• Nusa Tenggara Timur

Air Bersih hingga Trauma Anak, Ini Perhatian Plan Indonesia untuk Korban Gempa Manggarai

Wilibrodus Jatam | Jum'at, 21/08/2026 05:55 WIB
Air Bersih hingga Trauma Anak, Ini Perhatian Plan Indonesia untuk Korban Gempa Manggarai Plan Indonesia menyalurkan bantuan darurat kepada warga terdampak gempa di Manggarai.

KATANTT.COM---Yayasan Plan International Indonesia memperkuat respons bantuan darurat bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, mengatakan bantuan yang disalurkan tidak hanya menyasar kebutuhan dasar seperti air bersih, tetapi juga perlengkapan tempat tinggal sementara, sanitasi, kesehatan, hingga dukungan psikososial bagi anak-anak.

Dini menyampaikan hal tersebut saat ditemui media ini di Posko Tanggap Darurat Kabupaten Manggarai, Kamis (20/8/2026).

"Yang utama adalah air bersih karena ini kebutuhan dasar. Kami juga menyalurkan shelter kit, terpal, paket kebersihan, kesehatan, sanitasi dan higiene," ujar Dini.

Menurut dia, bantuan juga mencakup selimut dan tikar yang dibutuhkan masyarakat untuk menunjang kebutuhan sehari-hari selama berada di lokasi pengungsian.

Selain bantuan logistik, Plan Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap kelompok rentan, terutama anak-anak, perempuan, ibu hamil, ibu menyusui, lanjut usia, dan penyandang disabilitas.

Dukungan psikososial juga diberikan kepada anak-anak yang terdampak bencana. Kegiatan tersebut dilakukan untuk membantu mengurangi trauma yang dialami anak akibat gempa.

"Kami juga melakukan dukungan psikososial, terutama untuk anak-anak, supaya dapat meringankan trauma mereka," katanya.

Dalam respons tanggap darurat di Kabupaten Manggarai, Plan Indonesia memfokuskan penyaluran bantuan di Kecamatan Cibal Barat.

Dini menjelaskan, pemilihan wilayah tersebut dilakukan berdasarkan hasil koordinasi dengan pemerintah daerah sekaligus mempertimbangkan keberadaan program Plan Indonesia yang sebelumnya telah berjalan di wilayah tersebut.

"Kami sebelumnya sudah bekerja di Kecamatan Cibal. Ada program pembangunan yang sedang berjalan, sehingga dalam koordinasi bencana ini kami juga mendukung respons masyarakat," jelasnya.

Plan Indonesia juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan bantuan tidak tumpang tindih dengan bantuan dari lembaga maupun organisasi lainnya.

"Kami berkoordinasi dengan pemerintah, termasuk dengan Bupati, untuk memastikan tidak terjadi tumpang tindih bantuan," tegas Dini.

Sementara dalam pelaksanaan respons darurat, Plan Indonesia telah menurunkan 16 orang personel. Namun, jumlah tersebut merupakan bagian dari jaringan kerja yang lebih luas karena Plan Indonesia juga bekerja bersama mitra, pemerintah, serta pihak lainnya.

"Yang inti ada 16 orang. Tetapi kami bekerja bersama teman-teman mitra dan pemerintah, sehingga cakupannya jauh lebih besar."

Dini memastikan, keterlibatan Plan Indonesia di Manggarai tidak berhenti ketika masa tanggap darurat berakhir.

Menurut dia, Plan Indonesia akan tetap mendampingi masyarakat dalam beberapa bulan ke depan dengan target respons sekitar tiga bulan.

"Kami bukan datang lalu pergi. Kami memang ada di sini bersama masyarakat. Kami punya target respons sekitar tiga bulan," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, dalam penyaluran bantuan, Plan Indonesia menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Salah satu tantangan terbesar adalah akses menuju wilayah terdampak.

Dini mengatakan, sejumlah wilayah sasaran memang memiliki akses yang sulit bahkan dalam kondisi normal. Situasi tersebut semakin berat setelah terjadi bencana.

"Daerah-daerah terdampak banyak yang jauh dan akses jalannya sulit. Dalam kondisi bencana, aksesnya menjadi semakin sulit," ungkapnya.

Kondisi serupa juga terjadi dalam distribusi air bersih. Sejumlah wilayah yang sebelumnya memang memiliki keterbatasan air bersih kini menghadapi persoalan yang lebih berat akibat bencana.

"Kami harus mengirim air bersih, tetapi aksesnya juga lebih sulit."

Di tengah besarnya dampak bencana, Dini mengajak seluruh masyarakat untuk memperkuat solidaritas dan saling membantu.

Ia meyakini masyarakat Indonesia memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi bencana. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diminta bahu-membahu memastikan bantuan diberikan kepada mereka yang paling membutuhkan.

"Kita harus bahu-membahu, menjaga solidaritas dan memikirkan siapa yang paling membutuhkan. Mereka yang paling rentan harus diutamakan," tegasnya.

Dini menegaskan, fokus Plan Indonesia dalam respons bencana adalah kelompok yang dinilai paling rentan terdampak, yakni anak-anak, ibu menyusui, ibu hamil, lansia, dan penyandang disabilitas.

"Fokus kami adalah anak-anak, ibu menyusui, ibu hamil, lansia dan teman-teman disabilitas karena mereka paling rentan dan paling terdampak," pungkasnya.

FOLLOW US