• Nusa Tenggara Timur

Pascagempa, Bupati Manggarai Salurkan Bantuan RKD, Mutu Pendidikan Tak Boleh Turun

Wilibrodus Jatam | Rabu, 14/10/2026 12:30 WIB
Pascagempa, Bupati Manggarai Salurkan Bantuan RKD, Mutu Pendidikan Tak Boleh Turun Bupati Manggarai, Herybertus G. L. Nabit, menyerahkan secara simbolis bantuan material Ruang Kelas Darurat (RKD) berupa seng dan paku kepada pihak SMPN 4 Langke Rembong.

KATANTT.COM---Pemerintah Kabupaten Manggarai mulai menyalurkan bantuan material pembangunan Ruang Kelas Darurat (RKD) bagi sekolah-sekolah yang terdampak gempa bumi. Bantuan ini menjadi langkah penting untuk memastikan kegiatan belajar-mengajar tetap berlangsung di tengah upaya pemulihan fasilitas pendidikan pascabencana.

Bupati Manggarai, Herybertus G. L. Nabit, menyerahkan bantuan material RKD di SMP Negeri 4 Langke Rembong, Rabu (14/10/2026). Bantuan tersebut merupakan bagian dari program pemerintah daerah untuk mendukung pembangunan 220 ruang kelas darurat pada 130 sekolah terdampak gempa.

Bantuan itu mencakup pengadaan seng, paku, dan stimulan pembangunan agar sekolah memiliki ruang belajar sementara yang lebih layak, aman, dan nyaman, terutama menjelang musim hujan.

Di hadapan para guru, Bupati Hery menegaskan, kondisi darurat pascagempa tidak boleh menghilangkan hak anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang layak. Meski proses pemulihan belum sepenuhnya selesai, mutu pendidikan harus tetap menjadi perhatian bersama.

"Target peningkatan mutu pendidikan tidak boleh berkurang. Karena itu, saya minta para guru menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada, agar anak-anak tetap bisa belajar dan terus berkembang," tegasnya.

Menurut Bupati Hery, penggunaan tenda terpal sebagai tempat belajar sementara memiliki keterbatasan, terlebih ketika memasuki musim hujan. Karena itu, pembangunan ruang kelas darurat beratap seng diharapkan memberikan kondisi belajar yang lebih memadai sambil menunggu rehabilitasi dan revitalisasi bangunan sekolah.

Ia juga mengingatkan bahwa pemulihan pascagempa bukan hanya menyangkut bangunan fisik, tetapi juga kondisi psikologis guru dan peserta didik yang masih dibayangi rasa takut akibat bencana.

"Saya tahu kita semua belum pulih sepenuhnya. Masih ada ketakutan dan kecemasan. Tetapi, kita harus saling menguatkan agar anak-anak juga bisa kembali pulih," ujarnya.

Bupati Hery meminta para guru tetap menunjukkan ketegaran dan menjadi sumber kekuatan bagi peserta didik. Menurutnya, ketenangan dan kesiapan orang dewasa sangat penting untuk membantu anak-anak mengatasi trauma dan kembali menjalani aktivitas sekolah.

Selain itu, ia meminta sekolah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan melalui edukasi dan latihan sederhana sebelum pembelajaran dimulai.

"Saya minta guru-guru tetap meningkatkan kewaspadaan anak-anak. Lakukan peringatan dan latihan kecil secara rutin, supaya mereka tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempa," katanya.

Ia berharap pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana yang diperoleh anak-anak di sekolah juga dapat dibagikan kepada keluarga di rumah. Dengan demikian, pendidikan kebencanaan tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi menjadi bagian dari upaya melindungi masyarakat.

SMPN 4 Langke Rembong Butuh Dua Ruang Kelas Darurat

Kepala SMP Negeri 4 Langke Rembong, Damianus Labur, menjelaskan bahwa gempa bumi yang terjadi pada 15 Agustus 2026 menyebabkan kerusakan pada sejumlah bagian bangunan sekolahnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tim teknis Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), dua ruang kelas, yakni kelas VIII A dan VIII B, dinyatakan tidak layak digunakan karena mengalami kerusakan berat. Sementara itu, 19 ruang kelas lainnya masih dapat digunakan sesuai hasil pemeriksaan tersebut.

