KATANTT.COM---Tiga janda lansia di Dusun Namut, Desa Compang Namut, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, meluapkan kekecewaan mendalam. Mereka menduga bantuan beras dari pemerintah desa tidak tepat sasaran, justru dinikmati oleh warga mampu bahkan pengusaha, sementara mereka yang membutuhkan justru terpinggirkan.
Ketiga lansia tersebut, Anastasia Lit (58), Monika Baut (77), dan Yuliana Jiman (68), menduga adanya praktik "tebang pilih" dalam penyaluran bantuan. Kepada awak media pada Rabu (30/7/2025), mereka mengungkapkan rasa frustrasi atas kebijakan pemerintah desa yang dinilai abai terhadap warga yang benar-benar memerlukan uluran tangan.
Bertahun-tahun Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah Desa
Anastasia Lit, seorang janda yang telah puluhan tahun ditinggal suaminya, mengaku belum pernah sekalipun menerima bantuan dari pemerintah desa. Lebih memilukan lagi, ketika rumahnya dilanda musibah kebakaran pada tahun 2018, ia juga tidak mendapatkan bantuan.
"Saya sudah ditinggal suami puluhan tahun lalu, tapi tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah desa," ungkap Anastasia dengan nada kecewa. "Waktu rumah saya kebakaran di tahun 2018 pun tidak ada bantuan dari desa."
Pada Senin, 28 Juli 2025, Anastasia bahkan mendatangi kantor Desa Compang Namut untuk memprotes pembagian bantuan beras. Ia merasa sangat berhak mendapatkannya, namun justru melihat sebagian besar bantuan diterima oleh keluarga dengan ekonomi mapan, bahkan pengusaha.
"Bahkan, sebagian keluarga aparat desa pun menerima bantuan itu meskipun ekonomi mereka sudah mapan," tuding Anastasia.
Kepala Desa Compang Namut sempat menjelaskan kepadanya bahwa data penerima bantuan beras merupakan data otomatis dari pusat. Namun, Anastasia berpendapat, seharusnya data di pusat berdasarkan pengajuan awal dari desa.
Lansia Penyandang Disabilitas juga Diabaikan
Kekecewaan serupa diungkapkan oleh Monika Naut (77). Kondisinya sebagai lansia, janda, dan penyandang disabilitas, ironisnya, tidak diperhitungkan dalam daftar penerima bantuan beras.
"Saya yang sudah lansia, janda, dan cacat fisik, tidak diperhitungkan dalam bantuan beras ini," keluh Monika.
Dengan kondisi fisiknya yang terbatas, Monika juga harus menghidupi beberapa cucunya. Ia berharap pemerintah desa lebih memperhatikan masyarakat dengan kondisi seperti dirinya, namun ia merasa diabaikan.
Protes di Media Sosial Berujung Pemanggilan dan Permintaan Maaf
Sementara itu, Yuliana Jiman (68), yang juga berstatus janda, turut mengungkapkan bahwa penyaluran bantuan beras di Desa Compang Namut jauh dari kata tepat sasaran.
Karena kekecewaan mendalam atas kebijakan pemerintah desa yang dinilainya tidak adil, Yuliana meminta anaknya untuk mengunggah protes di akun Facebook.
Namun, tindakan ini justru berbuah aneh. Pemerintah desa malah melayangkan surat panggilan kepada anaknya terkait unggahan tersebut, dengan dalih pencemaran nama baik.
Yuliana mengatakan, pada Rabu (30/7/2025), anaknya terpaksa menghadap ke kantor desa untuk diinterogasi dan meminta maaf kepada pemerintah Desa Compang Namut.
Klarifikasi dan Permohonan Maaf dari Pengunggah
Dalam surat klarifikasi dan permintaan maaf yang tersebar di akun Facebook milik Kaka Wong, seorang bernama Alfonsius Gandur menyampaikan permohonan maaf kepada Kepala Desa beserta Aparat Pemerintah Desa Compang Namut.
Isi surat tersebut menjelaskan bahwa Alfonsius Gandur menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf atas "berita bohong" yang disebarkannya di Facebook mengenai bantuan sosial berupa Bantuan Beras Premium dari Dinas Pertanian yang disalurkan oleh Pemerintah Desa Compang Namut.
Ia menyatakan bahwa berita tersebut tidak benar (tidak valid) dan meminta maaf atas kerugian yang ditimbulkan bagi Pemerintah Desa Compang Namut dan masyarakat.
Surat ini ditutup dengan permohonan maaf dan harapan agar masyarakat Compang Namut dapat memaafkan perbuatannya dan ia berjanji untuk tetap menjadi bagian dari masyarakat desa yang baik dan bertanggung jawab.
Surat ini dibuat dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, dan ditandatangani oleh Alfonsius Gandur dengan stempel resmi dari Desa Compang Namut.
Penjelasan Kepala Desa Compang Namut
Terpisah, Kepala Desa Compang Namut, Siprianus Pasang, kepada media ini melalui pesan aplikasi WhatsApp membantah penyampaian informasi tentang tujuan penerima manfaat bantuan beras tersebut.
"Terus terang, Pak, ini beras bantuan pangan bukan untuk janda lansia atau disabilitas. Mereka kirim undangan lewat kantor camat, terus kami terima undangan itu, jumlah 216. Nah, pas mereka dari Bulog turun, berasnya sesuai dengan jumlah undangan," jelasnya.
Terkait permintaan maaf warganya, Kades Compang Namut mengatakan hal itu lumrah terjadi karena manusia pasti pernah berbuat salah.
"Pak. Namanya juga manusia, pasti pernah salah. Bapak tadi sudah minta maaf, dan saya dengan senang hati menerimanya," pungkasnya.