• Nusa Tenggara Timur

Suku Kemak Dirubati Tuai Apresiasi Lestarikan Budaya dan Terbitkan Kamus Bahasa Kemak

Yansen Bau | Kamis, 19/09/2024 10:37 WIB
Suku Kemak Dirubati Tuai Apresiasi Lestarikan Budaya dan Terbitkan Kamus Bahasa Kemak Penampilan bambu suling dari salah satu peserta lomba pidato dan pentas seni yang digelar Suku Kemak Dirubati bertempat di Kuneru, Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL, Rabu (18/9/2024)

KATANTT.COM---Suku Kemak Dirubati didukung Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) NTT dan Bank NTT Cabang Atambua menggelar lomba pidato dan pentas seni diikuti 17 peserta dari tingkat SMA dan SMK serta satu peserta dari tingkat SMP di Kota Atambua.s

Kegiatan bertajuk "Revitalisasi Bahasa Kemak Dirubati melalui Tutur dan Sastra Lisan dalam Tarian Tradisional" resmi dibuka oleh Kepala Bidang Kebudayaan Provinsi NTT, Ayub Sanam bertempat di Rumah adat Suku Kemak Dirubati, Kuneru, Kelurahan Manumutin, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL, Rabu (18/9/2024).

Ayub Sanam menekankan pentingnya menjaga kebudayaan yang bersifat universal, sejalan dengan Undang-Undang Nomor 10 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

"Apresiasi untuk Dinas Pariwisata Kabupaten Belu yang telah menyusun pokok-pokok kemajuan kebudayaan daerah dan menegaskan pentingnya bahasa sebagai salah satu objek pemajuan kebudayaan," ujar dia dalam sambutannya.

Dijelaskan, ada 10 objek pemajuan kebudayaan, termasuk bahasa yang menjadi fokus dalam kegiatan sore hari ini. Bahasa merupakan bagian dari pemajuan kebudayaan, sama pentingnya dengan cagar budaya seperti rumah adat dan megelitik yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya.

Kepada generasi muda Ayub meminta agar harus terus di dorong untuk melestarikan bahasa dan budaya daerah. Kami juga memiliki tugas besar untuk menjadikan Bahasa Kemak sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Indonesia.

"Upaya revitalisasi bahasa sudah dilakukan dan kami berharap bisa mengajukan untuk ditetapkan di tahun depan," kata dia.

Akui Ayub, saat ini Kabupaten Belu baru memiliki dua budaya yang diakui sebagai Warisan budaya tak benda, yaitu tarian likurai dan Afui (saling bambu). Selain bahasa Kemak pihaknya juga akan mendorong budaya Tebe untuk dikaji lebih lanjut agar tidak diklaim oleh negara tetangga, Timor Leste.

Pada kesempatan itu, Kepala Kantor Bahasa NTT, Elis Setiati menyampaikan dukungan terhadap program revitalisasi bahasa daerah dan upaya Suku Kemak Dirubati dalam melestarikan bahasa dan budaya melalui penyusunan kamus.

"Saya sangat mendukung program yang diusulkan Pak Djoese untuk membuat kamus bahasa Kemak. Ini adalah langkah luar biasa karena belum tentu dari seribu orang ada yang mampu menyusun kamus bahasa daerah. Kami dari Kantor Bahasa siap membantu proses ini, mulai dari pengumpulan kosakata hingga lokakarya untuk menyempurnakan kamus tersebut," kata dia.

Ditekankan pentingnya menjaga bahasa daerah agar tidak punah. Menurut data UNESCO, hampir setiap dua minggu ada satu bahasa daerah yang hilang dari muka bumi. "Jangan sampai bahasa Kemak mengalami hal yang sama. Bahasa adalah identitas dan ketika bahasa hilang, maka adat dan budaya juga akan lenyap. Oleh karena itu, mari kita bergandengan tangan dalam upaya revitalisasi bahasa daerah," ujar Elis.

Dia juga mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi. Saat ini program pemerintah harus dijalankan melalui kolaborasi. Dengan adanya dukungan dari Pemerintah Daerah dan masyarakat, kita bisa bersama-sama menjaga bahasa daerah kita agar tetap hidup dan berkembang.

"Lomba pidato dan pentas seni ini menjadi langkah awal dalam melestarikan bahasa dan budaya Suku Kemak Dirubati, sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai bahasa daerah," harap Elis.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) NTT melalui Kepala Sub Bagian Umum Arif menegaskan pentingnya sinergi antara masyarakat, pemerintah dan komunitas adat dalam pelestarian budaya.

Hal ini sejalan dengan amanat undang-undang nomor 10 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang mengharuskan adanya kolaborasi berbagai pihak dalam memajukan kebudayaan.

"Selain melastarikan kebudayaan, kita juga semakin mencintai apa yang kita miliki. Dengan demikian, generasi mendatang tidak akan kehilangan jati dirinya dan akan teyap mengenali asal usul mereka," ujar dia.

Arif mengakui dirinya sangat terharu dan menghargai segala usaha dari para koordinator pelaksana kegiatan serta apresiasi dari semua pihak yang terlibat, sehingga kegiatan ini berjalan dengan sukses.

"Terima kasih untuk kerja sama dan kolaborasi ini. Semoga ke depannya pelestarian bahasa dan budaya dapat berjalan dengan baik dan semangat yang lebih besar," pinta Arif.

 

FOLLOW US