Bupati Kupang, Korinus Masneno tanam jagung bersama kelompok tani Sasando di halaman SD Negeri Naibonat.
katantt.com--Sekolah Dasar Negeri Naibonat memanfaatkan lahan kosong di halaman depan gedung sekolah untuk menanam jagung.
Dengan adanya kebun jagung tersebut, diharapkan bisa memotivasi dan memberi contoh kepada para murid sejak dini untuk berkebun dan memanfaatkan pekarangan rumah yang kosong.
Demikian disampaikan Kepala Sekolah, Simon Anunu, SAg, MPd,dalam acara penanaman jagung secara simbolis oleh Bupati Kupang Korinus Masneno di lahan sekolah seluas 68 hektare, Jumat (2/7/2021).
Ia mengaku niat menanam di lokasi sekolah tersebut awalnya datang dari pemilik lahan dalam hal ini pihak sekolah, dengan di dukung oleh pekerja Kelompok Tani (Poktan) Sasando dan Koperasi Kredit Swasti Sari.
Pemanfaatan lahan ini diyakini bisa dapatkan keuntungan, baik untuk pekerja, pemilik lahan maupun pemberi modal, karena hasil yang diperoleh dibagi 3 (tiga).
Untuk sekolah, dapat dipergunakan membangun lapangan olahraga di belakang gedung sekolah.
Niat baik menaman dan rencana pembangunan lapangan olahraga yang digagas oleh kepala sekolah ini, diapresiasi Bupati Kupang Korinus Masneno.
Namun Bupati sarankan, ke depan harus di ubah posisi kebun sekolah lebih tepatnya berada di halaman belakang, sedangkan untuk lapangan olahraga berada di halaman depan sekolah.
Bupati melanjutkan akan pentingnya kegiatan menanam yang diterapkan di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan ini akan menambah kecintaan para siswa/siswi untuk gemar menanam yang dapat menjadi kegiatan penunjang/praktek langsung di luar kegiatan belajar mengajar di kelas.
Budaya bercocok tanam/ berkebun yang telah menjadi bagian turun temurun sejak dulu, merupakan pekerjaan yang tidak butuh ilmu khusus, semuanya dapat dikerjakan jika ada niat serta berkelanjutan.
"Sebagai contoh, hasil dari pertanian dapat diarahkan ke peternakan. Kembangkan lahan pertanian untuk memperbaiki ekonomi masyarakat," tandasnya.
Ia menginginkan agar anak-anak didik terus di pacu selalu melakukan giat tanam menaman, anak-anak harus memiliki bidang kompetensi lain di luar prestasi akademik.
Sebab, cara bercocok tanam sejak dini akan mengenalkan anak ke sistem pangan lokal berkelanjutan karena kegiatan tersebut mengajarkan anak mengolah lahan lalu menanam benih, memanen, menikmati hasil panen mereka selain dimakan sendiri, bisa untuk dijual.
Menanam tidak hanya dipandang sebagai komoditas konsumsi belaka, tapi juga ada hasil jerih payah manusia di dalamnya.
"Jika ingin menuai, haruslah menabur. Jangan tidak pernah menanam, tapi ngotot untuk menuai. Menuailah sesuai apa yang ditaburkan sendiri. Saya bukan orang hebat, tapi saya berpikir hebat untuk masyarakat yang saya cintai," ungkapnya.