• Nusa Tenggara Timur

Kemarau Landa NTT, Debit Air Bendungan Tilong Turun Drastis

Imanuel Lodja | Minggu, 06/09/2020 12:11 WIB
Kemarau Landa NTT, Debit Air Bendungan Tilong Turun Drastis Debit air Bendungan Tilong di Desa Oelnasi Kecmatan kupang Tengah Kabupaten Kupang turun drastis saat musim kemarau melanda hampir sebagian wilayah NTT.

katantt.com--Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai dilanda musim kemarau dan kekeringan. Kondisi ini mengakibatkan, debit air bendungan Tilong di Desa Oelnasi, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur menyusut drastis.
Juru Bendungan Tilong, Simson Benakepada wartawan, Jumat (4/9/2020) mengatakan, sisa air di bendungan Tilong saat ini kurang lebih 4 juta meter kubik, padahal pada tahun 2019 lalu masih tercatat 5,9 juta meter kubik dari daya tampung 19,7 juta meter kubik.

"Musim-musim begini (kemarau) musim susut. Tahun sebelumnya tidak sampai begini, dua tahun terakhir hujan kurang jadi debit air hanya naik 90 sampai 95 meter saja," ungkapnya.

Menurut Simson, pihaknya telah menutup total pintu air bagi irigasi yang ada di Kabupaten Kupang.
Selain karena debit air yang makin menyusut, juga karena sementara dilakukan penggerukan sedimen di pinggir bendungan.

"Dari pihak Irigasi pakai banyak jadi menyusut sampai 85 meter. Kami tutup total untuk tunggu musim hujan supaya kita tampung lagi. Sekarang sudah ditutup untuk irigasi, hari Senin kemarin sudah ditutup total. Sedimen juga banyak jadi sekarang lagi penggerukan," kata Simon.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi, Apolinaris Samsudin Geru menjelaskan, kondisi iklim terkini di wilayah Nusa Tenggara Timur hingga September mendatang, masih dalam periode musim kemarau sehingga diperlukan kewaspadaan terhadap bencana ancaman kekeringan.

Berdasarkan analisa data hari tanpa hujan hingga akhir Agustus 2020, menunjukkan bahwa pada umumnya Nusa Tenggara Timur mengalami hari kering menengah, yaitu 11 sampai 20 hari hingga ekstrim panjang yang lebih dari 60 hari

"Untuk peluang curah hujan di beberapa daerah akan mengalami turun hujan sangat rendah yakni, kurang dari 20 militer per dasaria dengan peluangnya lebih dari 70 persen, berarti peluang untuk turunnya hujan pada dasaria mendatang sangat kecil. Melihat kondisi diatas maka kami keluarkan peringatan dini kekeringan meteorologi, berdasarkan unsur hujan atau iklim," jelas Apolinaris.

Masih menurut Apolinaris, dampak akibat situasi iklim saat ini adalah, ketersediaan air khususnya bagi pertanian tadah hujan, pengurangan ketersediaan air sehingga terjadinya kelangkaan air bersih yang sudah mulai terjadi di beberapa daerah, serta meningkatnya kebakaran lahan, hutan maupun rumah yang diakibatkan oleh suhu udara tinggi, kelembaban udara rendah dan kecepatan angin relatif kencang.

Berikut 14 Kabupaten di Nusa Tenggara Timur yang telah mengalami kekeringan meteorologis kategori awas adalah, Alor di Kecamatan Kabola, Belu di Kecamatan Atambua Selatan, Kakulukmesak, Kota Atambua, Lasiolat dan Raihat. Kabupaten di Kecamatan Kupang Barat, Kupang Tengah, Sulamu, Kupang Timur dan Taebenu.

Sementara Kota Kupang terjadi di Kecamatan Kelapa Lima, Kota Raja, Maulafa dan Oebobo. Kabupaten Lembata terjadi di Kecamatan Ile Ape, Lebatukan, Wulandoni dan Nubatukan.

Kabupaten Ngada di Kecamatan Selatan Soa, Kabupaten Rote Ndao di Kecamatan Pantai Baru, Rote Barat Daya, Rote Barat Laut dan Rote Timur. Sedangkan Kabupaten Sabu Raijua terjadi di Kecamatan Haumehara dan Sabu Barat, Kabupaten Sikka di Kecamatan Alok, Mego dan Waigete, Sumba Timur di Kecamatan Kanatang, Haharu, Kambera, Pinu Pahar dan Pandawai.

Sementara di Kabupaten Timor Tengah Selatan di Kecamatan Amanuban Selatan, Timor Tengah Utara terjadi di Kecamatan Biboki Utara, Kabupaten Ende di Kecamatan Maurole dan Kabupaten Nagekeo di Kecamatan Aesesa Selatan, selebihnya berstatus siaga dan waspada. (ilo)

FOLLOW US