KATANTT.COM--Kapolda NTT, Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko menyampaikan perkembangan penanganan bencana gempa bumi Flores di Mapolda NTT, Minggu (16/8/2026) malam.
Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko didampingi Wakapolda, Brigjen Pol Faizal, Karo Ops, Komves Pol Joni Afrizal Syarifuddin dan Plh Kabid Humas, Kombes Pol Sajimin.
Berdasarkan data yang dihimpun hingga Minggu (16/8/2026) pukul 18.00 wita, tercatat 55 orang meninggal dunia, 67 orang mengalami luka berat dan 123 orang luka ringan.
Jumlah pengungsi mencapai 7.670 orang yang tersebar di 38 titik pengungsian pada tujuh kabupaten.
Polda NTT memberikan perhatian khusus terhadap pengungsi mandiri yang masih berada di lokasi dengan fasilitas terbatas. Kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih dan obat-obatan menjadi prioritas distribusi.
Mabes Polri juga menyiapkan tenda, selimut dan kasur untuk membantu pengungsi mandiri yang belum memiliki tempat perlindungan yang layak. Penentuan lokasi pengungsian sementara maupun lokasi yang dapat digunakan dalam jangka lebih panjang akan dikoordinasikan bersama BPBD dan pemerintah daerah.
Pada hari kedua penanganan bencana, Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko bersama Forkopimda NTT mengikuti rapat koordinasi yang digelar di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.
Rakor dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) dan dihadiri sejumlah menteri serta pimpinan lembaga terkait. Dalam rakor tersebut disepakati langkah cepat dan terpadu untuk mempercepat penanganan bencana.
Salah satu keputusan penting adalah pembentukan Posko Utama di Labuan Bajo yang akan dikendalikan oleh Kepala BNPB.
Usai rakor, rombongan dibagi ke sejumlah wilayah terdampak. Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko bersama Forkopimda NTT, Menteri PUPR dan Dirjen PUPR bergerak ke Kabupaten Ende untuk melihat langsung kondisi korban bencana, tempat ibadah yang rusak serta lokasi pengungsian.
“Tujuan saya turun langsung ke lokasi adalah untuk memastikan bagaimana pelaksanaan tugas Polri di lapangan, apa saja kendala anggota dalam penanganan bencana, dan saya juga ingin melihat langsung bagaimana kondisi masyarakat yang menjadi korban bencana untuk segera memberikan pertolongan,” kata Rudi Darmoko.
Wilayah Terisolir Ditembus
Ia mengungkapkan, jajaran Polri berhasil membuka akses ke tiga wilayah yang sebelumnya terisolir akibat dampak gempa dan longsor. Pertama, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.
Sekitar pukul 05.00 wita, Kapolres Manggarai Timur, AKBP Hariyanto bersama personelnya berhasil menembus lokasi yang sebelumnya terisolasi akibat longsor. Di lokasi tersebut, personel menemukan kondisi masyarakat yang membutuhkan bantuan segera.
Selain menyalurkan makanan, minuman dan obat-obatan, personel juga melakukan evakuasi terhadap seorang ibu hamil yang mengalami pendarahan akibat persalinan prematur. “Alhamdulillah bisa dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit. Alhamdulillah bisa diselamatkan,” katanya.
Kedua, wilayah Reo, Kabupaten Manggarai, yang sebelumnya juga mengalami keterisolasian. Kapolres Manggarai, AKBP Levi Defriansyah bersama personel berhasil membuka akses menuju lokasi, menyalurkan bantuan dan mendirikan posko serta tenda tanggap darurat bagi masyarakat terdampak.
Ketiga, Desa Dimpong, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai. Informasi mengenai kondisi warga yang terisolir diterima melalui media sosial.
Polda NTT kemudian merespons cepat dengan mengirimkan personel Brimob ke lokasi.
“Alhamdulillah bisa mengevakuasi masyarakat yang terisolir di sana dan belum mendapat bantuan. Alhamdulillah sudah bisa dievakuasi oleh Brimob,” jelasnya.
Keberhasilan menembus tiga wilayah tersebut menunjukkan pentingnya kecepatan personel dalam merespons laporan masyarakat.
BKO Brimob Mabes dan Tim Khusus
Untuk memperkuat operasi kemanusiaan di Flores, Kapolri memberikan dukungan personel dan peralatan kepada
Polda NTT. Sebanyak 100 personel Brimob BKO dengan kemampuan SAR dikirim untuk memperkuat pencarian dan pertolongan korban.
“Untuk tahap awal ini kami masih membutuhkan anggota untuk SAR untuk mencari dan menolong korban yang menjadi korban bencana alam tersebut,” ujarnya.
