KATANTT.COM---Derap langkah puluhan anak muda terdengar di tengah heningnya hutan Kampung Lale, Desa Wewo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai. Mereka tidak sekadar berkunjung, melainkan hadir dengan penuh semangat.
Pada Jumat (5/9/2025), Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santu Arnoldus Janssen Ponggeok bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Katolik (Unika) Santu Paulus Ruteng serta peserta didik SMPK Sinar Ponggeok berkumpul di sumber kehidupan, yakni mata air Gendang Lale.
Di bawah rimbun pepohonan dan gemericik air yang mengalir jernih, mereka menggelar Katekese Ekologis. Sebuah perayaan iman sederhana namun sarat makna: merenungkan panggilan manusia sebagai penjaga ciptaan, merawat air sebagai rahmat sekaligus sumber hidup bersama.
Air: Simbol Rahmat dan Kehidupan
Dalam katekese itu, para narasumber menegaskan bahwa air tidak hanya sebatas kebutuhan biologis, tetapi juga simbol kasih Allah yang harus dijaga dengan tanggung jawab. Doa bersama di tepian mata air menjadi puncak ritual, seolah ingin meneguhkan komitmen iman: melindungi alam berarti melindungi masa depan.
Pastor Paroki Ponggeok, RD. Yohanes Mustram, dalam arahannya menekankan peran Gereja dalam menjaga ekologi.
"
Air adalah sumber kehidupan yang dianugerahkan Allah. Kita dipanggil bukan hanya untuk memanfaatkannya, tetapi juga menjaganya demi generasi mendatang. Katekese ekologis ini adalah bentuk nyata kepedulian kita terhadap rumah bersama," tegasnya.
Bagi kaum muda Ponggeok, kegiatan ini lebih dari sekadar seremoni. Ketua Koordinator OMK, Paulus Sanrisius Kunang, menegaskan bahwa kepedulian ekologis harus lahir dari iman yang hidup.
"Kami ingin menegaskan bahwa merawat alam adalah bagian dari iman. Melestarikan mata air berarti melestarikan kehidupan. Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti di sini, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan di masyarakat," ujarnya penuh semangat.
Lintas Generasi, Satu Komitmen
Kehadiran para suster Kompasionis, frater, umat, mahasiswa, hingga pelajar menjadi tanda nyata bahwa kepedulian ekologis tidak mengenal batas usia. Di mata air Gendang Lale, generasi muda dan tua menyatu dalam satu komitmen: menjaga warisan bumi yang rapuh, tetapi berharga.
Kegiatan ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan inspirasi untuk komunitas lain di Manggarai bahkan lebih luas. Sebab, menjaga ciptaan bukan pilihan, melainkan panggilan iman.