Erosi Integritas dan Tantangan Literasi Mahasiswa di Era Digital

Wilibrodus Jatam | Senin, 02/03/2026 23:33 WIB

KATANTT.COM---Perkembangan teknologi digital saat ini membawa pengaruh besar dalam dunia pendidikan. Kemudahan dalam mengakses informasi kini melampaui hambatan masa lalu yang terbatas pada referensi literatur cetak. Simplisius Arlifan, Mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral (Stipas) St. Sirilus Ruteng.

KATANTT.COM---Perkembangan teknologi digital saat ini membawa pengaruh besar dalam dunia pendidikan. Kemudahan dalam mengakses informasi kini melampaui hambatan masa lalu yang terbatas pada referensi literatur cetak.

Kini, dengan satu kali klik, berbagai sumber pengetahuan dapat langsung muncul di layar. Kemajuan ini tentu merupakan pencapaian luar biasa dalam peradaban manusia, karena proses belajar tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. 

Mahasiswa dapat mengakses jurnal internasional, e-book, video pembelajaran, hingga forum diskusi akademik hanya melalui perangkat digital yang dimiliki. Namun dibalik kemudahan tersebut, muncul satu venomena yang perlu dikritisi, yaitu mentalitas instan dalam proses belajar. 

Mentalitas instan adalah suatu pola pikir yang menginginkan hasil dan kesusksesan yang cepat tanpa mau menjalani proses, kerja keras, dan usaha, atau tahapan yang memadai. Mentalitas instan tampak dari kecendrungan mahasiswa yang ingin memperoleh hasil secara cepat tanpa melalui proses pemahaman yang mendalam. 

Baca juga :

Banyak mahasiswa menyalin informasi dari internet secara keseluruhan tanpa benar-benar memahami isi materi. Tidak sedikit pula yang melakukan plagiarisme dengan tidak mencantumkan sumber referensi. 

Melalui survei KPK  (2024/2025) menunjukan 44,5% mahasiswa pernah melakukan plagiarisme dan lebih dari 60% kampus melaporkan dosen plagiat.  Peraktik ini tidak hanya melanggar kode etik akademik, tetapi juga menunjukan rendahnya integritas dalam dunia pendidikan. Selain itu, kebiasaan mencari jawaban cepat tanpa proses analisis dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis yang seharusnya menjadi ciri khas mahasiswa sebagai insan yang berintelektual.

Jika kebiasaan ini terus dibiarkan, akan lahir generasi mahasiswa yang terlalu bergantung pada teknologi, kurang kritis, dan tidak terbiasa mengembangkan pemikiran sendiri. Ketergantungan yang berlebihan pada mesin dan kecerdasan buatan berpotensi mengurangi daya refleksi dan kemampuan memecahkan masalah secara mandiri. 

Padahal, dunia kerja menuntut kreativitas, ketekunan, serta kemampuan berpikir analitis. Mentalitas serba instan justru berpotensi melemahkan daya juang dan kedalaman intelektual mahasiswa. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kualitas sumber manusia dan daya saing bangsa.

Hakikat pendidikan sejatinya bukan sekadar tentang seberapa cepat memperoleh nilai atau hasil akhir, melainkan tentang proses pembelajaran itu sendiri. Diskusi, membaca berbagai referensi, latihan, serta refleksi adalah bagian penting dalam membentuk kompetensi dan karakter mahasiswa

Tanpa proses tersebut, ilmu yang diperoleh cenderung dangkal dan mudah dilupakan. Pendidikan yang berorientasi pada proses akan melahirkan individu yang matang secara intelektual maupun moral.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu menyadari bahwa teknologi seharusnya menjadi alat pendukung dalam pembelajaran, bukan jalan pintas menuju keberhasiklan. Dosen dan institusi pendidikan juga berperan penting dalam menanamkan budaya akademik yang menjujung tinggi literasi, numerasi, dan integritas.

Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menjadi generasi yang cepat mengakses informasi, tetapi juga mampu berpikir kritis, berkarakter kuat, dan siap bersaing secara sehat di era digital

Pada akhirnya, tantangan terbesar di era digital bukanlah pada kemajuan teknologinya, melainkan pada kesiapan mental dan karakter penggunanya. Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa harus mampu mengendalikan diri agar tidak terjebak dalam budaya serba cepat yang mengabaikan proses. 

Kemudahan akses informasi hendaknya dijadikan peluang untuk memperdalam wawasan, bukan sekadar mempercepat penyelesaian tugas. Dengan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya proses, integritas, dan tanggung jawab akademik, mahasiswa dapat membuktikan bahwa mereka bukan generasi instan, melainkan generasi cerdas yang matang secara intelektual dan berdaya saing tinggi.

Penulis: Simplisius Arlifan, Mahasiswa Stipas St. Sirilus Ruteng.

 

 

TAGS : opini stipas ruteng digital mahasiswa literasi