijadikan simbol, tetapi jarang benar-benar didengarkan sebagai subjek. Mereka dipuji dalam seremoni, tetapi diabaikan dalam pengambilan keputusan.
Di titik ini, kita perlu jujur: perjuangan perempuan Indonesia belum selesai. Ia hanya berubah bentuk.
Jalan sunyi yang dilalui Kartini kini menjelma dalam berbagai wajah. Ia hadir dalam perempuan yang tetap bersekolah meski akses terbatas. Ia hidup dalam ibu yang bekerja keras demi pendidikan anaknya. Ia berdenyut dalam aktivis yang melawan kekerasan, meski suaranya kerap dianggap berisik. Ia bahkan tumbuh dalam perempuan-perempuan yang memilih diam bukan karena lemah, tetapi karena dunia belum cukup aman untuk menerima suaranya.
Namun, kesunyian ini tidak boleh terus diwariskan sebagai beban. Ia harus diubah menjadi kesadaran kolektif. Perjuangan perempuan bukan hanya urusan perempuan. Ia adalah cermin dari keadilan sosial itu sendiri.
Dalam perspektif gerakan seperti GMNI, perjuangan perempuan tidak bisa dilepaskan dari perjuangan rakyat secara keseluruhan. Ketimpangan ekonomi, akses pendidikan yang tidak merata, serta budaya patriarki yang mengakar adalah struktur yang saling berkaitan. Maka, membicarakan Kartini hari ini berarti juga membicarakan bagaimana negara dan masyarakat memastikan bahwa perempuan tidak lagi berjalan sendirian dalam sunyi. Kita membutuhkan lebih dari sekadar penghormatan simbolik.
Kita membutuhkan keberanian untuk membongkar ketidakadilan yang masih bertahan baik dalam kebijakan, dalam budaya, maupun dalam cara kita berpikir. Kita membutuhkan ruang yang aman bagi perempuan untuk bersuara, tanpa takut diserang atau dihakimi. Dan yang lebih penting, kita membutuhkan kesediaan untuk mendengar.
Kartini pernah bermimpi tentang dunia di mana perempuan dapat berpikir, belajar, dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Mimpi itu belum sepenuhnya menjadi kenyataan. Ia masih berjalan pelan, kadang tertatih, tetapi tidak pernah benar-benar berhenti.
Hari Kartini seharusnya menjadi momen untuk bertanya: apakah kita masih membiarkan perempuan berjuang dalam sunyi?
Jika jawabannya ya, maka kita belum benar-benar memahami Kartini. Sebab Kartini tidak hanya tentang masa lalu. Ia adalah tentang keberanian untuk menyalakan cahaya, bahkan ketika dunia memilih gelap. Ia adalah tentang keyakinan bahwa perubahan, sekecil apa pun, tetap berarti. Dan lebih dari itu, ia adalah pengingat bahwa jalan sunyi bukanlah akhir melainkan awal dari perjuangan yang lebih besar.
Hari ini, tugas kita bukan sekadar mengenang Kartini. Tugas kita adalah memastikan bahwa tidak ada lagi perempuan yang harus berjalan sendirian dalam sunyi.
Penulis: Meldyani Yolfa Jaya, Aktivis GMNI Cabang Manggarai.