Selain personel Brimob, Mabes Polri juga mengirimkan sejumlah tim khusus, yakni 14 personel Tim DVI (Disaster Victim Identification) dari Pusdokkes Polri. Dukungan lainnya berupa 10 ekor anjing K9 berkemampuan SAR beserta 21 personel pawang dan tim pendukung.
Anjing pelacak tersebut dipersiapkan untuk membantu pencarian korban di bawah reruntuhan bangunan yang berisiko jika dilakukan pencarian secara manual.
Trauma Healing Anak-Anak Korban Gempa
Perhatian Polri juga diarahkan pada kondisi psikologis korban bencana, khususnya anak-anak. Ia mengatakan Mabes Polri mengirimkan tim kesehatan dan trauma healing yang nantinya akan berkolaborasi dengan tim trauma healing
Polda NTT.
Polda NTT sendiri memiliki konselor dan terapis yang mempunyai kemampuan menggunakan metode U-SEFT (Ultimate The Source Body, Mind, Soul Emotional Freedom Technique).
Menurut Rudi Darmoko, metode tersebut telah diterapkan di sejumlah Polres, termasuk kepada anak-anak korban gempa di Kabupaten Ende.
“Tim terapis Polres Ende juga sudah mengaplikasikannya kepada anak-anak yang jadi korban bencana, karena mereka benar-benar masih trauma,” ungkapnya.
Kerahkan Pesawat Casa Percepat Mobilisasi
Jarak geografis antara
Pulau Flores dan Pulau Timor menjadi salah satu tantangan dalam mobilisasi personel maupun bantuan. Untuk mempercepat pergerakan, Kapolri memberikan dukungan berupa satu unit pesawat Casa dari Korpolairud Baharkam Polri yang di-BKO-kan untuk mendukung transportasi selama penanganan bencana.
“Alhamdulillah sudah di-BKO-kan juga dari Korpolairud Baharkam Polri berupa satu unit pesawat CASA, sehingga untuk transportasi kami bisa sangat-sangat membantu,” katanya.
Selain dukungan personel dan transportasi, Mabes Polri juga mengirimkan bantuan berupa makanan cepat saji, minuman, tenda, velbed dan obat-obatan yang selanjutnya akan didistribusikan kepada masyarakat terdampak di
Pulau Flores.
Wilayah Terisolir Dijangkau
Selain wilayah daratan yang sulit ditembus, Polri juga memberikan perhatian kepada masyarakat di wilayah kepulauan. Melalui Ditpolairud
Polda NTT, bantuan makanan dan minuman telah disalurkan kepada masyarakat di Pulau Palue, Kabupaten Sikka yang sempat mengalami keterisolasian.
Rudi Darmoko menegaskan, seluruh laporan mengenai masyarakat yang membutuhkan bantuan akan ditindaklanjuti, termasuk informasi yang diterima melalui media sosial. “Jadi mendapat laporan medsos kemudian ditanggapi, kita kemudian langsung mengirim anggota,” ujarnya.
Patroli Rumah Warga yang Ditinggalkan
Di tengah banyaknya warga yang mengungsi,
Polda NTT juga mengantisipasi potensi gangguan keamanan di permukiman yang ditinggalkan. Seluruh jajaran Polres diperintahkan meningkatkan patroli di kawasan permukiman kosong untuk memastikan rumah dan aset masyarakat tetap aman selama masa tanggap darurat.
Patroli tersebut sekaligus bertujuan mencegah terjadinya tindak kriminal yang dapat memanfaatkan situasi bencana.
Ia mengungkapkan bahwa gangguan jaringan komunikasi dan listrik menjadi salah satu kendala dalam penanganan bencana, khususnya di sejumlah wilayah seperti
Nagekeo.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Mabes Polri mengirimkan 10 unit Starlink yang didatangkan melalui penerbangan ke Labuan Bajo.
Perangkat tersebut akan digunakan untuk mendukung komunikasi dan pelaporan petugas di titik-titik krisis sehingga koordinasi bantuan dapat dilakukan lebih cepat.
Ia menambahkan seluruh jajaran akan terus bergerak memastikan masyarakat terdampak mendapatkan pertolongan. “Kita akan terus bergerak untuk menolong korban bencana yang terjadi di Kabupaten Manggarai maupun Manggarai Timur dan wilayah lainnya,” tegasnya.
Penanganan gempa Flores kini dilakukan secara terpadu dengan mengerahkan kekuatan
Polda NTT, dukungan Mabes Polri, TNI, pemerintah daerah, BNPB, Basarnas serta seluruh unsur terkait.
Dari membuka akses wilayah terisolir, mengevakuasi korban, mendistribusikan logistik, menjaga rumah warga, hingga memulihkan kondisi psikologis anak-anak, Polri memastikan kehadiran negara tetap dirasakan masyarakat di tengah situasi darurat bencana.