
Yohanna Jelina, anggota KSP Kopdit Mawar Moe, saat berjualan ikan di Pasar Inpres Ruteng demi membiayai pendidikan anak-anaknya hingga sarjana.
KATANTT.COM---Di sela pengapnya Pasar Inpres Ruteng, di antara aroma peluh yang menyatu dengan sisa sayuran membusuk, terselip sebuah simfoni perjuangan yang tak pernah tertulis di papan pengumuman mana pun.
Ini bukan sekadar cerita tentang jual beli, melainkan tentang Yohanna Jelina (56) seorang perempuan yang terpaksa menjinakkan nasib di medan tempur bernama pasar demi memahat masa depan anak-anaknya dari titik nol.
Di tengah riuh rendah Rapat Anggota Tahunan (RAT) KSP Kopdit Mawar Moe, Sabtu (21/3/2026), mama Yohana perlahan membuka tabir hidupnya di hadapan awak media.
Ia duduk dengan punggung tegak, namun saat bibirnya mulai berucap, suaranya bergetar hebat.
Wanita parubaya itu tidak sedang membacakan angka-angka mati dalam laporan keuangan; ia sedang membacakan memoar tentang seorang perempuan yang dulu "buta dunia luar," namun dipaksa semesta untuk menjadi nakhoda tunggal bagi keluarganya.
Juli yang Runtuh: Ketika Dunia Mendadak Gelap
Hidup mama Yohana terbelah dua: sebelum dan sesudah Juli 2013. Hari itu, suaminya, Basilius Darman, berpulang. Bagi ibu empat orang anak itu adalah kiamat kecil.
Selama puluhan tahun, ia adalah definisi ibu rumah tangga konvensional yang dunianya hanya sebatas dapur, anak, dan menyemai sayur di polybag bekas sak semen.
"Mama di rumah saja," adalah kalimat keramat mendiang suaminya yang selama ini memenjarakannya dalam kenyamanan semu. Begitu sang pelindung pergi, kenyamanan itu menguap.
Mama Yohana berdiri di depan empat anaknya yang masih kecil dengan tangan kosong dan hati yang remuk redam.
Saking putusnya asa, langkah pertama yang diambil Mama Yohana justru ingin menyerah. Ia mendatangi kantor Koperasi Mawar Moe dengan satu niat: menarik seluruh simpanan almarhum suaminya.
Ibu dengan empat orang anak tersebut merasa tidak akan mampu memenuhi kewajiban finansial apa pun.
Namun, di sanalah takdir berkata lain. Bukannya diproses untuk keluar, para petugas koperasi justru merangkulnya.
Dengan pendekatan yang manusiawi, mereka meyakinkan Mama Yohana untuk tetap bertahan dan mendaftarkan diri sebagai ahli waris pengganti suaminya.
"Saya setuju sambil menangis. Ada keraguan besar, tapi mereka mendampingi saya dengan sangat baik," ujarnya.
Tahun 2014 menjadi saksi bisu kenekatannya. Dengan modal pinjaman Rp2 juta, mama Yohana meneruskan usaha penyewaan baskom dan tong ikan peninggalan suaminya. Pasar Ruteng adalah tempat yang keras; baskom sewaannya sering hilang atau dicuri.
"Bagi orang lain, dua ribu perak mungkin sampah. Tapi bagi saya saat itu, itu adalah harga nyawa," kenangnya dengan mata berkaca-kaca.
Titik balik hidupnya terjadi saat sebuah tawaran datang: bagi hasil untuk menjual ikan. Ragu dan diselimuti ketakutan akan kegagalan, mama Yohana melakukan hal yang paling manusiawi: ia bersimpuh di depan bingkai foto suaminya yang bisu.
"Bapak, bukannya saya mau melepaskan pekerjaanmu, tapi saya harus beralih langkah demi anak-anak," ucapnya lirih.
Akibat tuntutan ekonomi keluarga dan tingginya biaya pendidikan anak, ia memutuskan untuk beralih dari usaha penyewaan baskom menjadi penjual ikan.
Puncaknya, saat masa "bulan terang", waktu di mana ikan sulit didapat dan harga melonjak, ia berhasil menjual 10 boks ikan dan mengantongi keuntungan bersih Rp800 ribu dalam sehari.
Keberhasilan ini juga tercermin dari pertumbuhan ekonominya di koperasi. Dari pinjaman awal Rp2 juta, kini plafon kreditnya sudah mencapai Rp15 juta. Dana ini biasanya ia gunakan sebagai "peluru" modal saat musim ikan mahal di bulan Desember atau Januari.
Memanen Keringat: Dari Rumah Bambu ke Ijazah Sarjana
Mama Yohana adalah anomali di tengah budaya konsumtif. Dari setiap keuntungan amis sisik ikan, ia dengan disiplin menyisihkan Rp100 ribu setiap hari sebagai "gaji" pribadinya, di luar tabungan wajib.
Kini, hasilnya bicara. Rumah bambu yang dulu dingin dan ringkih telah bertransformasi menjadi hunian layak dari hasil "arisan" semen dan besi.
Namun, mahakarya sesungguhnya bukanlah tembok beton itu, melainkan ijazah anak-anaknya. Anak sulungnya kini berdiri tegak sebagai PNS, sementara adik-adiknya telah dan sedang menempuh jalur sarjana.
Sistem yang Memanusiakan
Keberhasilan mama Yohana tidak lepas dari sistem yang mendukungnya. Manajer Koperasi Mawar Moe, Maria Deby Minarni, menegaskan bahwa lembaga mereka berkomitmen penuh memanusiakan para ibu tunggal (single parent).
Secara administratif, Maria menjelaskan bahwa meskipun nomor keanggotaan almarhum suami tidak bisa diwariskan secara langsung, modalnya dapat dialihkan kepada sang istri sebagai anggota baru.
Namun, lebih dari sekadar urusan administrasi Rp150.000, Mawar Moe menerapkan strategi "jemput bola" bagi para pejuang pasar seperti mama Yohana.
"Kami menugaskan staf khusus untuk menjemput tabungan anggota di pasar, mulai dari pecahan Rp50.000 hingga Rp100.000 setiap hari," jelas Maria.
Maria melanjutkan bahwa pola ini memastikan para pedagang kecil tetap dapat menabung tanpa harus meninggalkan lapak dagangan mereka
Kisah mama Yohana adalah bukti nyata bahwa di balik bau amis ikan dan kerasnya aspal pasar, ada cinta seorang ibu yang mampu mengubah keringat menjadi martabat, dan mengubah keputusasaan menjadi gelar sarjana.
TAGS : Manggarai Ruteng KSP Kopdit Mawar Moe Pasar Inpres Yohana Jelina