KATANTT COM---Sangat perihatin rasanya ketika warga masyarakat kampung Motor Bike Kelurahan Wangkung, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai dilanda musibah banjir rob.
Banjir yang diakibatkan oleh pasangnya air laut ini menggenangi pemukiman warga terjadi hampir setiap tahun.
Alexander Nawe, salah seorang warga di kampung itu menyampaikan, bencana banjir rob sudah menjadi langganan selama beberapa tahun dekade. Tinggi air mencapai lutut, dan jika musim hujan datang, Ia bersama keluarganya harus bergegas menyelamatkan peralatan rumah agar tidak terendam. Warga sekitar pun melakukan hal yang sama.
“Kalau banjir rob itu terjadi pada malam hari, semua warga tidak bisa tidur,” ujar Alex.
Alex juga menuturkan, di belakang kampung terdapat sungai kecil untuk mengaliri sawah dan saat musim hujan tiba, air itu tidak bisa mengalir ke laut.
Dengan kapasitas sungai yang kecil, air meluap dan merendam rumah-rumah warga. Ditambah lagi, saat air laut naik bersamaan dengan musim hujan, “air kali tidak bisa turun karena air laut naik. Jadinya rata.”
“Bahayanya juga kalau terjadi gelombang laut tinggi. Musim ini biasanya berlangsung dari Juli hingga Oktober. Yang menjadi parah adalah Air laut bisa masuk ke dalam rumah.” lanjutnya.
Alex menceritakan, warga kampung Motor Bike membangun tanggul darurat secara gotong royong sebagai penahan air dan gelombang laut yang naik. Untuk memenuhi kebutuhan kayu, warga terpaksa mengumpulkan dana pribadi.
Meski ada tanggul darurat yang dibangun, Ia merasa itu tidak memberikan banyak arti.
“Tidak ada artinya tanggul darurat ini,” kata Alex dengan nada kecewa.
Tanggul yang ada saat ini belum mampu mengatasi ancaman banjir rob dan gelombang laut yang datang silih berganti, meninggalkan kekhawatiran besar bagi warga Kampung Motor Bike
Sementara Kaharudin, juga warga kampung Motor Bike mengaku bahwa, membuat tanggul darurat harus mengeluarkan anggaran pribadi.
Kaharudin menuturkan, “Saya beli kayu dengan harga Rp5.000 per batang, belum biaya orang yang memotongnya. Saya menghabiskan uang sekitar Rp3 juta.”
Jumlah tersebut belum termasuk biaya untuk membeli tanah yang digunakan untuk mengisi bagian daratan yang terkikis oleh abrasi.
“Biaya tanah per ret Rp150 ribu, jumlahnya tujuh ret,” tambah Kaharudin.
Rumah Kaharudin terletak hanya sekitar tiga meter dari bibir pantai, dan ketika musim timur datang, ia merasa rumahnya akan menjadi sasaran pertama amukan gelombang laut.
Selain merusak rumah, banjir juga membuat motor-motor milik warga mudah berkarat.
Untuk memperkuat tanggul darurat, Kaharudin juga membeli 100 ban bekas seharga Rp5 ribu per buah di bengkel.
Dengan bahan seadanya, Ia bersama warga lainnya membangun tanggul darurat, mengikat kayu-kayu yang telah dipasang dengan ban agar lebih kuat dan tidak mudah lapuk.
Beberapa kayu juga dijadikan palang di antara kayu-kayu yang sudah tertancap rapi.
“Kalau tidak dengan cara ini, mungkin sudah kikis sampai ke rumah,” ungkap Kaharudin.
Petugas Sering Mengukur Lokasi
Alex menuturkan dirinya kerap didatangi pegawai untuk melakukan pengukuran. Meski Ia tidak tahu pegawai dari instansi mana yang datang.
Pembangunan tanggul tembok yang diimpikan warga tak kunjung muncul, membuat Alex dan warga lain kecewa.
“Jika dihitung paling kurang mereka sudah tiga kali datang. Bahkan kami sudah sampaikan lewat DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) yang berasal dari dapil ini,” sebut pria kelahiran 1963 itu.
Alex tidak menyebutkan secara gamblang anggota dewan yang dimaksud. Bahkan, katanya, kampungnya itu sering kali menjadi tempat umbaran janji politik dari para politisi setiap kali adakan hajatan kampanye.
“Hampir banyak caleg (calon legislatif) yang datang janji politiknya di sini. Yang janji itu juga sudah terpilih, tapi tidak ada realisasinya,” katanya.
Alex pun berharap agar pemerintah dapat membangun tanggul permanen. Bila tidak masyarakat akan terus dilanda dengan peristiwa yang sama setiap tahun.
Hal yang sama juga dikatakan Kaharudin. Rumahnya akan roboh bila tidak dibangun tanggul permanen.
“Nanti tanah dikikis terus. Begitu juga dengan banjir rob,” ucap Kaharudin.
Lapor ke Pemerintah
Anggota DPRD Kabupaten Manggarai, Aven Mbejak, menyarankan agar warga yang merasa terancam keselamatannya melaporkan hal tersebut kepada pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Hal ini, kata Aven, bertujuan agar pemerintah daerah melalui kecamatan atau kelurahan dapat segera memeriksa kondisi di lokasi.
“Untuk wilayah pesisir pantai, memang kondisinya sudah sangat parah, bahkan beberapa rumah warga, seperti di Ojang, Desa Robek, dan Nanga Na`ek, Desa Paralando, terhantam banjir rob,” jelas Aven, yang merujuk pada beberapa kampung di Kecamatan Reok Barat yang terdampak banjir rob.
Aven menyatakan bahwa jika warga membuat laporan terlebih dahulu, hal itu akan memberikan dasar hukum bagi pemerintah untuk merencanakan langkah-langkah ke depannya.
Pasalnya, untuk tahun 2025, anggaran sudah ditetapkan dalam APBD dan dipastikan tidak ada perubahan. Selain itu, Rencana Kerja Pemerintah Daerah 2026 juga sudah berjalan.
Namun, sebagai anggota dewan, Aven tetap akan menyampaikan hal tersebut melalui sidang paripurna agar menjadi perhatian pemerintah.
Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten (PUPR) Manggarai, Lambertus Paput mengaku pernah mengukur lokasi itu untuk pembangunan tanggul.
“Dua tahun lalu,” kata Paput pada Rabu, (9/4/2025).
Paput beralasan karena efisiensi anggaran sehingga tahun 2025 ini tak ada anggaran untuk pembangunan tanggul di Motor Bike.
“Efisiensi anggaran. Itu belum bisa dibangun," pungkasnya.