Pemusnahan tersebut merupakan tindak lanjut atas penetapan Pengadilan Negeri Kupang terhadap barang bukti perkara tindak pidana pemalsuan uang yang telah berkekuatan hukum tetap.
Sebanyak 1.723 lembar uang rupiah palsu yang berada dalam penguasaan Direktorat Reserse Kriminal Khusus
Polda NTT dimusnahkan. Rinciannya, pecahan Rp 100.000 dengan emisi tahun 1999 hingga 2022 sebanyak 1.461 lembar.
Pecahan Rp 50.000 emisi tahun 1995 hingga 2022 sebanyak 237 lembar, pecahan Rp 20.000 emisi tahun 1992 hingga 2022 sebanyak 18 lembar.
Pecahan Rp 10.000 emisi tahun 2016 dan 2022 sebanyak empat lembar, pecahan Rp 5.000 emisi tahun 2013 dan 2022 sebanyak tiga lembar.
Kapolda NTT, Irjen Pol Dr. Rudi Darmoko melalui Kabid Humas
Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan sinergi antara
Polda NTT dengan Bank Indonesia serta seluruh instansi terkait dalam menjaga stabilitas sistem pembayaran dan melindungi masyarakat dari kejahatan pemalsuan uang.
Ia menyebutkan momentum Hari Bhayangkara ke-80 menjadi penguat sinergitas
Polda NTT, Bank Indonesia, Pengadilan Negeri Kupang, Kejaksaan Tinggi NTT, dan Bea Cukai dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap rupiah.
"
Polda NTT tidak memberikan ruang bagi pelaku peredaran uang palsu. Upaya penegakan hukum akan terus dilakukan agar masyarakat merasa aman dan tetap percaya terhadap mata uang rupiah sebagai simbol kedaulatan negara," ujar Henry Novika Chandra.
Pengawasan terhadap peredaran uang palsu menjadi perhatian serius karena NTT merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste sehingga memerlukan pengawasan dan kolaborasi lintas sektor yang semakin kuat.
"Melalui sinergitas yang terus dibangun, kami ingin memberikan keyakinan kepada masyarakat, termasuk di wilayah perbatasan, bahwa negara hadir melindungi sistem keuangan nasional dari ancaman peredaran uang palsu. Kepercayaan masyarakat terhadap rupiah harus terus dijaga," tambahnya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia serta seluruh aparat penegak hukum yang telah berkolaborasi dalam proses penanganan perkara hingga diterbitkannya penetapan pemusnahan barang bukti oleh Pengadilan Negeri Kupang.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia, Pengadilan Negeri Kupang, Kejaksaan Tinggi NTT, Bea Cukai, dan seluruh pihak yang telah bersinergi dalam penanganan perkara ini," ujar Kabid Humas.
Pemusnahan ini bukan sekadar menghilangkan barang bukti, tetapi merupakan simbol komitmen bersama dalam memberantas tindak pidana pemalsuan uang, memperkuat penegakan hukum, serta menjaga integritas dan kehormatan rupiah sebagai simbol kedaulatan NKRI.
Henry Novika Chandra menyampaikan harapan Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko agar sinergi antarinstansi terus diperkuat dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat serta melindungi kepentingan bangsa.