• Nusa Tenggara Timur

Panen Wortel di SMPN 2 Langke Rembong, Bupati Hery Tegaskan Keseimbangan Akademik dan Karakter

Wilibrodus Jatam | Kamis, 13/08/2026 17:08 WIB
Panen Wortel di SMPN 2 Langke Rembong, Bupati Hery Tegaskan Keseimbangan Akademik dan Karakter Bupati Hery Nabit bersama jajaran memanen wortel dalam program Green School SMPN 2 Langke Rembong, Kamis (13/8/2026).

KATANTT.COM--- Bupati Manggarai Herybertus Gerardus Laju Nabit mendorong program Green School tidak hanya menjadi kegiatan menanam dan memanen sayuran di lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter dan pembentukan pola pikir anak tentang masa depan.

Hal itu disampaikan Bupati Hery saat menghadiri kegiatan panen wortel dalam program Green School di SMP Negeri 2 Langke Rembong, Kamis (13/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Hery meminta pihak sekolah mendokumentasikan hasil panen sebelumnya, termasuk berbagai jenis sayuran yang telah dipanen, agar dapat dipublikasikan kepada masyarakat.

Menurutnya, dokumentasi tersebut penting untuk menunjukkan bahwa kegiatan Green School telah berjalan secara berkelanjutan dan bukan hanya dilakukan saat momentum panen wortel.

"Foto-foto panenan sebelumnya juga perlu ditampilkan supaya publik mengetahui bahwa yang sudah dikerjakan bukan hanya yang sekarang ini, tetapi sudah ada yang dipanen sebelumnya," kata Bupati Hery.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain yang belum melaksanakan program serupa maupun sekolah yang pelaksanaannya belum optimal.

Bupati juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pihak sekolah, para guru, kepala sekolah, serta koordinator yang selama ini mengurus kegiatan Green School.

"Mudah-mudahan menjadi contoh, terutama bagi anak-anak kita. Hari ini contoh itu mahal nilainya," ujarnya.

Dikatakan Bupati Hery, Green School juga menjadi momentum untuk mengubah cara pandang anak-anak mengenai keberhasilan dalam kehidupan. Anak-anak tidak boleh hanya menganggap bahwa kehidupan yang baik hanya dapat dicapai dengan menjadi pegawai.

Ia menegaskan, profesi sebagai petani juga dapat memberikan kehidupan yang baik apabila dikelola secara serius dan profesional.

"Kita sedang mengajarkan satu nilai kehidupan kepada anak-anak kita. Hidup baik bukan hanya dengan menjadi pegawai, tetapi menjadi petani juga bisa hidup lebih baik," tegasnya.

Selain penguatan kegiatan nonakademik melalui Green School, Bupati Hery meminta sekolah memberikan perhatian serius terhadap capaian akademik, khususnya Tes Kompetensi Akademik (TKA).

Ia mengatakan, perubahan kebijakan pendidikan pemerintah pusat menyebabkan parameter dan indikator pendidikan terus berubah. Jika sebelumnya sekolah banyak berbicara mengenai rapor sekolah, kini perhatian mulai bergeser kepada TKA.

Karena itu, ia meminta seluruh sekolah di Manggarai mulai berkonsentrasi meningkatkan kemampuan akademik peserta didik.

Matematika Jadi Tantangan Utama

Bupati Hery mengungkapkan, berdasarkan hasil TKA tahun sebelumnya, matematika masih menjadi salah satu persoalan utama yang harus mendapat perhatian serius mulai dari jenjang SD hingga SMA.

Ia menyebutkan, untuk jenjang SD, lima besar capaian matematika berasal dari sekolah di luar wilayah kota, yakni empat sekolah dari Cibal dan satu dari Reok. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi gambaran bahwa sekolah-sekolah di luar kota juga mampu menunjukkan prestasi akademik yang baik.

Untuk jenjang SMP, lima besar capaian matematika antara lain berasal dari SMP Negeri 3 Rahong Utara, SMP Satap Pong Meleng, SMP Negeri 3 Reok Barat, SMP Negeri 3 Ruteng dan SMP Negeri 2 Cibal.

Sementara untuk Bahasa Indonesia, sejumlah sekolah seperti Pong Meleng dan Rahong Utara juga menunjukkan capaian yang baik, disusul Imakulata, SMPK Fransiskus Xaverius dan SMP Negeri 2 Cibal.

Bupati Hery mengatakan, seluruh sekolah pada akhirnya akan diukur menggunakan indikator yang sama.

