• Nusa Tenggara Timur

Di Gubuk Sunyi Cimpar Ruteng, Kepedulian Menyalakan Harapan Mama Sabina

Wilibrodus Jatam | Kamis, 08/01/2026 18:15 WIB
Di Gubuk Sunyi Cimpar Ruteng, Kepedulian Menyalakan Harapan Mama Sabina Anggota DPRD Manggarai, Dedy Ongkor, berbincang dengan Mama Sabina di gubuk bambunya di Cimpar Ruteng.

KATANTT.COM---Di sebuah gubuk bambu kecil di Cimpar, Ruteng, waktu seolah berjalan lebih lambat. Lantai tanah yang dingin menjadi alas hidup, sementara dinding bambu yang telah lapuk tak lagi mampu menahan angin dan cahaya. Celah-celahnya melebar, menembus langit-langit dan membiarkan matahari masuk tanpa permisi.

Di dalam gubuk itulah Mama Sabina Jemamu menjalani hari-harinya. Tubuhnya terbaring lemah, separuh tak lagi bisa digerakkan sejak stroke menyerangnya dua tahun silam. 

Pandangannya kerap tertuju pada dinding bambu yang retak, seolah di sanalah ia menitipkan doa dan harapannya. Matanya berkaca-kaca, bukan karena ingin mengeluh, melainkan karena terlalu lama bertahan dalam diam.

Namun sore itu berbeda.

Bukan karena rasa sakitnya berkurang, melainkan karena suara langkah kaki yang datang silih berganti ke halaman kecil gubuknya. Suara orang-orang yang tidak sekadar singgah, tetapi hadir membawa kepedulian.

Di Cimpar–Ruteng, Kelurahan Laci Carep, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, harapan kembali menemukan jalannya.

Mama Sabina tidak sendiri lagi.

"Saya pikir orang sudah lupa dengan kami… ternyata Tuhan masih kirim orang baik," ucapnya lirih. 

Suaranya tertahan, mulutnya tampak kaku akibat stroke, namun kata-katanya mengalir dari hati yang lama menunggu keajaiban kecil.

Pada Kamis, 8 Januari 2026, sejumlah warga bersama relawan kemanusiaan datang membawa bantuan. Bagi Mama Sabina, bantuan tersebut bukan sekadar materi, melainkan penanda bahwa hidupnya masih memiliki arti.

Di antara mereka hadir sosok yang tak asing bagi warga Manggarai, anggota DPRD Kabupaten Manggarai dari daerah pemilihan Langke Rembong dan Wae Rii, Dedy Ongkor. Ia datang tanpa seremoni. Tanpa jarak.

Dedy Ingkor melangkah masuk ke gubuk sederhana itu, duduk berhadapan dengan Mama Sabina. Kepalanya tertunduk, telinganya terbuka mendengar setiap cerita yang keluar terbata-bata dari bibir seorang ibu yang telah terlalu lama memikul derita.

"Ini soal kemanusiaan. Kita tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan seperti ini," ujarnya pelan namun tegas.

"Sedekah tidak pernah membuat kita miskin. Justru dari berbagi, kita belajar menjadi manusia," lanjutnya.

Mama Sabina hanya bisa menunduk. Air mata mengalir pelan di pipinya. Tangannya menggenggam ujung kain sarung yang warnanya telah memudar, seolah menjadi satu-satunya pegangan hidup yang ia miliki.

"Saya tidak minta banyak… saya hanya mau anak saya bisa sekolah, bisa makan, dan rumah untuk dia tinggal. Itu saja sudah cukup bagi saya," katanya dengan napas tersengal.

Anak yang dimaksud adalah Rafael Momang, putra semata wayangnya. Setiap pagi, bocah itu memastikan ibunya makan sebelum berangkat ke sekolah. 

Ia berjalan kaki lebih dari dua kilometer, lalu pulang untuk kembali mengurus ibunya. Di usia yang seharusnya dipenuhi tawa dan bermain, Rafael justru belajar menjadi dewasa lebih cepat dari waktunya.

Di rumah kecil itu, peran ibu dan ayah seakan menyatu di pundak kecil sang anak.

Dedy Ingkor memandang sekeliling gubuk berdinding bambu itu cukup lama. Ia mengaku tak sanggup menyembunyikan rasa prihatin.

"Tidak boleh ada warga Manggarai yang hidup tanpa harapan. Negara harus hadir, dan kalau negara lambat, maka kita sebagai manusia tidak boleh ikut lambat," tegasnya.

Ia berjanji akan mengawal bantuan lanjutan, termasuk akses pengobatan dan pendampingan sosial bagi Mama Sabina. Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak berhenti peduli, sekecil apa pun bentuknya. "Kalau bukan kita yang saling menjaga, lalu siapa lagi?" ujarnya.

Sore itu, matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan Ruteng. Gubuk kecil Mama Sabina kembali sunyi, namun tak lagi hampa. Di sudut ruangan, karung beras baru tersandar. Di dekat ranjang bambu, obat-obatan tersusun rapi. Dan di hati Mama Sabina, cahaya kecil kembali menyala.

"Saya percaya, selama masih ada orang baik, hidup saya belum selesai," katanya pelan.

Di Cimpar Ruteng, kepedulian memang tak pernah berteriak. Ia datang perlahan, mengetuk hati, dan tinggal lama di tempat yang paling membutuhkan.

FOLLOW US