• Nusa Tenggara Timur

KSP Kopdit Spirit Soverdia Menjalin Harapan Kemandirian di Tengah Konflik Lingkungan

Wilibrodus Jatam | Jum'at, 03/10/2025 10:34 WIB
KSP Kopdit Spirit Soverdia Menjalin Harapan Kemandirian di Tengah Konflik Lingkungan Ket. Foto: RAT ke-XI KSP Kopdit Spirit Soverdia tahun buku 2024 di Aula Gereja Katolik St. Nikolaus Golo Dukal, Kabupaten Manggarai, Kamis (20/3/2025).

KATANTT.COM---Ketika konflik sosial dan lingkungan mencengkeram sebagian wilayah Manggarai Raya, sebuah jalan alternatif lahir dari semangat kebersamaan. Ia bukan datang dengan bendera perusahaan, melainkan tumbuh dari kesadaran rakyat untuk menjaga tanah, hutan, dan air mereka. Jalan itu bernama Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Kopdit Spirit Soverdia, yang berdiri pada 8 September 2013 dan hingga kini terus menyalakan harapan kemandirian ekonomi masyarakat.
 
Ketua Pengurus KSP Soverdia, Pater Simon Suban Tukan, menegaskan bahwa koperasi ini dilahirkan dari rasa keprihatinan mendalam atas nasib masyarakat desa yang seringkali terjebak dalam konflik berkepanjangan.
 
"Kami ingin masyarakat melihat tanah, air, dan hutan bukan sekadar objek eksploitasi, tetapi sumber daya kehidupan yang bisa dimanfaatkan secara arif untuk kesejahteraan mereka sendiri," ujarnya, Kamis (2/10/2025).
 
Dari KSU Menuju Koperasi Mandiri
 
Benih Soverdia sesungguhnya mulai tumbuh sejak 2010. Saat itu, kelompok-kelompok kecil di desa diajak menabung dan saling menopang melalui wadah Koperasi Serba Usaha (KSU). Dari inisiatif sederhana ini, lahirlah gagasan untuk membangun koperasi yang lebih kokoh dan terorganisir.
 
Dengan dukungan Dinas Koperasi, Soverdia resmi berdiri pada September 2013 dengan 17 anggota pendiri. Setahun berselang, pemerintah kabupaten menerbitkan izin resmi yang semakin mengokohkan kepercayaan masyarakat. Dari jumlah yang semula belasan, kini Soverdia telah merangkul lebih dari dua ribu anggota yang tersebar di Kabupaten Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur.
 
Tahun 2016 menjadi tonggak penting, ketika koperasi ini diterima sebagai anggota Puskopdit, meneguhkan posisinya dalam jejaring koperasi kredit di Indonesia.
 
Lebih dari Sekadar Simpan Pinjam
 
Soverdia berkembang bukan hanya sebagai lembaga keuangan rakyat, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi produktif di desa. Ia hadir di sawah, ladang, peternakan, hingga kebun hortikultura. Koperasi tidak berhenti pada pemberian pinjaman, melainkan turut membeli hasil panen petani dan memberi pendampingan usaha.
 
Di Pocoleok misalnya, warga yang semula membiarkan lahan tidur kini terdorong menanam kentang dan sayuran. Soverdia ikut menyediakan pupuk organik cair hasil produksi lokal, bahkan memfasilitasi ketersediaan air. Perlahan, warga bukan hanya bertahan hidup, tetapi juga merasakan peningkatan pendapatan secara berkelanjutan.
 
Digitalisasi untuk Transparansi
 
Sejak 2020, Soverdia bergerak mengikuti perkembangan zaman. Melalui aplikasi SiCundo, SiCundo Mobile, dan SAKTI.Link, koperasi ini membuka akses digital bagi anggotanya. Tabungan dapat dipantau dari gawai, transaksi dilakukan secara cepat, bahkan kebutuhan rumah tangga sehari-hari dapat dibayar lewat sistem ini.
 
"Transparansi adalah kunci kepercayaan. Anggota harus yakin bahwa uang mereka dikelola secara terbuka dan bertanggung jawab," tegas Pater Simon.
 
Mandiri, Solider, dan Sejahtera Bersama
 
Lebih dari satu dekade perjalanan, Soverdia tidak hanya membuktikan diri sebagai koperasi, melainkan juga gerakan sosial. Moto "Mandiri dan Solider untuk Sejahtera Bersama" hidup dalam denyut setiap anggotanya.
 
Kini, dengan anggota yang telah menembus ribuan orang dan aset lebih dari Rp8 miliar, Soverdia berdiri sebagai bukti bahwa kesejahteraan dapat lahir dari solidaritas, dan kemandirian bisa tumbuh tanpa harus mengorbankan alam.
 
Di tengah gejolak konflik lingkungan dan tekanan ekonomi, Soverdia menghadirkan secercah cahaya: bahwa masa depan desa dapat dibangun dengan kebersamaan, bahwa kesejahteraan bisa lahir dari tangan sendiri, dan bahwa alam adalah sahabat yang mesti dijaga, bukan dikorbankan.

FOLLOW US