• Nusa Tenggara Timur

Warfga Kolorae-Raijua Ditemukan Tewas Gantung Diri, Diduga Sering Cekcek dengan Istri

Imanuel Lodja | Selasa, 10/02/2026 08:10 WIB
Warfga Kolorae-Raijua Ditemukan Tewas Gantung Diri, Diduga Sering Cekcek dengan Istri Ilustrasi bunuh diri (Foto: tirto)

KATANTT.COM--Kasus orang meninggal karena gantung diri kembali terjadi di Kabupaten Sabu Raijua. Sabtu (7/2/2026) malam, MKB alias Mikael (43), warga Desa Kolorae, Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua ditemukan meninggal dalam posisi gantung diri di rumahnya.

Mikael yang sehari-hari bekerja sebagai petani/pekebun diduga memiliki masalah rumah tangga dengan istrinya. Pada Sabtu malam, kerabat korban, Antonius Kaka Balo (69) hendak mengajak korban untuk sama-sama ke tempat acara keluarga.

Antonius memanggil korban namun korban tidak menyahut sehingga Antonius membuka pintu rumah dalam keadaan gelap. Ia menyalakan senter dan melihat korban dalam keadaan tergantung di dalam rumah.

Antonius pun pergi memanggil keluarga yang berada di tempat acara syukuran dan meminta keluarga untuk menurunkan korban. Kerabat korban mengaku kalau pada Sabtu pagi sekitar pukul 07.00 wita, korban melakukan traktor ladang sampai sore pukul 17.00 wita.

Tidak ada yang mengetahui aksi korban saat gantung diri dan alasan korban nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Selama ini korban tidak ada masalah dalam rumah maupun dengan orang lain.

Namun diduga korban bunuh diri karena masalah dalam rumah tangga. Korban dan istri selalu bertengkar, dan istri korban sering pulang ke rumah orang tua. Polisi pun turun ke lokasi melakukan olah TKP. Korban tergantung di kayu kap atap rumah.

Korban bunuh diri menggunakan tali nilon warna merah. ada meja plastik yang terbanting di bawah kaki korban. Hasil visum dokter Puskesmas, dr Sandi Betan menerangkan bahwa tidak ada tanda kekerasan fisik pada tubuh korban.

Dokter menemukan ada tanda-tanda gantung diri karena terdapat jejas dengan batas tegas melingkar pada leher korban, teraba krepitasi pada tulang krikoid. -kematian berkisar 2-3 jam sebelum dilakukan pemeriksaan fisik pada korban.

Korban selama ini dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan tidak pernah menceritakan masalah pribadinya kepada keluarga. Keluarga menerima kematian korban sebagai suatu musibah dan menolak korban untuk diotopsi. Mereka pun bersedia membuat berita acara penolakan otopsi.

Kapolres Sabu Raijua, AKBP Paulus Naatonis yang dikonfirmasi pada Senin (9/2/2026) mengaku kalau kasus ini sudah ditangani polisi dan jenazah sudah diserahkan ke pihak keluarga.

FOLLOW US