Ludovitus Jalut (Om Vitus) tampil sederhana, ramah, dan penuh ketulusan, mencerminkan komitmennya untuk melayani serta membangun kampung halaman, Desa Sewar.
KATANTT.COM---Cinta terhadap kampung halaman, pengalaman hidup bersama masyarakat, serta perjalanan panjang melewati berbagai keterbatasan menjadi bekal bagi Ludovitus Jalut dalam membawa gagasan pembangunan untuk Desa Sewar, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat.
Berbekal pengalaman tersebut, pria yang akrab disapa Om Vitus ini maju sebagai calon Kepala Desa Sewar untuk periode 2026–2034.
Pria kelahiran 29 November 1995 itu tumbuh dalam lingkungan masyarakat Sewar. Baginya, kampung halaman bukan sekadar tempat kelahiran, melainkan rumah bersama yang harus dibangun dengan semangat persatuan, kerja keras, dan pelayanan tanpa pamrih.
Dorongan itulah yang membuat suami Elisabet Trisnawati tersebut maju dengan membawa gagasan besar “Desa Sewar Bangkit Menuju Sewar yang Damai, Bersatu, Maju, Berdaya Saing, Bermartabat, Sejahtera Bersama, berlandaskan iman dan budaya luhur.”
“Saya ingin melayani sepenuh hati dan menyatukan semua elemen masyarakat untuk membangun Sewar yang maju dan sejahtera bersama-sama,” tegasnya.
Ditempa Keterbatasan
Perjalanan hidupnya tidak dibangun dari kemudahan. Sejak kecil, ayah dari Euforosius G. Adelard Jalut dan Eleanor G. Jalut itu mengaku telah ditempa untuk menjadi pribadi yang kuat dan tidak mudah menyerah.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SDK Pengka sejak 2002 hingga 2008. Setiap hari, ia harus menempuh jarak sekitar lima kilometer dari rumah menuju sekolah.
Jarak tersebut tidak menjadi alasan untuk berhenti mengejar pendidikan. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Lembor, yang kini menjadi SMP Negeri 1 Welak, pada 2008 hingga 2011.
Masa SMP kembali mengajarkannya arti kemandirian. Ia harus menjalani proses pendidikan dengan tinggal, mengandalkan hidupnya, dan menggapai cita-cita di rumah dinas guru yang berada di lingkungan sekolah.
Setelah tamat SMP, langkahnya berlanjut ke SMA Negeri 1 Komodo Labuan Bajo. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, ia tetap menyelesaikan pendidikan hingga lulus pada 2014.
"Keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Justru dari keterbatasan itu saya belajar menjadi petarung, mandiri, dan bersyukur," ungkapnya.
Merantau, Bekerja, Sekaligus Kuliah
Tahun 2014 menjadi babak baru dalam perjalanan hidupnya. Setelah tamat SMA, ia memilih melanjutkan pendidikan ke Makassar.
Awalnya, ia berencana beristirahat selama satu tahun sebelum melanjutkan kuliah. Namun, perjalanan justru membawanya langsung bekerja dan kemudian mendaftar sebagai mahasiswa di STKIP YPUP Makassar.
Selama kurang lebih empat tahun, ia membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Dalam kondisi ekonomi keluarga yang lemah, dia tidak hanya mengandalkan kiriman orang tua.
Di luar jam kuliah, ia mengisi waktu dengan berbagai pekerjaan, mulai dari kuli bangunan, operator PlayStation hingga mengantar galon.
Berbagai pekerjaan tersebut menjadi bagian dari perjuangannya menyelesaikan pendidikan S1 pada 2018.
"Saya belajar bahwa keberhasilan tidak datang dari keadaan yang sempurna, tetapi dari kemauan untuk terus berjuang," katanya.
Organisasi Membentuk Cara Memimpin
Selain pendidikan formal, pengalaman organisasi menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Sejak SD hingga SMA, ia pernah aktif sebagai pengurus OSIS dan anggota Pramuka. Ketika memasuki perguruan tinggi, aktivitas organisasinya semakin berkembang.
Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Komunitas Einstein YPUP Makassar, Wakil Presiden Senat Mahasiswa STKIP YPUP Makassar, serta Presidium HTP PMKRI Cabang Makassar.
Di tingkat lokal, ia aktif dalam KMKW Welak dan Kesatuan Anak Muda Sewar (KAMUS).
Pengalaman tersebut juga mengantarkannya pada berbagai tanggung jawab lain, antara lain sebagai ketua organisasi, Presiden Senat Mahasiswa, Presidium HTP PMKRI, Ketua Panitia Pembangunan dan Peresmian Kapela, Koordinator Pramuka, serta pengurus dan pembina Pramuka.
Bagi dirinya, organisasi bukan sekadar ruang untuk mendapatkan jabatan. Organisasi menjadi sekolah kehidupan yang mengajarkannya tentang kerja sama, perencanaan, tanggung jawab, serta kepentingan bersama.
"Organisasi mengajarkan saya untuk bekerja bersama, merencanakan dengan matang, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi," ujarnya.
Saat ini, pengalaman pengabdian itu terus dijalankannya melalui profesinya sebagai tenaga pendidik di SMP Katolik Sadar Ranggu.
Membawa Gagasan “Sewar Bangkit”
Berbekal pengalaman hidup, pendidikan, organisasi, dan kedekatan dengan masyarakat, ia membawa visi pembangunan yang diberi semangat "Sewar Bangkit."
