• Bisnis

Pengrajin Tenun Ikat di NTT Merugi

Djemi Amnifu | Sabtu, 15/08/2020 09:38 WIB
  Pengrajin Tenun Ikat di NTT Merugi Ibu-ibu rumah tangga pengrajin tenun ikat dengan hasil tenun yang penghasilannya mengalami penurunan drastis sebagai dampak pendemi Covid-19.

kataNTT--Penyebaran Covid-19 dalam beberapa bulan terakhir sangat dirasakan dampak negatif nya bagi kaum ibu kelompok penenun `Bersehati` di Desa Nunleu, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mereka menderita kerugian karena hasil tenunan kain motif, sarung dan selendang tidak laku bahkan harga merosot tajam. Dalam dua tahun terakhir harga produk tenunan kain adat dan kain motif yang semula hanya Rp 300.000 sudah bisa terjual hingga Rp 1,5 juta per satu lembar tenunan.

Harga ini melonjak drastis setelah adanya pendampingan dari Tim Politeknik Negeri Kupang terdiri dari Sumartini Dana, ST MT, Ade Manu Gah, Diana Rachmawati dan Hans Lao. Namun belakangan terutama di masa Covid-19, harga produk tenunan kembali terjun bebas.

Melihat kondisi ini, tim politeknik negeri Kupang yang sudah tiga tahun mendampingi 20 ibu rumah tangga ini mulai berinovasi. Produk tenunan tidak semata dibuat kain, sarung atau selendang namun dibuatkan menjadi tas, pakaian, dompet dan masker motif kain tenunan.

Untuk masker diberi harga antara Rp 25.000 hingga Rp 100.000. Harga tas, pakaian dan aksesories lain pun bervariasi. Sebanyak 20 ibu anggota kelompok pun berbagi peran. Ada yang mewarnai benang, menenun, menjahit produk hingga memasarkan produk mereka.

Mereka menyadari kesulitan memasarkan produk berupa sarung, kain dan selendang. Selain harga nya mahal juga minimnya pembeli sehingga mereka berinovasi membuat produk lain yang lebih murah, cepat dipasarkan dan mudah didapat.

Inovasi mereka membuahkan hasil. Mereka kebanjiran pesanan untuk masker motif kain adat maupun pakaian modifikasi.
Dalam sehari, 20 ibu rumah tangga yang kebanyakan janda ini menghasilkan 100 masker kain motif dan juga menjahit baju pesanan.

Mereka berusaha memenuhi pesanan walaupun saat ini waktu mereka tersita untuk mengelola sawah dan kebun.
"Para ibu ini selain menenun juga menjadi tulang punggung bekerja di sawah dan kebun," ujar Sumartini Dana, ST MT.

Promosi penjualan pun gencar dilakukan tim politeknik negeri Kupang melalui berbagai media sosial.
Tim pun membantu membangun komunikasi dengan semua pihak untuk proses pemasaran produk dan melakukan kerjasama dengan berbagai mitra.

Tidak saja memproduksi masker untuk dijual namun para ibu ini juga membagikan masker tenunan hasil karya mereka secara gratis kepada warga dan anak sekolah seperti kepada anak PAUD Nunleu Ceria dan Nunleu cemerlang. Agar hasil produk memiliki nilai jual maka para ibu pun lebih merapikan hasil jahitan dan tenunan sesuai pendampingan dari tim.


"Syukurlah penjualan dan omzet sudah naik lagi setelah sempat lesu dalam enam bulan terakhir ini," ujar Sumartini Dana, ST MT selaku koordinator tim saat ditemui di Kupang.

Tim juga terus melakukan pelatihan dan edukasi guna menghasilkan produk terbaik dan pendapatan pun naik.
Produk yang dihasilkan bersinergi dengan program pemerintah yang mewajibkan PNS di NTT menggunakan kain tenunan setiap hari Kamis dan Jumat.

Selama pendampingan, tim Politeknik membantu anggota kelompok dengan 2 mesin jahit, 1 mesin obras, benang dan pewarna dengan standar baik sehingga hasil tenunan rapi, bagus dan anti luntur.

Salah satu potensi terbesar di desa Nunleu ini adalah tenun ikat. Namun produksi tenun ikat oleh kaum perempuan di Desa Nunleu membutuhkan waktu yang sangat lama dan hanya dibuat untuk acara adat. Kalaupun dijual akan sangat mahal dan juga terkadang dipandang sebelah mata karena sering luntur.

Tim Politeknik Negeri Kupang prihatin dan peduli dengan kondisi ini. Dibantu Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi, tim Politeknik negeri Kupang membantu kaum ibu dalam menghasilkan kain tenun.

Sejak beberapa waktu lalu dibuatlah kegiatan pemberdayaan perempuan untuk peningkatan ekonomi dan pelestarian budaya melalui inovasi usaha tenun ikat di desa Nunleu Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten TTS. Sebanyak 20 ibu rumah tangga dihimpun dalam kelompok "Bersehati" dipimpin Ida Leta-Missa.

Tim Politeknik Negeri Kupang memperkenalkan pewarna benang jenis Naptol yang merupakan pewarna anti luntur, mudah diperoleh dan mempersingkat waktu pengerjaan tenunan. Tim juga memberi pelatihan pembukuan sederhana. Anggota kelompok diajarkan pencatatan dan pembukuan semua biaya yang timbul untuk produksi kain hingga pemasaran.

Desa Nunleu Kecamatan Amanatun Selatan Kabupaten TTS sendiri belum banyak dikenal.
Untuk sampai ke wilayah ini, warga harus menumpang kendaraan dengan jarak tempuh 187 kilometer dari kota SoE (ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan).

SoE sendiri memiliki jarak tempuk 120 kilometer dari Kota Kupang. Kondisi jalan yang rusak parah juga menjadikan desa ini jarang dikunjungi. Padahal desa ini memiliki potensi yang sangat bagus baik potensi alam, budaya dan kerajinannya. (ilo)

 

FOLLOW US