• Nusa Tenggara Timur

Ternak Babi yang Mati Mendadak di Kabupaten Kupang Bertambah Jadi 73 Ekor

Imanuel Lodja | Rabu, 25/01/2023 09:25 WIB
 Ternak Babi yang Mati Mendadak di Kabupaten Kupang Bertambah Jadi 73 Ekor Babi beristirahat di kandang peternakan babi di Kabupaten Yiyang, provinsi Henan, Cina tengah. (Foto: AFP)

KATANTT.COM--Ternak babi milik masyarakat Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur yang mati mendadak bertambah menjadi 73 ekor, dari sebelumnya yang hanya berjumlah 48 ekor.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Kabupaten Kupang, Yosep Paulus belum bisa memastikan penyebab kematian puluhan ekor babi tersebut.

Ada enam kecamatan di Kabupaten Kupang yang melaporkan adanya babi mati mendadak. "Kami belum bisa pastikan apakah itu karena ASF (demam babi Afrika) atau hog cholera (kolera babi)," katanya, Rabu (25/1/2023).

Yosep Paulus merinci, enam Kecamatan di wilayah Kabupaten Kupang yang melaporkan kematian babi secara mendadak diantaranya, Kupang Timur (26 ekor), Kupang Tengah (32 ekor), Kupang Barat (3 ekor), Semau (1 ekor), Takari (5 ekor), dan Kecamatan Nekamese (6 ekor). "Angka kematian ternak babi paling banyak itu di Kecamatan Kupang Tengah dan disusul oleh Kecamatan Kupang Timur," ujarnya.

Menurut Yosep Paulus, Dinas Peternakan Kabupaten Kupang telah mengeluarkan imbauan pada 12 Januari 2023, yang meminta para peternak untuk menerapkan biosecurity yang ketat.
"Imbauan dari Dinas Peternakan kami udah edarkan melalui radio kepada seluruh masyarakat Kabupaten Kupang agar waspada dan terapkan biosecurity yang ketat," jelasnya.

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang, Yulius Umbu Hunggar menambahkan, sebanyak 50 ekor telah dikirim ke Kabupaten Flores Timur asal Kabupaten Kupang. Selain itu Kabupaten Sikka juga 50 ekor.

"Ada juga dikirim ke Kabupaten lain dengan total pengadaan dari APBN sebanyak 300 ekor tapi bukan pengadaan dari Bali. Semuanya sudah dilakukan test laboratorium oleh Keswan Oesapa hasilnya negatif plus masa Karantina 14 hari," jelasnya.

Menurut Yulius Umbu Hunggar, jika terjadi wabah di tidak menjadi hal baru karena Kabupaten tersebut pernah mewabah ASF di tahun 2020, yang sempat mereda di tahun 2021dan 2022. Hingga saat ini belum bebas tapi statusnya endemik.

"Bila ada kasus saat ini sifatnya sporadis di Kabupaten tertentu, kecamatan tertentu dan desa tertentu dan kandang tertentu. Bisa terlihat dari jumlah yang mati baru puluhan ekor. Tapi bisa bertambah bila lalu lintas ternak abi dan produknya tidak terjaga baik antar desa, kecamatan dan kabupaten," pungkasnya.

 

 

FOLLOW US