Menurutnya, pembangunan Desa Sewar tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. Kemajuan harus dirasakan masyarakat melalui tersedianya air bersih, infrastruktur yang layak, ekonomi yang tumbuh, pendidikan dan kesehatan yang semakin baik, serta kehidupan sosial yang tetap rukun.
Ia menargetkan dalam satu hingga delapan tahun ke depan Desa Sewar mampu memenuhi kebutuhan air minum masyarakat, memperbaiki infrastruktur, meningkatkan ekonomi warga, menjamin pendidikan dan kesehatan, memberi ruang yang lebih besar kepada anak muda, serta menjaga warisan budaya leluhur.
"Sewar bangkit berarti tidak ada warga yang ditinggalkan dalam proses pembangunan," tegasnya.
Air Bersih dan Jalan Jadi Prioritas
Dari berbagai kebutuhan masyarakat, akses air bersih menjadi salah satu perhatian utama.
Selain itu, ia menempatkan perbaikan jalan penghubung, pemberdayaan anak muda, pengembangan warisan budaya, serta kebangkitan ekonomi masyarakat sebagai program prioritas.
Untuk meningkatkan kesejahteraan, ia mendorong pembukaan peluang usaha baru dengan memanfaatkan potensi alam desa. Warga juga akan didorong mendapatkan pelatihan agar mampu mandiri secara ekonomi, dengan perhatian khusus kepada generasi muda.
Sektor pertanian juga menjadi perhatian. Dukungan kepada petani diarahkan melalui bantuan alat serta pembukaan akses pasar yang lebih luas.
Sementara di sektor pendidikan dan kesehatan, ia menekankan pentingnya perbaikan fasilitas sekolah dan posyandu, termasuk menjangkau warga yang berada di wilayah sulit diakses.
Dukungan terhadap guru dan tenaga kesehatan juga dinilai penting karena keduanya merupakan bagian utama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia di desa.
Pemerintahan Terbuka dan Tidak Membeda-bedakan
Gagasan pembangunan yang dibawanya juga menyentuh tata kelola pemerintahan desa.
Ia berkomitmen mendorong transparansi pengelolaan Dana Desa. Setiap penggunaan anggaran harus dicatat dan disampaikan secara terbuka sehingga masyarakat mengetahui ke mana uang desa digunakan.
"Setiap rupiah uang desa harus jelas penggunaannya. Warga berhak tahu," katanya.
Dalam pelayanan publik, ia menginginkan pemerintahan desa hadir dengan pelayanan yang cepat, ramah, tidak berbelit-belit, dan tidak membeda-bedakan warga.
Lebih dari itu, masyarakat harus dilibatkan dalam setiap keputusan penting melalui musyawarah desa.
Baginya, suara rakyat bukan sekadar didengar ketika pemilihan kepala desa berlangsung, tetapi harus menjadi dasar dalam menentukan arah pembangunan.
Berbeda Pilihan, Tetap Bersaudara
Ia menyadari bahwa tantangan pembangunan Desa Sewar tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur dan ekonomi.
Belum meratanya pembangunan, lemahnya ekonomi masyarakat, serta potensi perpecahan akibat perbedaan pilihan politik menjadi persoalan yang harus dihadapi bersama.
Karena itu, ia menawarkan pembangunan yang menyentuh seluruh dusun, mendorong usaha bersama, dan mengembalikan persaudaraan sebagai fondasi utama kehidupan masyarakat.
"Pilihan boleh berbeda, tetapi kita tetap satu keluarga. Jangan biarkan politik memutus persaudaraan," ujarnya.
Menurutnya, kontestasi politik harus selesai ketika proses pemilihan berakhir. Setelah itu, seluruh masyarakat harus kembali bersatu membangun desa.
"Desa Sewar Adalah Rumah Kita"
Kedekatan dengan masyarakat menjadi bagian penting dari cara pengabdian yang ingin dibangunnya.
Ia berkomitmen untuk rutin mengunjungi setiap rumah, membuka pintu rumah bagi masyarakat, serta menyediakan waktu untuk mendengar langsung aspirasi warga.
Nilai yang ingin terus dipegangnya adalah kejujuran, kerendahan hati, tanggung jawab, dan persaudaraan.
Bagi pria yang sejak kecil ditempa oleh keterbatasan itu, pengalaman hidup bersama masyarakat menjadi alasan kuat mengapa dirinya ingin mengabdikan diri untuk Sewar.
"Saya tumbuh bersama masyarakat Sewar. Saya tahu apa yang dibutuhkan, dan saya siap bekerja tanpa pamrih untuk semua," ucapnya.
Langkah pertama yang ingin dilakukan adalah mengumpulkan seluruh elemen masyarakat untuk menyatukan tekad sekaligus menyusun rencana kerja bersama.
Sebab, menurutnya, pembangunan tidak dapat dikerjakan seorang diri.
"Persatuan adalah kunci segala kemajuan. Mari kita bangun Sewar bersama, bukan untuk kepentingan satu orang, tetapi untuk semua," pungkasnya.
Dengan pengalaman hidup yang ditempa oleh jarak, keterbatasan ekonomi, pendidikan, pekerjaan, organisasi, dan pengabdian kepada masyarakat, gagasan “Sewar Bangkit” yang dibawanya bukan hanya berbicara tentang pembangunan fisik.
Gagasan itu berangkat dari keyakinan bahwa desa yang maju harus dibangun dengan persatuan, pelayanan, transparansi, pemberdayaan, serta keberanian untuk memastikan tidak seorang pun warga Sewar merasa ditinggalkan.