Fansi Jahang : Dari Jurnalis ke Panggung Birokrasi, Menyudahi Pengabdian dengan Hormat

Wilibrodus Jatam | Jum'at, 01/08/2025 20:02 WIB

KATANTT.COM---Ruteng, Manggarai, pada Jumat sore (1/8/2025), cahaya matahari senja yang menyusup lewat jendela kaca Aula Ranaka, Kantor Bupati Manggarai, seolah ikut menyaksikan momen mengharukan: sebuah perpisahan, bukan karena perbedaan, tetapi karena usia pengabdian yang telah genap. Di hadapan para kolega, pimpinan daerah, dan para ASN, Drs.Jahang Fansi Aldus, Sekretaris Daerah (Sekda) Manggarai periode 2020–2025, resmi menanggalkan tugas dan jabatannya. Ia memasuki masa purna bakti, dengan senyum tenang, seolah berkata: Acara Lepas Pisah Sekda Manggarai Periode 2020-2025, Drs.Jahang Fansi Aldus
KATANTT.COM---Ruteng, Manggarai, pada Jumat sore (1/8/2025), cahaya matahari senja yang menyusup lewat jendela kaca Aula Ranaka, Kantor Bupati Manggarai, seolah ikut menyaksikan momen mengharukan: sebuah perpisahan, bukan karena perbedaan, tetapi karena usia pengabdian yang telah genap. Di hadapan para kolega, pimpinan daerah, dan para ASN, Drs.Jahang Fansi Aldus, Sekretaris Daerah (Sekda) Manggarai periode 2020–2025, resmi menanggalkan tugas dan jabatannya. Ia memasuki masa purna bakti, dengan senyum tenang, seolah berkata: "Tugas saya sudah selesai."
 
Namun, kisah Fansi tak dimulai dari ruang rapat atau meja birokrat. Ia dimulai dari lembaran kertas, mesin ketik, dan ruang redaksi sederhana.
 
Tiga Tahun yang Mengubah Cara Pandang
 
Tahun 1986, ketika banyak pemuda berlomba-lomba mencari karier aman, Fansi justru memilih jalur yang tak pasti: menjadi jurnalis. Ia terjun ke dunia pemberitaan, berkeliling kampung, berbincang dengan warga, mencatat dinamika sosial yang kadang tak terlihat oleh pemerintah.
 
"Tiga tahun itu bukan sekadar pekerjaan. Itu adalah sekolah kehidupan," ujar Fansi saat ditemui usai acara. "Jurnalistik mengajarkan saya mendengar sebelum berbicara, dan mengerti sebelum memberi solusi."
 
Selama 1986–1988, Fansi meliput berbagai isu lokal—dari masalah pertanian, kesehatan masyarakat, hingga dinamika politik daerah. Ia belajar memahami denyut nadi masyarakat, bukan dari balik meja, melainkan dari pematang sawah, emper toko, dan ruang-ruang sederhana tempat warga mengadukan keluh kesahnya.
 
Dari Jurnalis ke Birokrat
 
Tahun 1989, Fansi membuat lompatan karier: diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Langkah ini bukan karena ia ingin meninggalkan dunia jurnalistik, melainkan karena ia ingin masuk lebih dalam ke sistem yang selama ini hanya bisa ia kritik dari luar. Baginya, menjadi ASN bukan sekadar pekerjaan, tapi saluran untuk mewujudkan perubahan yang dulu hanya bisa ia tulis dalam artikel.
 
Selama 36 tahun, Fansi menapaki jenjang birokrasi dengan telaten. Ia bukan tipe pejabat yang mencari sorotan. Justru, ia dikenal sebagai pemimpin yang lebih suka bekerja di balik layar, memastikan mesin birokrasi berjalan tanpa macet. Dari satu posisi ke posisi lain, hingga akhirnya pada tahun 2020, ia dipercaya menjadi Sekretaris Daerah.
 
Sebagai Sekda, ia memainkan peran vital: menghubungkan visi kepala daerah dengan realitas lapangan, menyelaraskan roda pemerintahan dengan aspirasi rakyat. Di balik wajah yang tenang dan tutur yang lembut, Fansi menyimpan energi besar untuk membenahi sistem pemerintahan daerah.
 
Pemimpin yang Tak Banyak Bicara, Tapi Didengar
 
Bupati Manggarai, Herybertus G.L. Nabit, dalam sambutannya menyebut Fansi sebagai “pijakan tenang dalam badai”. “Pak Sekda adalah orang yang bisa kita andalkan saat keputusan harus diambil cepat, tapi tetap presisi. Ia bukan sekadar teknokrat, tapi negarawan dalam skala lokal,” ujar Bupati Hery.
 
Bagi banyak ASN muda, Fansi bukan hanya pimpinan, tapi pembimbing. Ia dikenal murah senyum, namun tegas saat berbicara soal etika kerja dan pelayanan publik.
 
“Beliau selalu bilang, ‘Kalau mau jadi birokrat, jangan alergi kritik. Kritik itu bahan bakar untuk kerja lebih baik’” kata Bupati Hery.
 
Purnabakti yang Penuh Makna
 
Saat maju ke panggung untuk menyampaikan pidato perpisahan, Fansi tidak membawa beberapa lembar tisu. Ia hanya mengenakan baju batik berwarna merah.
 
“Saya bersyukur pernah menjadi jurnalis. Bersyukur juga menjadi ASN. Tapi yang paling saya syukuri adalah, saya bisa tetap menjadi diri saya sendiri dalam dua dunia itu,” ucapnya dengan suara sedikit lembut.
 
Ia mengakhiri pidatonya dengan kalimat sederhana, namun mengena: “Tak semua cerita harus panjang untuk bermakna. Cukup tulus, maka ia akan dikenang.”
 
Warisan yang Ditinggalkan
 
Fansi meninggalkan jabatan, tapi tidak meninggalkan pengaruh. Ia meninggalkan warisan kerja: sistem pemerintahan yang lebih efisien, pelayanan publik yang lebih responsif, dan mungkin yang paling penting generasi birokrat muda yang percaya bahwa integritas masih mungkin dijaga.
 
Di akhir acara, derai tawa dan air mata saling bersahutan. Lagu perpisahan dinyanyikan, bukan dengan nada sedih, melainkan sebagai penghormatan atas pengabdian seorang pria sederhana yang pernah menulis berita, dan kemudian menjadi bagian dari cerita besar pembangunan Manggarai.
 
 
TAGS : Fansi Jahang Panggung Birokrasi