• Nusa Tenggara Timur

Malam Refleksi di Ruteng : Pesan Damai Manggarai di Tengah Gejolak Nasional

Wilibrodus Jatam | Selasa, 02/09/2025 19:13 WIB
Malam Refleksi di Ruteng : Pesan Damai Manggarai di Tengah Gejolak Nasional Bupati Manggarai, Heribertus Gradus Laju Nabit (kanan) dan Wakil Bupati Manggarai, Fabianus Abu (kiri), menyalakan lilin dalam Malam Refleksi dan Doa Bersama di Natas Labar Motang Rua, Ruteng, Selasa (2/9/2025).

KATANTT.COM---Di tengah hiruk-pikuk demonstrasi yang merebak di berbagai daerah Indonesia, Manggarai memilih jalan berbeda. Alih-alih turun ke jalan dengan teriakan marah, masyarakatnya mengangkat doa, refleksi, dan persaudaraan. Selasa (2/9/2025) malam, Natas Labar Motang Rua di Ruteng disulap menjadi ruang hening penuh cahaya lilin, simbol harapan yang tak ingin padam.


Pemerintah Kabupaten Manggarai bersama Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, hingga organisasi mahasiswa duduk dalam satu lingkaran yang sama. Tidak ada sekat, tidak ada jarak. Malam itu, doa bergema, orasi reflektif dilantangkan, dan semangat menjaga kedamaian Manggarai dipatri bersama.


Suara Pemuda: "Indonesia Tidak Baik-Baik Saja"


Dari barisan mahasiswa, suara lantang datang. Ketua GMNI Cabang Manggarai, Meldiyani Yolfa Jaya, tak sekadar berbicara, ia menggugah kesadaran.


"Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Demokrasi makin dipersempit, tanah rakyat dirampas, hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Petani, nelayan, buruh, hingga guru honorer masih hidup dalam keterbatasan," tegasnya.


Ia menolak menjadikan malam refleksi itu sekadar seremoni. Baginya, ini adalah perlawanan moral terhadap ketidakadilan. "Dari Manggarai untuk Indonesia, kita berseru: hentikan penindasan atas nama pembangunan, wujudkan keadilan sosial, dan libatkan rakyat dalam setiap keputusan pembangunan," serunya, membuat hadirin terdiam sejenak.


Kapolres Manggarai: Kritik adalah Vitamin


Di hadapan masyarakat, Kapolres Manggarai, AKBP Hendri Syaputra, memilih rendah hati. Ia menyampaikan duka atas korban bentrokan di sejumlah daerah, sekaligus membuka telinga bagi kritik publik.


"Kami menerima semua kritik sebagai motivasi untuk lebih profesional dalam mengabdi. Mari kita jaga Manggarai sebagai rumah bersama yang damai," ujarnya tulus.


Bagi Kapolres, menjaga Manggarai bukan tugas polisi semata, melainkan tanggung jawab semua: tokoh adat, orang muda, hingga mereka yang sering berbeda pandangan.


Dandim Kodim 16/12 Manggarai: Jauhi Anarkisme, Jaga Rumah Bersama


Pesan senada datang dari Dandim 1612 Manggarai, Letkol Arh Amos Comonius Silaban, SH, M.M. Dengan suara tegas, ia mengingatkan bahaya provokasi di tengah situasi rawan.


"Jangan terprovokasi. Jauhkan diri dari tindakan anarkis. Manggarai ini rumah kita, mari kita jaga bersama agar tetap kondusif dan menjadi tanah yang disukai banyak orang untuk berkunjung," katanya.

 

Ia menutup pesannya dengan pekik yang menggema: "Indonesia Maju! Manggarai Damai!"


Bupati Hery: Perbedaan adalah Anugerah


Bupati Manggarai, Heribertus Gradus Laju Nabit, tampil dengan pendekatan berbeda. Ia tidak berorasi dengan retorika politik, melainkan dengan pengingat sederhana: perbedaan adalah anugerah.


"Unjuk rasa adalah hak yang dijamin undang-undang, tetapi harus dijalankan secara damai. Manggarai tetap bagian dari rumah besar Indonesia. Pemerintah hadir memastikan rumah ini memberi keteduhan. Jika ada yang belum maksimal, mari kita bicarakan dengan baik," ujarnya.


Sebagai penutup, Bupati Nabit membacakan puisi Sapardi Djoko Damono. Sebait puisi itu meluruhkan ketegangan, mengingatkan bahwa cinta tanah air tidak melulu soal heroisme besar, tetapi juga kesediaan menjaga damai di halaman sendiri.


Lilin dan Doa: Pesan dari Manggarai untuk Indonesia


Acara berakhir dalam keheningan. Doa lintas iman dinaikkan, lilin-lilin dinyalakan, dan cahaya kecil itu menyatu menjadi simbol besar: persatuan.


Malam refleksi dan doa bersama di Ruteng ini tidak hanya menjadi agenda lokal. Ia menjelma pesan moral untuk Indonesia. Bahwa di tengah krisis, jalan damai selalu mungkin. Bahwa persaudaraan lebih kuat daripada provokasi. Dan bahwa rakyat di Manggarai maupun di pelosok lain tetaplah pemilik sah republik ini.


Manggarai telah bersuara: damai adalah jalan, persaudaraan adalah kekuatan.

FOLLOW US