
Pemerintah Kabupaten Belu dan Pemerintah RDTL mengadakan Informal Meeting dilakukan Aula Gedung PLBN Motaain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Selasa (8/7/2025).
KATANTT.COM---Pemerintah Kabupaten Belu dan Pemerintah RDTL mengadakan Informal Meeting membahas beberapa permasalahan terkait dengan peningkatan ekonomi warga di wilayah perbatasan kedua negara.
Kegiatan menindaklanjuti hasil pertemuan Bupati Belu bersama Menteri Perdagangan dan Industri Timor Leste pekan lalu itu berlangsung
di Aula Gedung PLBN Mota`ain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur wilayah Indonesia, Selasa (8/7/2025).
Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Belu, Wakil Perdana Menteri Timor Leste, Asisten Setda Provinsi NTT, Pimpinan OPD NTT, Pimpinan Forkopimda Belu, OPD Belu, Dansatgas Yonif 741/GN, Delegasi Timor Leste, Agen konsultan Timor Leste, CIQ Timor Leste, CIQ Mota`ain serta tamu undangan lainnya.
Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Gonsalves dalam sambutannya menyampaikan bahwa, kegiatan informal meeting dilakukan guna meningkatkan kerjasama di berbagai bidang untuk kemajuan bersama dua negara.
Dijelaskan bahwa, langkah-langkah kebijakan yang diambil Pemerintah Indonesia dan Pemerintah RDTL selama ini sudah membuka jalan untuk kita lebih tajam melihat peluang baru yang akan mendongkrak
kerjasama antara dia negara dengan fasilitas pendukung yang telah disiapkan.
"Untuk itu, momen pertemuan ini mari kita jadikan momen diskusi terbuka untuk mengevaluasi dan mempertajam program-program kerjasama di bidang perdagangan, sosial, budaya dan kegiatan silaturahmi lainnya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan perbatasan dua negara sekaligus mempererat tali persaudaraan yang sudah terjalin sejak dulu," ajak Vicente.
Lanjut dia, melalui rapat informal meeting ini diharapkan perhatian yang lebih tinggi dari Pemerintah Pusat dan juga Pemerintah Provinsi NTT untuk membuat konsep gebrakan-gebrakan untuk mempercepat dan memperkuat pertumbuhan ekonomi di perbatasan.
Selain itu juga untuk memperkokoh dan tetap melestarikan nilai-nilai sosial budaya yang telah tumbudan menyatu dengan masyarakat perbatasan dua negara.
"Persaudaraan tidak ada batas, budaya tidak ada batas. Kita adalah saudara, hari ini saya orang Belu tapi kelahiran Timor Leste. Hari ini kita bersama untuk memikirkan bagaimana tingkatkan pertumbuhan ekonomi warga di sekitar garis perbatasan kedua negara sehingga mereka sejahtera dan ini harapan kita bersama," tambah Vicente.
Dia berharap, semoga pertemuan hari ini akan menghasilkan konsep-konsep kesepakatan bersama yang akan menguntungkan pertumbuhan ekonomi perbatasan kedua negara kita dan mempererat tali persaudaraan sehingga dengan kestabilan perekonomian dan kehidupan di bidang yang lain, akan membawa dampak kesejahteraan hidup warga perbatasan di dua negara yang menjadi damabaan kita semua.
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Timor Leste, Mariano Assanami Sabino menyambut baik kegiatan informal meeting dalam membahas berbagai bidang di perbatasan Indonesia-Timor Leste demi kesejahteraan ekonomi warga dua negara.
Menurut dia, Timor Barat (Indonesia) dan Timor Leste satu pulau yang dipisahkan oleh administrasi Negara. Oleh karena itu, perbatasan ini dengan prinsip adalah persaudaraan dan persahabatan. Tapi tidak saja selesai dengan prinsip itu, kita juga harus bagaimana berupaya ada pertumbuhan ekonomi warga di garis perbatasan.
"Jadi kita tidak mau di batas ini ada ketidaknyamanan warga. Ada warga merasa yang rugi dibatasi, tapi kita mau bangun batas ini jadi batas persaudaraan, persahabatan dan rekonsiliasi," ujar Assanami.
Menurut dia, di sepanjang wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste secara kultural kita saudara, banyak juga masih banyak kesamaan suku, keluarga dan karena konflik di Timor Leste sebagian warga memilih untuk tinggal menetap di wilayah Indonesia.
"Jadi prinsip kita bagaimana kita mengelola politik nyaman, secara baik, lebih teraturdan lebih berwibawa juga menjunjung tinggi kewibawaan warga dan dikelola secara harkat dan martabat manusia sebagai saudara," ujar Assanami.
Lanjut dia, mewakili Perdana Menteri kami sangat berharap bahwa di batas Indonesia-Timor Leste, agar lintas sektor di perbatasan kedua negara terus melakukan koordinasi, manajemen, hubungan, menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan juga kita harap akan ada pertumbuhan ekonomi warga di sepanjang garis perbatasan.
Adapaun, permasalahan yang dibahas bersama Delegasi Timor Leste yakni, pengaturan waktu operasional PLBN Mota`ain diperpanjang jam operasionalnya. Perlakuan khusus bagi Ambulans Darurat, diusulkan adanya jalur prioritas atau mekanisme khusus untuk ambulans dari RDTL agar dapat melintas tanpa hambatan.
Kemudian, beberapa pasar di perbatasan Turiskain, Kecamatan Raihat dan Henes, Kecamatan Lamaknen Selatan agar diaktifkan kembali kegiatannya.
Selain itu, diusulkan agar Tour the Timor menjadi agenda rutin bersama yang dapat bersinergi dengan Festival Musim Dingin (FF) di Juni 2026. Kegiatan Informal meeting bisa dilakukan 3 bulan sekali dengan lokasi yang bergantian (Minta pemerintah rdtl mengundang delegasi indonesia untuk meeting ke Dili).
Perlu kemudahan-kemudahan lainnya yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak misalnya ada Pasar Malam Bersama di waktu tertentu dengan venue sekitaran PLBN Timor Leate untuk menarik minat pengunjung di akhir pecan, disediakan pusat kuliner bersama sebagai pilihan bagi pengunjung yang ingin merasakan pengalaman kuliner khas
Timor Leste begitupun sebaliknya.