• Nusa Tenggara Timur

Diduga Mabuk, Kades Ekateta Aniaya Warga Desa Oesusu sampai Babak Belur

Reli Hendrikus | Rabu, 26/03/2025 12:55 WIB

KATANTT.COM--Tiga warga Desa Oesusu Kecamatan Takari Kabupaten Kupang yaitu Istanis Laus Simson Taloim, Sandi Imanuel Nabunome dan Dewon Deferengki Bait menjadi korban pengeroyokan dan penganiayaan diduga dilakukan Kepala Desa Ekateta, Yesta Yorim Mammo Cs.

Kasus pengeroyokan dan penganiayaan yang terjadi pada Jumat, 21/2/2025 mengakibatkan Istanis Laus Simson Taloim babak belur. Kasusnya sendiri sudah dilaporkan ke Polsek Fatuleu sesuai Laporan Polisi Nomor: LP/B/11/B/2025/SPKT/Polsek fatuleu/Polres Kupang tanggal 21 Februari 2025.

"Kasusnya sudah kami laporkan ke Polsek Fatuleu. Saya sendiri sudah sudah diambil keterangan oleh penyidik dan sudah menjalani visum. Kedua korban (Sandi Imanuel Nabunome dan Dewon Deferengki Bait) juga sudah diambil keterangan. Kami hanya minta kasusnya diproses secara hukum sampai tuntas," kata Istanis Laus Simson Taloim kepada wartawan di Kupang, Selasa (25/3/2025).

Aksi tidak terpuji yang diduga dilakukan oleh Kades Ekateta, Yesta Yorim Mammo Cs terjadi saat acara pemakaman jenazah Karel Tallas pada Jumat (21/2/2025). Saat itu, Istanis Laus Simson Taloim yang berboncengan dengan Sandi Imanuel Nabunome dan Dewon Deferengki Bait ikut mengantar jenazah Karel Tallas untuk dimakamkan ke Desa Ekateta Kecamatan Fatuleu.

Aksi pengeroyokan dan penganiayaan diduga oleh Kades Ekateta, Yesta Yorim Mammo Cs terekam dan beredar luas di media social. Kades Ekateta, Yesta Yorim Mammo yang mengenakan celana warna hitam dan baju kuning diduga sementara mabuk hingga terdengar mengeluarkan umpatan makian kepada korban..

Sebelumnya, Istanis Laus Simson Taloim sibuk membantu menyembelih hewan untuk acara syukuran pemakaman Karel Tallas. Usai membantu menyembelh hewan, barulah Istanis Laus Simson Taloim mengikuti rombongan dari Desa Oesusu ke Desa Ekatata.

Korban Istanis Laus Simson Taloim yang membonceng Sandi Imanuel Nabunome dan Dewon Deferengki Bait agak terlambat tiba di lokasi pemakaman masih dengann pisau terselip di pinggang.

Begitu tiba di lokasi pemakaman di Desa Ekatata, Istanis Laus Simson Taloim bersama Sandi Imanuel Nabunome dan Dewon Deferengki Bait yang tidak tahu apa-apa justru dihajar oleh Kades Ekateta, Yesta Yorim Mammo bersama Andreas Nitbani, Tomi Mammo, Welem Seko dan Yotan Mammo.

Korban Istanis Laus Simson Taloim dipukuli beramai-ramai oleh Kades Ekateta Yesta Yorim Mammo CS sampai terjatuh. Korban kemudian ditendang dan diinjak mengakibatkan wajahnya luka hingga mengeluarkan darah. Bahkan, korban nyaris ditikam menggunakan pisau miliknya yang jatuh saat dipukuli oleh Kades Ekateta Yesta Yorim Mammo Cs.

Padahal kata Istanis Laus Simson Taloim, antara warga Desa Oesusu dan Desa Ekateta adalah saudara yang memiliki hubungan darah langsung. Apalagi yang meninggal almarhum Karel Tallas) adalah sesepuh (orangtua) di kedua desa ini.

"Setelah saya lapor, baru kepala desa (Yesta Yorim Mammo) juga lapor ke Polsek Fatuleu. Jadi, kalau saya tidak lapor, pasti kepala desa (Yesta Yorim Mammo) juga tidak lapor," katanya.

Menurutnya, laporan Kepala Desa Ekateta Yesta Yorim Mammo ke Polsek Fatuleu hanya untuk menutupi aksi pengeroyokan yang dilakukan terhadap dirinya sampai babak belur. Termasuk pengeroyokan kepada Sandi Imanuel Nabunome dan Dewon Deferengki Bait.

Ia mengaku tidak tahu kalua sebelumnya antara Kepala Desa Ekateta, Yesta Yorim Mammo ada masalah dengan salah satu warga Desa Oesusu saat ibadah sebelum pemakaman almarhum Karel Tallas.

"Saya tidak tahu ada masalah sebelumnya antara kepala desa (Yesta Yorim Mammo) di rumah duka. Kami hanya ikut keluarga mengantar jenazah Karel Tallas untuk dimakamkan, tapi kami dipukul sampai berdarah," katanya.

Aksi pengeroyokan Kepala Desa Ekateta, Yesta Yorim Mammo ini juga dituturkan oleh warga Desa Oesusu Albert Nitbani. Albert Nitbanu mengaku diperlakukan tidak manusiawi oleh Kepala Desa Ekateta Yesta Yorim Mammo.

Albert Nitbani yang merupakan sopir pick up yang mengangkut peti jenasah Karel Tallas dari Desa Oesusu ke Desa Ekateta. Saat tiba di lokasi pemakaman, Kepala Desa Ekateta Yesta Yorim Mammo dan pelaku lainnya melarang keluarga menngangkat peti jenazah dari atas mobil.

Menrut Albert otbani, Kepala Desa Ekateta Yesta Yorim Mammo memerintahkan hanya Albert Nitbani yang menurunkan peti jenazah ke liang lahat. "Keluarga yang lain kepala desa larang kasih turun peti jenazah dari atas oto. Hanya saya yang kepala desa (Yesta Yorim Mammo) perintahkan kasih turun," ujarnya.

Bahkan, Kepala Desa Ekateta Yesta Yorim Mammo kata Albert Nitbani, sampai menendang sejumlah kayu yang dipasang di bibir kubur guna meletakkan peti jenazah sebelum dimasukkan ke dalam lubang.

"Kita berharap Polsek Fatuleu jangan sampai tebang pilih. Jangan sampai kepala desa (Yesta Yorim Mammo) bebas dari laporan ini," katanya.

Terkait kasus ini, tokoh masyarakat Desa Oesusu, Nitanel Tanuab berharap apparat Polsek Fatuleu segera menuntaskan kasus ini sehingga bisa memberikan efek jera bagi para pelaku.

"Kasus seperti ini bukan baru yang pertama dilakukan Kepala Desa, Ekateta, Yesta Yorim Mammo. Sebelumnya, dalam acara pemakaman atau pernikahan dia (Kades Ekateta, Yesta Yorim Mammo) berbuat hal tidak terpuji seperti seperti ini," katanya.

 

 

 

FOLLOW US