• Nusa Tenggara Timur

Warta Pengharapan Natal 2025: Gereja Ruteng Ajak Umat Berjalan Bersama dalam Sukacita dan Kepedulian

Wilibrodus Jatam | Senin, 22/12/2025 13:28 WIB
Warta Pengharapan Natal 2025: Gereja Ruteng Ajak Umat Berjalan Bersama dalam Sukacita dan Kepedulian Uskup Ruteng, Mgr. Siprianus Hormat (Dok. Keuskupan Ruteng).

KATANTT.COM---Menjelang perayaan Natal 2025, Keuskupan Ruteng menyampaikan warta pengharapan yang meneguhkan iman umat di tengah berbagai krisis kehidupan.

Pesan Natal tahun ini berakar pada nubuat Nabi Yesaya tentang padang gurun yang bersorak dan tanah kering yang kembali berbunga, sebuah gambaran kuat tentang karya keselamatan Allah yang mengubah penderitaan menjadi sukacita dan keputusasaan menjadi harapan.

Nubuat Yesaya yang dibacakan pada Minggu Ketiga Advent itu menggema sebagai seruan sukacita Gaudete, seruan untuk bersukacita karena Allah datang menyelamatkan. 

Alam semesta digambarkan ikut bersorak, demikian pula manusia yang terluka dan menderita. Mata orang buta dicelikkan, telinga orang tuli dibuka, orang lumpuh melompat kegirangan, dan orang bisu bersorak-sorai. Sukacita kosmis dan humanis ini menandai kehadiran Allah yang tidak tinggal diam terhadap penderitaan umat-Nya.

Pesan pengharapan tersebut dinilai sangat relevan dengan situasi kehidupan masa kini. Banyak orang bergumul dengan kehilangan orang terkasih, relasi keluarga yang retak, kegagalan dalam pendidikan dan pekerjaan, kemiskinan, serta bencana alam yang terus terjadi. Dalam realitas pahit itu, Gereja menegaskan bahwa Allah adalah Imanuel, Allah yang hadir dan berjalan bersama umat-Nya dalam suka dan duka kehidupan.

Dalam Sidang Agung Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) yang berlangsung pada 3–7 November 2025, berbagai persoalan bangsa mengemuka, mulai dari penindasan nilai kemanusiaan, ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan sosial, hingga krisis lingkungan hidup dan persoalan kelompok rentan seperti migran, difabel, lansia, anak-anak, dan perempuan. Menanggapi situasi tersebut, Gereja Katolik Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus berjalan bersama sebagai peziarah pengharapan yang berpusat pada Kristus.

Gereja dipanggil bukan sekadar memperbanyak kegiatan, melainkan menghadirkan Kristus secara nyata di tengah dunia yang terluka, baik di ruang publik, ruang digital, maupun di hati masyarakat.

Dalam terang iman Natal, umat diajak untuk tidak takut dan tetap meneguhkan hati, sebab Tuhan datang membawa keselamatan. Kelahiran Kristus tidak hanya dirayakan sebagai peristiwa liturgis, tetapi sebagai kehadiran nyata Allah yang ingin lahir dalam kehidupan manusia dengan segala dinamika dan pergumulannya. Oleh karena itu, Natal dihayati sebagai ajakan untuk membuka hati menerima kasih Allah dan membuka tangan untuk mewartakan kebaikan-Nya kepada sesama.

Pesan Natal 2025 yang disampaikan bersama oleh KWI dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) juga menekankan pentingnya keluarga sebagai tempat utama kehadiran Kristus. 

Di tengah berbagai krisis keluarga seperti perpisahan, perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, tekanan ekonomi, judi online, pinjaman online, narkoba, serta budaya individualisme dan materialisme, keluarga diharapkan menjadi ruang pemulihan relasi dengan Allah dan sesama. Rumah tangga Kristiani dipanggil menjadi tempat di mana harapan dinyalakan, kasih dikuatkan, dan iman diteguhkan.

Keuskupan Ruteng juga mensyukuri perjalanan Tahun Pastoral Ekaristi Transformatif 2025 yang telah menumbuhkan kecintaan umat terhadap Ekaristi. Melalui adorasi, devosi, dan prosesi, Yesus Ekaristi semakin dihidupi dalam iman umat, tidak hanya dalam perayaan ritual, tetapi juga dalam kesaksian hidup sehari-hari. 

Ekaristi dihayati secara sosial melalui kepedulian terhadap sesama yang menderita, serta secara ekologis melalui gerakan merawat dan mencintai lingkungan hidup sebagai rumah bersama.

Berakhirnya Tahun Pastoral Ekaristi Transformatif sekaligus menandai penutupan satu dekade implementasi Sinode III Keuskupan Ruteng. Memasuki tahun 2026, Keuskupan Ruteng akan menyelenggarakan Sinode IV sebagai momentum refleksi iman dan penentuan arah dasar pastoral untuk sepuluh tahun ke depan. Seluruh umat Allah diajak terlibat aktif dan kreatif dalam proses sinodal ini, karena sinode bukanlah kegiatan kelompok elit, melainkan perjalanan bersama seluruh umat dalam tuntunan Roh Kudus.

Dalam semangat sinodalitas, umat diajak untuk saling mendengarkan dan membuka diri terhadap bisikan Roh. Sinode dipahami sebagai cara hidup Gereja, sebuah persekutuan yang berjalan bersama dalam iman, harapan, dan kasih. Paus Fransiskus menegaskan bahwa partisipasi dalam sinode berarti menempatkan diri di jalan yang sama dengan Sabda yang menjadi daging, serta berani mendengarkan suara dan harapan umat serta bangsa.

Menutup pesan Natalnya, Keuskupan Ruteng mengajak seluruh umat untuk "pergi ke Betlehem" dan terus berziarah bersama dalam pengharapan yang berakar pada kasih Allah, kasih yang tidak pernah mengecewakan.

Dalam rangka perayaan Natal dan Tahun Baru 2025, Keuskupan Ruteng juga mengimbau umat Katolik dan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kondusivitas wilayah, memperkuat persaudaraan, dan menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama.

Perayaan Natal dan Tahun Baru diharapkan menjadi momentum mempererat persatuan dan keharmonisan sosial. Keuskupan Ruteng menegaskan bahwa rasa aman dan damai adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat, bukan hanya aparat keamanan. Umat pun diajak merayakan Natal dan Tahun Baru secara sederhana namun penuh makna, dengan menghindari tindakan yang dapat mengganggu ketertiban umum dan merusak persaudaraan.

Dengan semangat itu, Keuskupan Ruteng menyampaikan salam damai Natal 2025 dan harapan akan Tahun Baru 2026 yang penuh berkat bagi seluruh umat dan masyarakat luas.

FOLLOW US