Pemkab Belu dan CD Bethesda YAKKUM Evaluasi RAD HIV/AIDS

Yansen Bau | Selasa, 21/10/2025 08:00 WIB

KATANTT.COM---Pemerintah Daerah Belu bersama UPKM/CD Bethesda YAKKUM menggelar evaluasi pelaksanaan Peraturan Bupati Nomor 5 Tahun 2023 tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS Tahun 2022-2026. Pemkab Belu dan Bethesda YAKKUM gelar evaluasi RAD HIV/AIDS.

KATANTT.COM---Pemerintah Daerah Belu bersama UPKM/CD Bethesda YAKKUM menggelar evaluasi pelaksanaan Peraturan Bupati Nomor 5 Tahun 2023 tentang Rencana Aksi Daerah (RAD) Pencegahan dan Penanggulangan HIV dan AIDS Tahun 2022-2026.

Kegiatan dihadiri pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, camat, lurah/kepala desa, dan undangan lainnya berlangsung di Aula BP4D Kabupaten Belu perbatasan RI-RDTL, Senin (20/10/2025).

Koordinator CD Bethesda YAKKUM Wilayah Belu, Almada Lasi menyampaikan, evaluasi ini menjadi momentum untuk melihat sejauh mana pelaksanaan program pengendalian HIV/AIDS di tingkat OPD dan masyarakat berjalan efektif.

Menurut dia, setiap OPD didorong untuk mengintegrasikan program pencegahan dan edukasi HIV/AIDS dalam kegiatan rutin masing-masing, tanpa harus menunggu program atau anggaran khusus.

Baca juga :

“Kami ingin memastikan setiap instansi, mulai dari ASN hingga tenaga keamanan dan kebersihan, ikut terlibat dalam edukasi HIV/AIDS di lingkungannya. Jadi, pengendalian ini harus dimulai dari internal instansi pemerintah juga,” ujar dia.

Lebih lanjut Almada juga menjelaskan hingga saat ini tercatat 105 Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kabupaten Belu telah terbuka dan bergabung dalam komunitas dampingan Bethesda YAKKUM.

"Dari jumlah tersebut, sekitar 90 orang sudah aktif dalam Komunitas Sebaya Binaan Bethesda dan sekitar 30 orang menjadi edukator di tingkat desa untuk membantu sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat," terang dia.

Kaitan, Almada menyampaikan apresiasi keberanian teman-teman ODHIV yang sudah terbuka dan ikut menjadi bagian dari edukasi masyarakat.

"Ini langkah besar dalam menghapus stigma dan diskriminasi,” ucap dia.

Tambah Almada, program pendampingan Bethesda YAKKUM kini memasuki periode baru, yakni Juli 2025 hingga Juni 2028, dengan fokus pada empat kecamatan di wilayah perbatasan.

"Wilayah itu dipilih bukan karena tingginya kasus, tetapi karena tergolong daerah rentan penularan akibat mobilitas penduduk dan aktivitas lintas negara," kata dia.

Diketahui, berdasarkan data komulatif dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT jumlah kasus HIV AIDS ada 8.875 kasus. Dari 8.875 kasus yang on ART berjumlah 2.919, ODHIV dalam perawatan berjumlah 4.564, ODHIV yang rujuk keluar berjumlah 682 dan ODHIV yang meninggal berjumlah 1.352 kasus.

Dari jumlah kasus tersebut di NTT, Kabupaten Belu berada pada urutan kedua tertinggi angka kasus dan juga kematian setelah Kota Kupang (data dinas kesehatan provinsi NTT, Oktober 2025).

Sedangkan khusus untuk Kabupaten Belu data dari Dinas Kesehatan Kabupaten menunjukan bahwa total ODHIV yang ditemukan dari tahun 2010-2024 adalah sebanyak 797 kasus dan ditamba kasus baru pada tahun 2025 sejak januari-september 2025 ada 44 kasus sehingga total kasus komulatif sebanyak 841 kasus.

Namun sesuai data riil yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Belu yang sementara ada dan dijangkau oleh layanan di tahun 2025 ini jumlah kasus 422 kasus, dengan rincian aktif ARV 385 kasus dan LFU 37 kasus.

Sebelumnya, Bupati Belu Willy Lay menegaskan pentingnya sinergi seluruh elemen pemerintahan dalam melakukan sosialisasi dan edukasi terkait HIV/AIDS, terutama di wilayah-wilayah perbatasan yang memiliki potensi kerentanan lebih tinggi terhadap penyebaran penyakit tersebut.

“Saya minta para camat bersama OPD terkait terus melakukan sosialisasi secara berkelanjutan agar penyebaran HIV/AIDS tidak semakin meningkat. Saat ini tercatat ada sekitar 800 kasus di Kabupaten Belu. Jika tidak kita kendalikan, dua tahun ke depan bisa saja jumlahnya berlipat,” ucap dia.

Willy mengatakan, Pemerintah daerah mendukung penuh kerja sama dengan UPKM/CD Bethesda YAKKUM sebagai mitra strategis dalam upaya menekan angka penularan HIV/AIDS di wilayah perbatasan.

“Program ini sangat mulia karena bertujuan menyelamatkan umat manusia. HIV/AIDS memang belum bisa disembuhkan, tetapi bisa dikendalikan dengan pengobatan rutin. Karena itu, kita harus mendampingi dan memberi pemahaman kepada masyarakat agar tidak ada stigma atau rasa minder terhadap penderita,” tandas dia.

Lebih lanjut Willy Lay juga meminta para camat dan kepala desa untuk berperan aktif dalam memantau kondisi masyarakat di wilayah masing-masing serta memberikan dukungan moral kepada warga yang hidup dengan HIV/AIDS.

TAGS : Pemkab Belu CD Bethesda YAKKUM Evaluasi RAD HIV/AIDS