Ia menyebut rata-rata nilai matematika TKA SMP di Kabupaten Manggarai sekitar 39,7, sedangkan Bahasa Indonesia mencapai sekitar 58,5.

"Masalah kita memang di matematika. Makanya kita harus bekerja lebih keras," katanya.

Untuk SMP Negeri 2 Langke Rembong, Bupati Hery menyebut nilai rata-rata matematika sekitar 39,5, atau kurang lebih sama dengan rata-rata kabupaten. Sementara Bahasa Indonesia mencapai sekitar 63, lebih tinggi dibandingkan rata-rata kabupaten yang berada di angka 58,5.

Ia meminta sekolah tidak menolak atau menutupi fakta tersebut. Sebaliknya, hasil TKA harus dijadikan bahan evaluasi untuk mengetahui persoalan dan menentukan langkah perbaikan.

"Tidak perlu rasa rendah diri. Yang penting kita menerima fakta bahwa kita masih rendah. Kalau masih rendah, berarti kita urus lagi untuk tahun depan," ujarnya.

Menurut Bupati Hery, rendahnya hasil matematika dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pola soal, kemampuan dasar peserta didik, hingga kebiasaan menggunakan teknologi karena TKA dilaksanakan secara daring.

Jika persoalannya adalah teknologi, kata dia, peserta didik harus dibiasakan menggunakan teknologi. Jika persoalannya pola soal, maka harus dilakukan latihan secara terus-menerus.

Dampak Pembelajaran Saat Pandemi

Bupati Hery juga menyinggung dampak pembelajaran pada masa pandemi Covid-19 yang menurutnya masih dirasakan hingga sekarang.

Pada masa pembelajaran jarak jauh, proses pembelajaran tidak berjalan optimal. Namun, peserta didik tetap naik kelas sehingga sejumlah kemampuan dasar yang seharusnya telah dikuasai di tingkat SD masih terbawa hingga jenjang SMP.

Salah satunya adalah kemampuan perkalian.

Ia mengatakan, masih ada peserta didik SMP yang belum menguasai perkalian dasar. Menurutnya, jumlah anak yang mengalami persoalan tersebut mungkin tidak banyak, tetapi justru karena jumlahnya sedikit maka harus ditangani secara khusus.

"Kalau tidak banyak, kita urus yang tidak banyak itu. Jangan sampai tamat SMP masih tidak bisa perkalian," tegasnya.

Ia meminta guru tidak menjadikan jumlah yang sedikit sebagai alasan untuk membiarkan persoalan tersebut.

Menurutnya, kemampuan dasar harus diselesaikan sedikit demi sedikit agar tidak terus menjadi persoalan ketika peserta didik melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Bahasa Indonesia Harus Diperkuat

Selain matematika, Bupati Hery memberikan perhatian khusus terhadap kemampuan Bahasa Indonesia.

Ia menjelaskan, model soal matematika saat ini banyak berbentuk soal cerita. Karena itu, peserta didik tidak hanya membutuhkan kemampuan berhitung, tetapi terlebih dahulu harus mampu memahami soal yang diberikan.

"Bagaimana dia mengerti soal kalau Bahasa Indonesia dia tidak paham?" ungkapnya.

Menurut Bupati Hery, kemampuan memahami Bahasa Indonesia menjadi pintu masuk untuk menyelesaikan soal-soal matematika.

Karena itu, ia meminta sekolah menciptakan lingkungan yang membiasakan peserta didik menggunakan Bahasa Indonesia.

Ia bahkan meminta setiap sekolah memasang tulisan seperti “Kawasan Wajib Berbahasa Indonesia” di berbagai tempat, termasuk toilet, pintu masuk dan ruang kelas.

Bupati Hery mengingatkan agar guru tidak langsung beralih menggunakan bahasa daerah ketika peserta didik belum memahami penjelasan dalam Bahasa Indonesia.

Ia menilai, penggunaan bahasa daerah tetap penting untuk menjaga akar budaya, tetapi lingkungan pendidikan harus memberikan ruang yang kuat bagi penguasaan Bahasa Indonesia dan bahasa asing.

Menurutnya, kemampuan bahasa asing akan menjadi semakin penting karena anak-anak Manggarai ke depan akan bersaing dengan peserta didik dari berbagai daerah.

"Anak-anak kita akan bersaing dengan orang-orang dari luar yang punya kemampuan lebih baik, termasuk bahasa asingnya," ujarnya.

Ia mencontohkan proses seleksi pegawai yang semakin terbuka dan menggunakan sistem tes. Karena itu, peserta didik tidak bisa lagi mengandalkan faktor kedekatan atau cara-cara lama untuk mendapatkan kesempatan.

