Elisabeth N. Tulis saat memandu sebuah acara resepsi Pernikahan, menampilkan perannya sebagai MC profesional.
KATANTT.COM---Di Manggarai, ada satu nama yang belakangan ini begitu sering dibicarakan. Bukan artis ibu kota, bukan pula pejabat publik. Ia adalah seorang guru sederhana, ramah, tapi memiliki jejak panjang yang membuat banyak orang menoleh kagum. Namanya Elisabeth N. Tulis, atau yang lebih dikenal dengan panggilan akrab, Ibu Elis.
Di usia 49 tahun, ketika sebagian orang mulai memikirkan perlahan memperlambat langkah, Ibu Elis justru melaju dengan energi yang seolah tak pernah habis. Ia kepala sekolah, guru, penyanyi, MC profesional, dan instruktur aerobik yang sudah aktif hampir seperempat abad. Lima dunia yang berbeda, lima panggung yang menuntut karakter berbeda, namun semuanya mampu ia jalani dengan ketegasan, keceriaan, dan kedisiplinan yang sama.
"Saya Ini Ibu Elis…" Awal Sebuah Cerita
Begitu diminta memperkenalkan diri, ia tertawa kecil. Bukan karena ragu, tapi karena begitu banyak cerita di dalam dirinya sehingga ia bahkan tidak tahu dari mana harus mulai.
"Saya ini Ibu Elis," katanya. "Usia memang sudah tidak muda lagi. Tapi yang Tuhan kasih, tidak boleh disia-siakan."
Tahun 2005 menjadi titik awalnya mengajar, sebelum akhirnya diangkat menjadi ASN pada 2012. Namun jauh sebelum menyandang status guru, panggung sudah akrab dengan hidupnya. Sejak kecil, ia menyanyi, menari, menjahit, bahkan sudah berani menjadi MC ketika usia remaja.
"Saya dari kecil suka semua. Apa yang bisa saya coba, saya coba," kenangnya.
Kemudian tahun 2010 menjadi momentum penting, tawaran menjadi MC dalam acara besar di Kupang membuka jalan bagi karier hiburannya. Dari situ, namanya mulai dikenal, satu undangan membawa undangan lain, hingga kini ia telah memandu berbagai event nasional di Labuan Bajo dan daerah lainnya.
Sementara itu, aerobik menjadi kecintaannya yang paling lama. "Sudah 20 sampai 25 tahun," ujar Ibu Elis. "Sejak punya anak pertama, saya sudah mulai melatih aerobik."
Lima Peran, Satu Prinsip: "Pekerjaan Utama Tidak Boleh Terganggu"
Menjalani banyak profesi bukan perkara sepele. Tetapi Ibu Elis punya rumus yang ia pegang teguh:
"Pekerjaan utama jangan pernah terganggu."
Karena itu, semua job menyanyi dan MC ia ambil pada sore atau malam hari. Latihan aerobik ia jadwalkan tiga kali seminggu bersama klub yang sudah lama dibinanya. Semuanya berjalan rapi, terstruktur, seperti sudah punya ritme yang ia hafal di luar kepala.
Meski begitu, ia mengakui bahwa kesibukan terkadang menantang. Pernah suatu kali ia harus mengikuti rapat sekolah, sementara malamnya tampil sebagai MC.
"Sambil rapat, saya sudah dandan. Setelah rapat, langsung gas," ujarnya sambil tertawa.
Bagi Ibu Elis, energi bukan sekadar stamina fisik. Baginya, energi adalah rasa syukur.
"Kalau kita bersyukur, kita tidak cepat capek," katanya.
Dibentuk oleh Nilai: Bekerja, Bekerja, Bekerja
Apa yang membuatnya begitu rajin? Jawabannya sederhana: orang tua.
"Orang tua selalu mengajarkan kami untuk bekerja. Sampai sekarang saya pegang itu," tuturnya.
