Pasangan suami istri pemilik Prisilia Shop, Apri dan Atik, saat memantau stok barang di gudang mereka di Langkas, Manggarai (17/1/2026).
KATANTT.COM---Bertempat di persimpangan jalan di Langkas, Desa Pong Murung, sebuah pencapaian besar lahir dari perjuangan yang panjang. Nama Prisilia Shop kini bertransformasi menjadi simbol kemenangan sepasang suami istri yang menolak menyerah pada keterbatasan ekonomi.
Libertus Tratama Apriatno (38), pria yang akrab disapa Apri, dan istrinya, Nartiana Namu (33) atau Atik, kini mungkin bisa bernapas lega melihat 5 armada ekspedisinya hilir mudik menembus jalanan Flores.
Namun, jika kita memutar waktu ke belakang, kita akan menemukan kisah yang jauh dari kemewahan, sebuah kisah tentang "sopir bemo" dan "perempuan penjual sprei yang berjalan kaki".
Jejak Aspal dan Keringat Sopir Bemo
Perjalanan ini dimulai pada tahun 2012. Saat itu, dunia Apri hanyalah setir bundar dan debu jalanan.
Sebagai sopir bemo, ia mencari kepingan rupiah demi menghidupi anak pertama mereka, Prisil, dan menyusul kemudian si kecil Rein. Tak cukup jadi sopir, ia bahkan sempat meluruhkan harga diri menjadi buruh kasar di sebuah toko bangunan selama setahun.
"Saya melakukan segala pekerjaan, mulai dari menjadi sopir hingga buruh kasar. Yang terpenting adalah memberikan keadilan bagi keluarga," kenang Apri saat berbincang santai dengan media ini pada Sabtu (17/1/2026). Di matanya, tersimpan ingatan tentang masa-masa sulit ketika masa depan terasa begitu tidak pasti.
Keajaiban Arisan Rp7 Juta: Titik Balik yang Berani
Tahun 2012 adalah tahun pertaruhan. Bermodalkan uang Rp7.000.000 hasil dari Arisan Keluarga, Atik memutuskan untuk mengambil langkah gila.
Bukannya menggunakan uang itu untuk konsumsi, ia justru memutarnya untuk membeli barang-barang lelang (balpres).
Di sinilah peran Atik sebagai "tiang doa" sekaligus "mesin penggerak" dimulai.
Saat usaha ini masih seumur jagung, Atik tidak memiliki kendaraan. Ia bukan pengusaha yang duduk di balik meja.
"Dulu saya jalan kaki, Kak. Benar-benar jalan kaki dari rumah ke rumah membawa sprei. Saya tawarkan ke orang-orang. Bapaknya Prisil (Apri) awalnya tidak mau ikut jual keliling, mungkin dia ragu atau malu. Tapi saya tidak peduli. Saya terus jalan, sampai kami dapat untung Rp15 juta. Di situ dia baru kaget, ternyata usaha ini bisa menghasilkan."
Dari Sewa Ojek, Kredit Kendaraan, Hingga Mengguncang Media Sosial
Melihat kegigihan istrinya, Apri akhirnya luluh dan bergabung. Mereka mulai mengkredit motor untuk ojek barang.
Dari Satu Buah Motor dan mobil pick up, mereka perlahan mulai menggunakan media sosial Facebook untuk berjualan secara online.
Kepercayaan pelanggan adalah segalanya. Tahun 2015, mereka memberanikan diri membuka kios kecil berukuran 5x6 meter.
Barang-barang yang awalnya hanya sprei, berkembang menjadi pakaian, peralatan rumah tangga, hingga barang elektronik. Prinsipnya satu: Kualitas Tinggi, Harga Terjangkau.
"Banyak yang terinspirasi, banyak juga yang mencoba mengikuti jejak kami. Tapi kami tetap fokus. Kami merangkul pelanggan lama agar tidak lari. Kuncinya adalah kepuasan mereka," tegas Apri.
Badai Penagihan dan Serangan Hacker
Kesuksesan tak datang tanpa ujian. Saat sistem kredit diberlakukan, mereka merasakan pahitnya "setengah mati" menagih uang kepada pelanggan.
Bisnis mereka sempat goyang karena macetnya arus kas. Belum lagi tantangan di era digital; akun Facebook mereka yang memiliki hampir 50.000 pengikut sering menjadi sasaran hacker yang mencoba menipu pelanggan atas nama mereka.
"Makanya sekarang kami jarang balas inbox karena takut disalahgunakan orang jahat. Kami arahkan pelanggan langsung ke WA agar lebih aman," jelas Atik.
Manajemen "Satu Pintu": Rahasia Kekuatan Suami Istri
Ada satu filosofi menarik yang dipegang teguh oleh pasangan ini: Kejujuran Finansial. Di Prisilia Shop, sang suami, Apri, mengakui bahwa dirinya tidak memegang uang sepeser pun. Semua kendali keuangan ada di tangan Atik.
"Saya jujur, manajemen keuangan itu penting. Saya tidak pernah pegang uang hasil usaha. Semuanya saya serahkan ke istri sebagai pusat pengontrol. Saya percaya, suami yang memberi kepercayaan penuh pada istri dalam urusan uang, usahanya akan berhasil. Saya hanya bertugas memantau perkembangan dan membantu operasional," jelas Apri.
Menatap 2026: Menguasai Tanah Flores
Kini, mencapai puluhan karyawan, Prisilia Shop telah menancapkan taringnya di Langkas, Ruteng Puni, Labuan Bajo, Lembor, hingga Borong.
Rencana besar sudah di depan mata. Pada akhir tahun 2026, mereka menargetkan untuk membuka cabang di Bajawa dan terus meluas hingga seluruh daratan Flores.
Perjalanan dari seorang sopir yang ragu menjadi pemilik 5 mobil ekspedisi adalah bukti nyata bahwa mimpi setinggi apa pun bisa digapai jika dijalani dengan hati.
Dari Langkas, Apri dan Atik tidak hanya mengirimkan barang, tapi juga mengirimkan pesan kepada dunia: bahwa tidak ada kata terlambat untuk merubah nasib.