"Semua tes. Tidak bisa. Wajib Tes," tegasnya.

Dana BOS Harus Menjawab Persoalan

Bupati Hery meminta sekolah menggunakan sumber daya yang tersedia, termasuk Dana BOS, untuk menyelesaikan persoalan yang benar-benar dihadapi sekolah.

Menurutnya, apabila masalah utama berada pada kemampuan matematika tetapi sumber daya sekolah justru diarahkan untuk kebutuhan lain, persoalan tersebut tidak akan selesai.

"Jangan sampai kita punya masalah di sini, kita punya Dana BOS, tetapi dibawa ke sana. Masalah ini tidak akan terselesaikan," katanya lagi.

Ia mengakui persoalan pendidikan tidak mungkin selesai hanya dalam satu tahun. Namun, menurutnya, persoalan harus diselesaikan secara bertahap dan sistematis.

Bupati Hery juga mencontohkan sejumlah sekolah di Cibal yang memberikan tambahan waktu belajar kepada peserta didik setelah jam sekolah, khususnya untuk matematika.

Ia meminta praktik-praktik baik tersebut dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk mencari strategi yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

TKA Jadi Ukuran Bersama

Bupati Hery menegaskan, hasil TKA ke depan akan menjadi salah satu ukuran penting bagi dunia pendidikan di Manggarai.

Untuk TKA tahun ini, ia meminta seluruh pihak tidak terlalu terbebani karena merupakan pelaksanaan pertama dengan berbagai tantangan, termasuk model soal dan pelaksanaan secara daring.

Namun, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk tahun-tahun berikutnya.

"TKA tahun ini kita tutup mata karena tahun pertama. Tapi tahun depan kita akan ambil langkah," tegasnya.

Ia mengatakan, jika suatu sekolah secara konsisten menunjukkan hasil rendah selama beberapa tahun, pemerintah daerah akan melihatnya sebagai indikasi adanya persoalan yang perlu dibantu.

Bantuan tersebut dapat berupa distribusi guru dari sekolah dengan capaian baik ke sekolah yang membutuhkan penguatan.

Pemerintah daerah juga berencana menyiapkan buku latihan TKA untuk peserta didik kelas 9. Bahkan, latihan akan mulai diberikan kepada peserta didik kelas 8 agar mereka lebih terbiasa menghadapi pola soal TKA.

Bupati Hery menegaskan, pengadaan buku latihan tersebut akan menggunakan dana APBD, bukan Dana BOS.

"Anak-anak akan mulai dilatih dari kelas 8. Kalau masalahnya kebiasaan, berarti harus dibiasakan," katanya.

Ia juga meminta guru matematika dan Bahasa Indonesia meningkatkan kemampuan serta menyesuaikan diri dengan perubahan pola pembelajaran.

Menurutnya, Manggarai memiliki banyak guru yang baik. Persoalannya adalah bagaimana memperkenalkan dan menerapkan pola pembelajaran baru secara konsisten.

Akademik dan Nonakademik Harus Berjalan Bersama

Bupati Hery menegaskan, program Green School dan kegiatan nonakademik lainnya harus tetap berjalan. Kreativitas, kepercayaan diri dan karakter anak penting untuk dibangun.

Namun, seluruh capaian tersebut harus berjalan seimbang dengan kemampuan akademik.

"Akademiknya pintarnya juga harus dapat. Kreatifnya dapat, percaya dirinya bagus, tapi akademiknya juga harus bagus," ujarnya.

Ia menyebut TKA sebagai pertaruhan bersama dalam bidang pendidikan. Guru, kepala sekolah, kepala dinas hingga bupati akan ikut dinilai melalui perkembangan pendidikan di daerah.

Karena itu, ia berharap pesan yang disampaikan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi diterjemahkan menjadi program dan kerja nyata di sekolah.

Disiplin dan Etika Kerja

Selain akademik dan nonakademik, Bupati Hery juga menekankan pentingnya disiplin di lingkungan sekolah dan pemerintahan.

Ia meminta setiap bentuk ketidakdisiplinan ditertibkan agar tidak menjadi kebiasaan yang menular kepada orang lain.

"Kalau tidak disiplin, kasih sanksi. Beres urusan," tegas Bupati Hery.

Ia juga mengingatkan para guru dan pegawai agar menyelesaikan persoalan pribadi sebelum menjalankan tugas di sekolah.