Kondisi ini memaksa pihak sekolah menyesuaikan pola pembelajaran agar seluruh peserta didik tetap memperoleh layanan pendidikan di tengah keterbatasan ruang.

"Dari 21 ruang kelas yang kami miliki, dua ruang kelas dinyatakan tidak boleh digunakan karena berisiko. Dengan adanya bantuan ruang kelas darurat, kebutuhan mendesak sekolah kami bisa terjawab," jelas Damianus.

Ia mengatakan, setelah gempa, sekolah menerapkan sistem sif atau pergiliran waktu belajar. Peserta didik kelas VII, VIII, dan IX harus menyesuaikan jadwal pembelajaran, sementara jumlah siswa dalam setiap sif juga dibatasi.

Jika sebelumnya satu kelas dapat menampung sekitar 30 peserta didik dalam satu waktu, dalam sistem darurat jumlahnya dibatasi menjadi sekitar 15 orang per sif.

Perubahan tersebut tidak hanya memengaruhi jadwal belajar, tetapi juga membatasi penggunaan media pembelajaran yang selama ini biasa dimanfaatkan guru, termasuk proyektor dan perangkat pendukung lainnya.

"Pembelajaran di ruang darurat tentu berbeda dengan di kelas biasa. Media pembelajaran terbatas, sementara anak-anak juga masih berhadapan dengan trauma pascagempa," ungkapnya.

Damianus menilai kenyamanan belajar di ruang darurat belum sepenuhnya setara dengan ruang kelas permanen. Secara fisik, ruang sementara dapat membantu memenuhi kebutuhan pembelajaran, tetapi kondisi psikologis peserta didik tetap membutuhkan perhatian.

Ia juga mengakui tingkat kehadiran siswa sempat mengalami perubahan setelah gempa, terutama ketika sekolah masih menerapkan sistem sif dan anak-anak masih diliputi ketakutan. Namun, seiring berlangsungnya kembali kegiatan belajar-mengajar, kehadiran peserta didik mulai membaik.

Untuk tahap awal, Pemerintah Kabupaten Manggarai menyiapkan bantuan bagi 130 sekolah, terdiri atas 23 PAUD/TKK, 96 SD, dan 21 SMP, dengan total 220 ruang kelas darurat.

Program tersebut didukung anggaran dari pemerintah pusat. Bantuan material utama berupa seng dan paku diharapkan dapat mempercepat pembangunan ruang belajar sementara, sedangkan kebutuhan material pendukung seperti kayu, bambu, tali, serta bahan penutup bagian samping bangunan diupayakan melalui swadaya orang tua murid dan dukungan masyarakat.

Bupati Hery menjelaskan, bantuan tersebut melengkapi penyediaan ruang kelas darurat berupa tenda dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Setiap sekolah dapat memanfaatkan bantuan sesuai kebutuhan dan tingkat kerusakan bangunan.

Di SMPN 4 Langke Rembong, Damianus menyampaikan bahwa bantuan yang diterima telah membantu menjawab kebutuhan mendesak sekolah. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan komite sekolah untuk menyiapkan kebutuhan pendukung, termasuk biaya tenaga kerja yang tidak tercakup dalam bantuan material.

“Kami berterima kasih kepada pemerintah karena sudah melihat kondisi sekolah kami. Bantuan ini sangat berarti untuk memastikan anak-anak tetap bisa belajar,” katanya.

Ia berharap pembangunan ruang kelas darurat segera diselesaikan agar peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dengan lebih nyaman dan teratur.

Pemerintah Kabupaten Manggarai menargetkan penyediaan ruang kelas darurat menjadi solusi sementara selama masa pemulihan pascagempa, sekaligus menjaga agar proses pendidikan tidak terhenti hingga bangunan sekolah yang rusak dapat diperbaiki atau dibangun kembali.

Di tengah keterbatasan dan trauma yang masih dirasakan, upaya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk memastikan anak-anak Manggarai tetap memiliki ruang untuk belajar, bertumbuh, dan menatap masa depan.

FOLLOW US