ilustrasi_
KATANTT.COM--Musibah menggenaskan dialami Oktovianus Ate (48), petani yang juga warga RT 29/RW 09 Kelurahan Takari, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, NTT ditemukan meninggal dunia Selasa (15/2/2022).
Korban ditemukan tertimpa reruntuhan tembok rumah doa di rumah doa yang terletak di samping Gereja Ebenhaezer Talaka Oesusu, RT 003/RW 001, Desa Oesusu, kecamatan Takari, kabupaten Kupang.
Kerabat korban, Metusalak Tanau (62), warga RT 14/RW 06, Desa Oesusu, Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang mengaku kalau sejak Selasa (8/2/2022) ia tidak pernah melihat korban.
Selanjutnya karena sudah sepekan korban tidak kelihatan, Metusalak pun mencari korban. Metusalak mencari korban di rumah doa yang terletak di samping Gereja Ebenheizer Talaka Desa Oesusu kecamatan Takari, Kabupaten Kupang.
Pada saat masuk ke dapur rumah doa tersebut, Metusalak menemukan korban sudah meninggal dalam keadaan tertimpa reruntuhan tembok dapur rumah doa tersebut. Melihat kejadian tersebut kemudian Metusalak melaporkan ke polisi di Polsek Takari.
Kapolsek Takari Ipda I Nyoma Gurina Mariana, SH, MH, bersama anggota jaga menghubungi petugas Puskesmas Takari dan bersama-sama menuju lokasi kejadian.
Kapolsek Takari bersama anggota melakukan olah tempat kejadian perkara dan memeriksa sejumlah saksi. Sementara petugas medis dari Puskesmas Takari melakukan visum pada jenazah korban.
Berdasarkan hasil pemeriksaan VER luar tubuh korban, tidak ditemukan adanya luka-luka tanda kekerasan. Luka yang terdapat pada tubuh korban akibat runtuhan tembok ketika korban tertimpa tembok.
Pada saat ditemukan, korban masih tertimpa reruntuhan tembok, dan kondisi korban sudah membusuk. Petugas medis Puskesmas Takari menduga korban meninggal sudah lebih dari 3 hari sebelum ditemukan.
Kapolsek Takari juga mengakui kalau korban diduga meninggal karena tertimpa reruntuhan tembok dapur rumah doa, karena kondisi rumah doa tersebut memang sudah lama dan bangunannya sudah rapuh.
Diperoleh informasi kalau korban selama ini tinggal sendirian di rumah doa tersebut. Pihak keluarga pun menerima kematian korban sebagai musibah dan takdir sehingga menolak jenazah korban untuk dilakukan autopsi.