Aksi nyata Persatuan Jurnalis Manggarai (Prisma) bersama TNI dan elemen mahasiswa saat berjibaku membersihkan tumpukan sampah di drainase Pasar Inpres Ruteng, Sabtu (7/1/2026). Kegiatan kolaboratif ini digelar untuk menyongsong Hari Pers Nasional sekaligus mengedukasi masyarakat akan pentingnya sanitasi pasar.
KATANTT.COM---Kondisi Pasar Inpres Ruteng yang kotor dan semrawut memicu keprihatinan berbagai pihak. Menanggapi hal tersebut, Persatuan Jurnalis Manggarai (Prisma) menginisiasi aksi nyata dengan menggandeng lintas lembaga untuk melakukan pembersihan massal di pusat perdagangan Kota Ruteng tersebut, Sabtu (7/2/2026).
Aksi kolaboratif ini melibatkan personel Kodim 1612 Manggarai, Rutan Kelas IIB Ruteng, serta para pejuang muda dari Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Tak ketinggalan, kekuatan mahasiswa dari PMKRI Cabang Ruteng, GMNI Manggarai, BEM Unika Santu Paulus, dan STIE Karya Ruteng, hingga keterlibatan aktif OSIS SMA/SMK se-Kota Ruteng turut memadati area pasar.
Kondisi Pasar yang Memprihatinkan
Pantauan di lokasi menunjukkan pemandangan yang kontras dengan fungsi pasar sebagai pusat pangan. Sampah plastik tampak menyumbat drainase, menyebabkan air limbah rumah tangga dan sisa hujan menggenang hingga menimbulkan aroma busuk yang menyengat. Di area lapak, limbah sayuran dibiarkan membusuk tanpa pengelolaan yang jelas.
Ironisnya, di tengah upaya para relawan berjibaku dengan kotoran, sejumlah pedagang justru bersikap apatis. Mereka cenderung menjadi penonton saat area berjualan mereka dibersihkan oleh pihak luar.
Pers Sebagai Solusi Nyata
Ketua Panitia HPN Prisma, Bros Jatam menjelaskan bahwa aksi sosial ini digelar dalam rangka menyongsong Hari Pers Nasional (HPN) yang diperingati setiap 9 Februari. Menurutnya, pers tidak boleh hanya berhenti pada narasi pemberitaan, tetapi harus hadir memberikan solusi konkret bagi persoalan publik.
"Kami melihat situasi Pasar Inpres Ruteng sudah sangat memprihatinkan. Jika dibiarkan terus-menerus, tempat ini bukan lagi menjadi pusat jual-beli, melainkan gudang sampah yang dipaksakan," tegas Bros Jatam.
Ia menekankan bahwa menjaga kebersihan pasar adalah tanggung jawab kolektif. Ia juga menyayangkan sikap apatis sebagian pedagang dan mendorong tumbuhnya rasa memiliki terhadap tempat mereka mencari nafkah.
Dorongan untuk Pemerintah Daerah
Selain aksi fisik, Prisma mendesak Pemerintah Kabupaten Manggarai, khususnya Dinas Lingkungan Hidup, untuk lebih serius membenahi fasilitas pasar.
Beberapa poin desakan tersebut antara lain:
Penyediaan Sarana: Menyiapkan alat kebersihan pendukung yang memadai di area pasar.
Pemantauan Berkala: Melakukan pengawasan ketat guna mencegah pencemaran tanah, air, dan udara.
Edukasi Publik: Memberikan penyuluhan rutin bagi pelaku pasar agar mengadopsi pola hidup bersih dan sehat.
Dampak Terhadap Kesehatan Masyarakat
Senada dengan hal tersebut, Helena Donisia Yosoa, seorang guru SMA Karya Ruteng yang ikut turun ke lapangan, menyebut kebersihan pasar bersifat krusial.
"Pasar adalah hulu dari kualitas makanan yang dikonsumsi masyarakat. Jika lingkungannya kotor, keselamatan bahan pangan tentu terancam. Ini bukan sekadar soal estetika, tapi soal kesehatan publik," jelas Helena.
Keresahan serupa dirasakan oleh pengunjung. Maria Kornelia, salah satu pembeli, mengaku terpaksa tetap berbelanja di sana meski merasa tidak nyaman dengan bau dan tumpukan sampah.
"Apalagi sekarang musim hujan, bau busuk ada di mana-mana. Kami sangat mengapresiasi relawan yang peduli, karena jika hanya mengandalkan kesadaran pedagang atau pengelola yang ada, kondisi ini mungkin tidak akan berubah," ungkap Maria.
Melalui aksi ini, diharapkan tercipta momentum bagi Pemerintah Daerah dan para pelaku pasar untuk menata kembali Pasar Inpres Ruteng menjadi tempat transaksi yang manusiawi, bersih, dan nyaman bagi semua pihak.