Dan ternyata, kerja keras itulah yang membawa ia menemukan jenis kebahagiaan yang tidak bisa dibeli. Kebahagiaan ketika berhasil menuntun murid-murid untuk maju. Kebahagiaan ketika memandu sebuah acara dan membuat ratusan orang tersenyum. Kebahagiaan ketika kelas aerobik dipenuhi peserta yang ingin hidup sehat.
Semua itu menjadi bukti bahwa bakat bukan cuma soal kemampuan lahiriah. Bakat adalah ketekunan. Bakat adalah keberanian untuk mengambil ruang.
Dukungan yang Mengalir dari Segala Arah
Di balik sosok multitalenta ini, ada keluarga yang menjadi pilar.
"Suami selalu mendukung. Bahkan kalau dapat job di luar kota, dia yang paling semangat," jelasnya.
Rekan guru pun demikian. Mereka bergotong royong menyiapkan perlengkapan, kostum, atau atribut untuk penampilan Ibu Elis. Sementara murid-murid mendukung dari kejauhan, bangga karena kepala sekolah mereka dikenal luas di banyak tempat.
"Saya sangat bersyukur. Semua mendukung," katanya penuh haru.
Pesan Tegas untuk Generasi Muda: Jangan Malas, Jangan Takut
Sebagai perempuan yang telah melewati banyak peran sejak usia muda, Ibu Elis memiliki pesan tegas:
"Kami ini sebentar lagi setengah abad. Anak-anak muda harus maju. Ambil kesempatan. Jangan malas belajar, jangan takut mencoba."
Ia terutama menekankan pentingnya dunia aerobik. Di Manggarai, instruktur aerobik masih sangat sedikit, padahal peluangnya besar.
"Dibayar per jam. Lumayan. Wanita harus mandiri," katanya mantap.
Generasi muda, baginya, harus lebih berani mengambil langkah dan tidak hanya menunggu kesempatan datang.
Harapan: Ruang Seni dan Kreativitas untuk Anak-anak Manggarai
Sebagai kepala sekolah, Ibu Elis memimpikan lingkungan pendidikan yang lebih kaya akan ruang kreativitas.
"Public speaking harus mulai diajarkan di sekolah. Sanggar seni harus diperbanyak. Anak-anak butuh ruang untuk berkembang," ujarnya.
Ia percaya multitalenta bukanlah bakat eksklusif. Setiap anak memiliki potensi itu. Yang dibutuhkan hanyalah dorongan, fasilitas, dan keberanian untuk mencoba.
Tiga Kata yang Merangkum Dirinya
Ketika ditanya tiga kata untuk menggambarkan dirinya, ia menjawab tanpa jeda:
"Energik, percaya diri, dan pekerja keras."
Tiga kata itu bukan sekadar deskripsi, itu adalah gambaran hidupnya, ritme langkahnya, dan alasan mengapa ia tetap bersinar di berbagai peran.
Menutup Cerita: Talenta adalah Syukur yang Diwujudkan
Dunia pendidikan, hiburan, dan olahraga telah menjadi ruang bagi Ibu Elis untuk berkarya. Namun baginya, multitalenta bukan tentang tampil hebat di banyak tempat. Bukan pula soal dikenal banyak orang.
"Multitalenta itu bukan tentang pamer kemampuan," ujarnya pelan. "Itu tentang bersyukur dan memakai semua talenta untuk kebaikan."
Di Manggarai, perjalanan perempuan bernama Elisabeth N. Tulis ini menjadi bukti nyata bahwa ketika seseorang percaya pada dirinya, menghargai anugerah Tuhan, dan bekerja tanpa lelah, maka hidup pun akan membuka banyak pintu.
Ia tidak hanya menjadi sosok multitalenta. Ia menjadi cerita. Inspirasi. Dan cermin bahwa potensi perempuan Manggarai bisa bersinar hingga jauh.