Menurutnya, persoalan pribadi yang dibawa ke tempat kerja dapat mengganggu kualitas pelayanan dan pelaksanaan tugas.

"Jangan datang ke sekolah membawa semua urusan pribadi yang belum selesai. Kalaupun belum selesai, jangan sampai mengganggu pelaksanaan tugas," pesannya.

Bupati Hery juga berpesan seluruh pihak untuk menghindari gosip, terutama mengenai rekan kerja maupun pimpinan.

Menurutnya, banyak persoalan dalam organisasi bermula dari hal sederhana yang kemudian berkembang menjadi masalah besar.

"Kalau ada masalah dalam organisasi, selesaikan ke dalam," pintanya.

Ia meminta komunikasi internal diperkuat antara kepala sekolah, manajemen dan guru sehingga persoalan yang muncul dapat diselesaikan secara langsung dan tidak berkembang menjadi konflik.

Green School SMPN 2 Langke Rembong Bentuk Karakter Siswa

Sementara itu, Kepala SMPN 2 Langke Rembong, Paskalis Aron, mengatakan Green School merupakan program Pemerintah Kabupaten Manggarai yang dilaksanakan sekolah melalui kegiatan kokurikuler.

Green School ini program Bupati dan Wakil Bupati. Kami di sekolah mengeksekusi program itu melalui kegiatan kokurikuler,” ujar Paskalis.

Program tersebut mulai dijalankan sejak 24 April 2026 setelah terlebih dahulu disosialisasikan kepada guru dan pegawai sekolah.

Tanaman yang dipilih disesuaikan dengan kondisi musim, lahan serta hasil konsultasi dengan petani. Sekolah kemudian memilih wortel, sawi dan daun bawang.

Sawi dan sebagian daun bawang telah dipanen pada Juni 2026. Sementara wortel dipanen pada Kamis (13/8/2026), meski sebenarnya masih membutuhkan sekitar dua minggu untuk mencapai masa panen ideal.

Menariknya, budidaya Green School dilakukan tanpa pupuk kimia. Sekolah menggunakan pupuk organik dan MOL atau mikroorganisme lokal cair yang dibuat sendiri menggunakan bahan dasar beras dan gula.

“Kami tidak menggunakan pupuk kimia. Kami menggunakan pupuk organik dan MOL buatan sendiri,” jelas Paskalis.

Bahkan, siswa yang melanggar aturan sekolah diarahkan membawa pupuk organik atau pupuk kandang sebagai bagian dari penerapan disiplin positif.

Menurut Paskalis, keberhasilan Green School tidak semata-mata diukur dari banyaknya hasil panen.

Green School bukan sekadar mengejar hasil panen, tetapi mengajarkan anak bahwa setiap hasil membutuhkan proses dan kerja keras,” tegasnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menghubungkan pembelajaran di kelas dengan pengalaman nyata. Materi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris tentang teks prosedur, misalnya, dapat dipraktikkan melalui tahapan menanam hingga memanen.

Begitu pula dengan IPA dan PPKN. Peserta didik memperoleh pengalaman langsung mengenai pertanian, kerja sama, gotong royong, tanggung jawab dan disiplin.

Kegiatan kokurikuler dilaksanakan setiap Jumat dan Sabtu dengan mengambil sebagian waktu pembelajaran. Selain pertanian, kegiatan mencakup olahraga, seni, literasi, numerasi serta tujuh kebiasaan Anak Indonesia Sehat.

Green School Akan Dikembangkan

Paskalis memastikan program tersebut akan terus dilanjutkan dan dikembangkan.

“Program ini akan kami lanjutkan. Jenis tanaman akan disesuaikan dengan musim dan kondisi lahan,” katanya.

Selain wortel, sawi dan daun bawang, sekolah membuka kemungkinan mengembangkan tanaman lain, termasuk kentang.

Ke depan, hasil Green School juga diharapkan tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal sekolah, tetapi dapat dipasarkan kepada guru dan pegawai maupun diarahkan untuk mendukung kebutuhan dapur MPG.

Hasil penjualan akan dikelola secara resmi dan dimasukkan sebagai pendapatan lain dalam ARKAS BOS sesuai ketentuan.

“Kami berharap Green School ini tidak hanya membentuk karakter siswa, tetapi juga berkembang menjadi kegiatan produktif bagi sekolah,” ujarnya.

Paskalis mengapresiasi dukungan guru dan pegawai yang disebutnya menjadi salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan program tersebut.

“Dukungan guru dan pegawai 100 persen. Itu yang membuat panen perdana ini bisa terlaksana,” pungkasnya.

FOLLOW US